
DALAM wawancara mendalam bersama Scott Horton pada 19 Maret 2026, mantan perwira 75th Rangers dan eks pejabat CIA Special Activities Center Joe Kent membedah realitas kompleks di balik ketegangan Amerika Serikat dengan Iran. Mantan perwira operasi khusus yang pada 17 Maret mengundurkan diri dari jabatannya di pusat penanggulangan terorisme itu mengungkapkan alasan mendalam di balik keputusannya itu.
Kent menegaskan bahwa keberatannya didasari oleh prinsip terhadap arah kebijakan Amerika Serikat yang dinilai terlalu disetir oleh agenda luar negeri Israel, khususnya terkait eskalasi konflik dengan Iran. Kent, yang pernah menjabat sebagai kepala di National Counterterrorism Center (NCTC), menyatakan bahwa keputusan AS untuk meluncurkan serangan terhadap Iran sering kali merupakan reaksi terhadap garis waktu (timeline) yang ditentukan oleh Israel, bukan berdasarkan kepentingan nasional murni Amerika Serikat.
Ekosistem di Sekitar Trump
Menurut Kent, terdapat ekosistem yang sengaja dibentuk di sekitar Presiden Trump untuk membatasi ruang pengambilan keputusannya. Ekosistem ini melibatkan tokoh media, lembaga pemikir (think tanks), serta pejabat tinggi Israel.
“Israel menggunakan saluran resmi dan tidak resmi untuk menciptakan ‘garis merah buatan’ terkait pengayaan uranium Iran. Hal ini mencuci kebijakan resmi AS dan menghilangkan ruang negosiasi bagi Presiden Trump,” ujar Kent.
Ia menambahkan bahwa meskipun Trump dikenal sebagai negosiator ulung, informasi akurat sering kali tidak sampai ke meja presiden karena dominasi narasi yang mendorong perubahan rezim (regime change) di Teheran melalui kekuatan militer AS.
Lobi Israel dan Sejarah Perang Timur Tengah
Dalam perspektif historisnya, Kent juga menyoroti peran lobi Israel dalam mendorong AS ke dalam Perang Irak tahun 2003 dan konflik di Suriah. Ia menyebut Benjamin Netanyahu, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Keuangan Israel, sangat aktif berkampanye di Amerika untuk menggulingkan Saddam Hussein dengan klaim senjata pemusnah massal.
Kent berargumen bahwa strategi tersebut sering kali menjadi bumerang bagi kepentingan AS. Sebagai contoh, penggulingan Saddam Hussein justru membuka jalan bagi pengaruh Iran di Irak melalui kelompok mayoritas Syiah. Ini kemudian menciptakan jembatan darat dari Teheran ke Suriah dan Libanon.
Baca juga: Joe Kent AS dan Israel Bentuk ISIS Gulingkan Bashar Assad di Suriah
Reassessment Hubungan AS-Israel
Sebagai veteran yang dikirim 11 kali ke medan perang, Kent menyerukan agar rakyat Amerika melakukan refleksi mendalam mengenai kepentingan keamanan nasional yang vital di Timur Tengah. Ia mempertanyakan apakah hubungan dengan pemerintah Israel yang saat ini dinilainya sangat agresif masih sepadan dengan risiko perang besar yang mungkin dihadapi AS.
Kent menekankan pentingnya off-ramp atau jalur keluar melalui negosiasi organik daripada memaksakan perubahan rezim dari luar yang justru memicu sentimen nasionalisme rakyat Iran untuk bersatu di belakang pemimpin mereka.
| Poin Utama Keberatan Joe Kent |
|---|
| Kebijakan luar negeri AS disetir oleh agenda dan timeline Israel. |
| Manipulasi informasi terkait program nuklir Iran untuk menutup ruang negosiasi. |
| Kegagalan AS dalam mengidentifikasi kepentingan nasional yang murni di Timur Tengah. |
| Risiko pengulangan kesalahan sejarah seperti pada Perang Irak dan Suriah. |
Hingga saat ini, pernyataan Kent menjadi sorotan tajam di tengah dinamika politik Washington, terutama bagi mereka yang menginginkan pendekatan kebijakan luar negeri America First yang lebih pragmatis dan terkendali.
Baca juga: Dokumen Epstein Soroti ISIS dan Al-Qaeda terkait AS-Israel
Manipulasi Angka sebagai Propaganda Perang
Kent pun menyoroti narasi publik sering kali dimanipulasi untuk memicu dukungan terhadap intervensi militer. Ia menyatakan skeptisismenya terhadap angka korban protes di Iran yang sering dikutip media Barat, yang berkisar antara 30.000 hingga 50.000 jiwa. Menurutnya, angka yang digelembungkan ini berfungsi sebagai propaganda perang untuk menciptakan kesan bahwa rezim Iran sangat rapuh dan siap runtuh hanya dengan sedikit dorongan militer.
Ia memperingatkan bahwa narasi ini memiliki efek berbahaya bagi pengambil kebijakan, termasuk Donald Trump. Jika pemimpin percaya bahwa rezim harus membunuh puluhan ribu orang untuk bertahan hidup, mereka mungkin akan tergiur oleh saran pihak luar–seperti Perdana Menteri Israel Netanyahu–bahwa serangan singkat akan cukup untuk menggulingkan kekuasaan di Teheran.
Catatan Strategis: Kent menekankan bahwa perubahan rezim yang didorong oleh Amerika Serikat hampir selalu berakhir dengan bencana kemanusiaan dan geopolitik, sebagaimana terlihat dalam kasus Libya.
Kegagalan Negosiasi dan Peran Israel
Kent mengungkapkan bahwa sebelum pecahnya konflik yang lebih luas, terdapat peluang nyata untuk mencapai kesepakatan diplomatik terkait program pengayaan nuklir Iran. Namun, ia menuding adanya ruang gema (echo chamber) yang dibentuk oleh pejabat Israel dan media untuk menyabotase pembicaraan tersebut.
Menurut Kent, Israel merasa terancam oleh kemungkinan kesepakatan antara Trump dan Iran. Akibatnya, mereka melakukan tekanan maksimal dengan narasi bahwa Iran akan segera memiliki senjata nuklir yang mampu menjangkau Amerika, guna memaksa AS mengambil tindakan ofensif daripada diplomatik.
Ancaman ‘Blowback’ Terorisme di Dalam Negeri
Salah satu poin paling krusial dalam diskusi ini yaitu peringatan Kent mengenai risiko terorisme domestik di AS sebagai dampak dari kebijakan luar negeri di Timur Tengah. Ia mengidentifikasi dua ancaman utama:
- Kelompok Suni/Wahabi: Terinspirasi oleh narasi konflik di Gaza dan propaganda media sosial, individu di dalam negeri dapat melakukan aksi teror tanpa perlu menjadi bagian dari sel tidur yang terorganisasi.
- Kelompok Syiah: Pembunuhan tokoh-tokoh penting Iran oleh Israel dan AS meningkatkan potensi serangan balasan (blowback) terhadap target-target di Amerika Serikat.
Kent juga menyoroti kerentanan perbatasan AS yang dianggapnya terbuka selama empat tahun terakhir. Ini memungkinkan ribuan individu dengan status ‘teroris yang dicurigai’ masuk ke wilayah Amerika tanpa pengawasan yang memadai.
Kesimpulan: Menahan Diri adalah Kunci
Joe Kent menyimpulkan bahwa satu-satunya cara efektif untuk melindungi warga Amerika dari terorisme yaitu berhenti memicu konflik di luar negeri. Ia menyarankan agar Donald Trump bersikap tegas dalam menahan aksi ofensif Israel jika ingin menciptakan ruang bagi perdamaian yang berkelanjutan.
Pengunduran diri Kent menjadi simbol perlawanan terhadap kebijakan yang dianggapnya lebih mengutamakan kepentingan strategis pihak asing daripada keamanan nasional rakyat Amerika Serikat sendiri. (I-2)
