Thursday, October 1

Membaca Arah Nasib Manchester City


Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

BUKAN kampanye ‘Football coming home’ yang perlu digaungkan Inggris untuk membawa Piala Dunia ke negara asal sepak bola. Yang jauh lebih penting dilakukan bagaimana mengembalikan etika dan kemurnian permainan sepak bola.

Selama 15 tahun sistem hukum Inggris dibuat seperti tidak berdaya. Keluarga Kerajaan Emirat Arab Sheikh Mansour bin Zayed bin Sultan Al Nahyan, sebagai pemilik Manchester City, selalu berhasil keluar dari tuduhan melakukan pelanggaran keuangan.

Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) pernah menjatuhkan hukuman keras dengan mencoret dari Liga Champions karena pelanggaran fair play keuangan. Namun, City bisa lolos dengan membawa kasus mereka ke Arbitrase Olahraga.

Kali ini seharusnya City tidak bisa lagi mengelak. Hasil penyelidikan panjang Komite Independen Liga Primer menemukan 114 pelanggaran dari 115 tuduhan yang ditujukan kepada pemilik Manchester City.

Yang paling nyata ialah penggelembungan pendapatan yang dilakukan City. Selama 15 tahun ada penerimaan senilai 900 juta pound sterling yang dinyatakan sebagai pendapatan dari sponsor. Padahal, nilai kontrak jangka panjang perusahaan penerbangan Etihad untuk 10 tahun hanya 400 juta pound sterling.

Komisi Independen menemukan 900 juta pound sterling itu bukan merupakan pendapatan dari sponsor, melainkan suntikan dana dari pemilik Manchester City. Pemalsuan laporan pendapatan itu dianggap sebagai cheating, atau kecurangan.

 

MENGAPA SALAH?

Memang menjadi pertanyaan, apa persoalannya dengan penggelembungan pendapatan yang dilakukan City? Asosiasi sepak bola di seluruh dunia menginginkan kompetisi berjalan seru sehingga penonton mendapatkan suguhan pertandingan yang bermutu.

Untuk itu, tidak boleh satu klub menguasai semua pemain terbaik yang ada. Kalau itu yang terjadi, pertandingan menjadi tidak menarik karena akan berjalan tidak seimbang. Akhirnya juara hanya akan didominasi klub dengan pemain-pemain terbaik.

Amerika Serikat membuat aturan salary cap, atau batas total gaji pemain yang bisa dikeluarkan, untuk semua kompetisi yang ada, baik itu bisbol, bola basket, hoki es, maupun american football. Dengan batas total gaji yang dimiliki setiap klub, tidak mungkin ada klub yang mengumpulkan semua pemain terbaik yang ada.

Asosiasi sepak bola di Eropa menerapkan kebijakan serupa di kompetisi mereka. Namun, caranya berbeda, bukan dengan batasan gaji. Setiap klub hanya boleh mengeluarkan anggaran untuk membeli pemain dua atau tiga kali dari penerimaan pendapatan dari sponsor.

City, sejak ditangani Roberto Mancini pada 2009, punya pendapatan dari sponsor maksimal hanya 16 juta pound sterling. Seharusnya maksimal mereka hanya bisa belanja pemain setiap musim sekitar 48 juta pound sterling.

Kecurigaan muncul ketika secara agresif Manchester City membeli pemain dengan harga yang mahal. Mereka mendatangkan Yaya Toure, Carlos Tevez, Mario Balotelli, dan Edin Dzeko dalam satu musim kompetisi yang sama.

Isu kecurangan yang diduga dilakukan City pertama kali dibocorkan pengamat sepak bola asal Portugal, Rui Pinto. Bahan tersebut kemudian diinvestigasi surat kabar Jerman Der Spiegel dan dipublikasikan.

Laporan investigasi Der Spiegel sejak awal menimbulkan kehebohan. Namun, Sheikh Mansour selalu bisa berkelit. Bahkan hasil investigasi Komite Independen Liga Primer kali ini pun dianggap sebagai teori konspirasi.

Baik FA maupun Liga Primer sejak awal tidak berani bertindak tegas kepada Manchester City dan cenderung pilih kasih. Beberapa klub lain, seperti Everton, dijatuhi hukuman pengurangan enam poin dan denda pada musim yang berjalan. Everton bahkan nyaris terdegradasi karena hukuman pelanggaran keuangan yang dilakukan.

Pelatih AS Mauricio Pochettino yang pernah menangani Southampton, Tottenham Hotspur, dan Chelsea merasa sedih mendengar penemuan yang didapatkan Komite Independen. Ia kembali kepada kenangan lama bagaimana susahnya membangun sebuah tim dengan anggaran belanja pemain yang terbatas, sementara tahu ada klub lain yang melanggar aturan anggaran belanja pemain.

 

PENUH REKAYASA 

Dengan 114 pelanggaran keuangan yang dilakukan City selama 10 tahun, kerusakan yang terjadi pada kompetisi di Inggris sangat luar biasa. Yang dilakukan bukan hanya penggelembungan pendapatan sponsor, melainkan juga pembayaran gaji kepada pelatih dan pemain.

Pembayaran gaji mereka ternyata dilakukan dengan dua kuitansi yang berbeda. Mancini secara terbuka mengakui menerima dua gaji yang berbeda saat menjadi pelatih City. “Apa yang salah saya menerima dua gaji yang berbeda?” kata pelatih Italia itu.

Patut diduga hal itu berlaku juga kepada pelatih Josep Guardiola. Pelatih asal Spanyol yang membawa kejayaan bagi Manchester City itu menerima dua gaji yang bisa jadi membuat angka pengeluaran City menjadi lebih kecil daripada yang sebenarnya terjadi. Akibatnya, mereka bisa mempunyai anggaran lebih lagi untuk membeli pemain.

Kasus keuangan seperti itu bukan baru terjadi di Inggris. Pernah ada tiga kasus kecurangan keuangan yang terjadi dan salah satunya juga dilakukan Manchester City pada 1906.

Komite Eksekutif Liga Primer yang terdiri atas lima orang akan menetapkan sanksi kepada Manchester City. Menteri Kebudayaan Inggris Lisa Nandy meminta pengelola Liga Primer cepat mengambil keputusan agar integritas sepak bola Inggris bisa segera dipulihkan.

Para pemilik klub mendorong agar hukuman yang dijatuhkan dibuat keras agar menimbulkan efek jera. Kecurangan yang dilakukan sangatlah luar biasa dan berdampak buruk kepada perkembangan sepak bola Inggris.

Mantan bintang Manchester United Wayne Rooney mendukung sanksi keras dijatuhkan kepada Manchester City. Namun, ia tidak sepakat dengan penghapusan gelar juara yang telah diraih Manchester City.

“Sekali kami berada di peringkat kedua setelah Manchester City. Saya merasa tidak berhak untuk menerima medali kemenangan kalaupun gelar mereka dicabut. Pada musim itu kami memang tidak bermain baik dan pemain Manchester City berupaya keras untuk menjadi juara,” kata Rooney.

Kontroversi terus berkembang di Inggris menyusul hasil temuan Komite Independen. Manajemen Manchester City terus berupaya untuk tidak dijatuhi hukuman karena merasa tidak melakukan kesalahan.

Sekarang waktunya bagi FA dan pengelola Liga Primer bersikap tegas. Apalagi kompetisi sudah mulai bergulir dan Manchester City untuk sementara berada di puncak klasemen.

Jangan sampai kompetisi terbaik di dunia itu kehilangan kredibilitas. Inggris harus belajar dari sepak bola Italia yang terpuruk karena membiarkan berbagai kecurangan terus berlangsung, tanpa sanksi tegas untuk menghentikannya.

 



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *