Tuesday, September 22

Menantang Terik di Batas Tanah Haram


Jemaah haji di kawasan Tan’im, tempat miqat terdekat dari arah Mekah.(MI/Akmal Fauzi)

ANGIN panas di kawasan Tan’im yang dikelilingi bukit-bukit tandus langsung menyambar wajah begitu pintu kendaraan terbuka. Rabu sore (13/5), kelembapan udara di pelataran Masjid Aisyah turun hingga 16 persen..

“Lihat, suhunya menembus 43 derajat Celsius,” ujar Kepala Seksi Bimbingan Ibadah (Bimbad) Daker Mekah PPIH, Erti Herlina sembari menunjukkan layar ponselnya kepada Tim Media Center Haji yang menyertainya. Di bawah langit yang memucat karena terik, ribuan jemaah Indonesia berbaur dengan berbagai bangsa, menantang suhu ekstrem demi mengambil miqat sebelum melangkah menuju Masjidil Haram.

Mobil-mobil pribadi dan armada taksi berjejer rapat di area parkir yang nyaris tanpa celah. Begitu pintu terbuka, orang-orang turun dengan gerak perlahan, membenarkan letak sandal, merapikan kain ihram, atau sekadar menggenggam erat botol air minum. Sebagian besar jemaah laki-laki sudah membalut tubuh dengan kain putih tanpa jahitan, bersiap menjemput niat umrah sunnah di tengah hawa kering yang seolah menghimpit napas.

Warna-warni Identitas di Beranda Masjid

Teras Masjid Aisyah yang luas menjadi titik temu ritme manusia dari berbagai negara. Di sini, jemaah Indonesia sangat mudah dikenali. Perempuan Indonesia umumnya mengenakan syal warna-warni bertuliskan embarkasi daerah asal, sementara para lelaki memakai kain ihram dengan identitas “Indonesia” di bagian bawah kainnya.

Mereka datang dalam kelompok-kelompok kecil. Ada pasangan suami istri yang berjalan pelan sambil saling menunggu langkah, ada pula yang datang bersama rekan satu kloter. Meski sudah berada di bawah atap beranda, panas tetap terasa. Angin yang berembus justru membawa hawa kering yang memedihkan mata.

Ketenteraman baru benar-benar terasa saat azan ashar berkumandang. Langkah jemaah yang semula hilir mudik perlahan beralih menuju ruang utama. Begitu melewati pintu besar masjid, hawa dingin dari pendingin ruangan langsung menerpa wajah, sebuah jeda yang melegakan dari suhu ekstrem di luar.

Di dalam masjid, selepas salat, seorang penceramah lokal memberikan tausiah melalui pengeras suara. Suaranya menggema, berbicara tentang tauhid dan keikhlasan. “Labbaik Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik…” Kalimat talbiyah itu dilafalkan perlahan sebagai pengingat bahwa seluruh rangkaian ibadah, mulai dari tawaf hingga sa’i, harus diniatka  hanya kepada Allah SWT.

“Seluruh ibadah ini hanya untuk Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya,” tegas sang penceramah di hadapan jemaah yang menyimak dengan takzim.

Tan’im merupakan tempat miqat terdekat dari arah Mekah, hanya berjarak sekitar tujuh kilometer dari Masjidil Haram. Masjid ini menjadi lokasi favorit jemaah Indonesia karena aksesnya yang mudah dan fasilitas penunjang yang memadai. Sore itu, rombongan jemaah asal Aceh Besar dari BTJ Kloter 5 yang dipimpin Djasnawi tampak berkumpul, melafalkan niat umrah bersama-sama dengan suara lirih namun mantap.

Menurut Erti Herlina, waktu selepas ashar merupakan saat terbaik bagi jemaah untuk mengambil miqat. Panas memang masih terasa, namun jauh lebih ramah dibandingkan saat zuhur. Sementara jika datang selepas maghrib atau isya, risiko kepadatan justru meningkat drastis.

“Karena habis maghrib atau isya semakin ramai di sini,” kata Erti. Situasi berjejal di malam hari dianggap cukup berisiko bagi jemaah lansia yang mudah terpisah dari rombongan.

Namun, di tengah semangat ibadah yang tinggi, Erti juga menitipkan pesan penting bagi para tamu Allah. Mengingat puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina tinggal menghitung pekan, jemaah diingatkan untuk tidak terlalu memaksakan diri dalam melaksanakan umrah sunnah.

“Jangan sampai tenaga habis sebelum puncak haji 2026,” ujarnya.

Sore pun merambat perlahan di Tan’im. Di antara debu gurun dan gema doa, orang-orang datang membawa harapan masing-masing. Ada yang berjalan tertatih karena usia, ada yang sibuk memastikan lilitan kain ihramnya tetap kuat, namun semuanya bergerak menuju satu arah yang sama, Baitullah. (Z-10)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *