Wednesday, October 14

Mengapa Diagnosis Autisme Naik Pesat Berikut Penjelasan Ilmiahnya


Ilustrasi.(Magnific)

GANGGUAN spektrum autisme (ASD) memengaruhi cara seseorang berkomunikasi, berinteraksi dengan orang lain, dan mengalami dunia sensorik. Kondisi ini juga ditentukan oleh minat yang terbatas dan perilaku berulang. Selama beberapa dekade terakhir, jumlah orang yang didiagnosis dengan kondisi ini tumbuh pada tingkat yang mencengangkan, sering kali terlihat seperti epidemi bagi masyarakat umum.

Sekolah, klinik medis, dan keluarga melihat lebih banyak anak-anak dan orang dewasa menerima diagnosis autisme daripada sebelumnya. Kenaikan pesat ini memicu perdebatan kompleks di kalangan ilmuwan dan profesional medis. Untuk memahaminya, kita harus melihat hal-hal yang sebenarnya diukur oleh para peneliti.

Memahami Metrik: Diagnosis vs Prevalensi

Ketika ilmuwan berbicara tentang kenaikan angka autisme, mereka biasanya merujuk pada kasus yang didiagnosis (jumlah orang dengan label medis). Ini berbeda dengan prevalensi di bawah metode identik (jumlah orang yang memenuhi kriteria saat diskrining secara seragam) dan insiden dasar (tingkat biologis aktual perkembangan kondisi tersebut).

Hingga saat ini, tidak ada tes biologis untuk autisme, sehingga sebagian besar penelitian mengandalkan penghitungan kasus yang didiagnosis. Analisis terhadap 14 makalah yang diterbitkan antara 2011 hingga 2026 menunjukkan ada pergeseran signifikan dalam cara masyarakat menamai kondisi ini.

Lonjakan Diagnosis Global

Di Amerika Serikat, data survei kesehatan nasional (Yan et al., 2024) menunjukkan tren kenaikan diagnosis pada anak-anak antara 2013 dan 2022, mencapai hampir empat persen. Secara global, tinjauan sistematis oleh Zeidan et al. (2022) melaporkan estimasi median sekitar satu persen, tetapi angka ini sangat bervariasi tergantung pada desain studi dan konteks sosiodemografi.

Penelitian di Inggris oleh Russell et al. (2022) menemukan peningkatan luar biasa sebesar 787 persen dalam insiden diagnosis autisme yang tercatat antara 1998 dan 2018. Menariknya, usia rata-rata diagnosis justru meningkat dari 9,6 tahun menjadi 14,5 tahun, menunjukkan bahwa lonjakan ini tidak hanya terjadi pada deteksi dini anak-anak.

Pergeseran Demografis: Perempuan dan Dewasa

Secara historis, autisme hampir secara eksklusif diidentifikasi pada anak laki-laki. Namun, data terbaru dari Swedia (Fyfe et al., 2026) menunjukkan perubahan rasio jenis kelamin. Pada periode 2020-2022, lebih banyak perempuan daripada laki-laki yang didiagnosis antara usia 15 dan 24 tahun. Para peneliti memandang ini sebagai efek mengejar ketinggalan karena perempuan yang sebelumnya kurang terdiagnosis kini mulai mendapatkan pengakuan medis.

Faktor Pendorong: Insentif dan Perubahan Definisi

Beberapa peneliti berpendapat bahwa penurunan ambang batas pengakuan menjadi pendorong utama. Di Australia, Ranjan dan Breunig (2026) menemukan bahwa skema pendanaan pemerintah (NDIS) berkontribusi pada peningkatan 32 persen dalam prevalensi autisme yang dilaporkan. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan dan pendanaan dapat membentuk praktik klinis.

Selain itu, evolusi definisi dalam manual medis (DSM) turut berperan. Penambahan Gangguan Asperger pada tahun 1994 memperluas kriteria secara signifikan. Fenomena substitusi diagnostik juga terjadi saat anak-anak yang dulunya diberi label disabilitas intelektual kini lebih mungkin didiagnosis dengan autisme.

Temuan Kunci dari Korea Selatan:

Studi oleh Kim et al. (2026) menggunakan metode skrining konstan pada 62.081 anak. Mereka menemukan prevalensi 2%-3%, jauh lebih tinggi dari rata-rata global. Namun, proporsi anak yang memenuhi kriteria tetap datar selama 12 tahun menunjukkan bahwa kenaikan angka di tempat lain mungkin lebih disebabkan oleh faktor deteksi daripada peningkatan biologis yang sebenarnya.

Pergeseran Budaya dan Risiko Diagnosis Berlebih

Uta Frith (2026) berpendapat bahwa konsep autisme menjadi tidak stabil secara semantik. Gerakan neurodiversitas berhasil mengurangi stigma, tetapi media sosial juga mengubah autisme menjadi identitas budaya yang populer. Hal ini memicu kekhawatiran akan diagnosis berlebih pada orang dewasa yang mungkin sebenarnya mengalami gangguan kepribadian atau trauma kompleks.

Croce dan Fusaro (2026) memperingatkan bahwa mengandalkan kuesioner laporan diri saja dapat menyebabkan salah label, karena gejala seperti sensitivitas sensorik dan kesulitan sosial juga ditemukan pada ADHD, PTSD kompleks, dan gangguan kepribadian ambang.

Faktor Risiko Biologis dan Lingkungan

Meskipun faktor administratif mendominasi, peningkatan risiko biologis yang moderat tidak dapat diabaikan. Beberapa faktor risiko yang teridentifikasi meliputi:

  • Genetika: Diestimasi memiliki heritabilitas antara 40 hingga 90 persen.
  • Usia Orang Tua: Usia ayah dan ibu yang lebih tua saat pembuahan secara konsisten dikaitkan dengan risiko autisme.
  • Kesehatan Ibu: Obesitas maternal, diabetes gestasional, dan peradangan sistemik selama kehamilan dapat memengaruhi perkembangan otak janin.
  • Polutan Lingkungan: Paparan nitrogen dioksida dan logam tertentu menunjukkan risiko kecil, meski kepastian buktinya masih rendah.

Penting untuk dicatat bahwa penelitian luas terhadap 67 studi menegaskan tidak ada hubungan antara vaksin dan autisme.

Kesimpulan

Sains menunjukkan bahwa lonjakan angka autisme adalah hasil dari kombinasi kompleks antara perluasan kriteria medis, kesadaran masyarakat yang lebih baik, insentif administratif, dan pergeseran demografis. Meskipun faktor risiko biologis seperti usia orangtua yang lebih tua berperan, sebagian besar ilmuwan sepakat bahwa kita sekarang lebih baik–dan terkadang lebih luas–dalam menamai kondisi yang sebelumnya tidak terdeteksi. (PsyPost/I-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *