Monday, September 21

Modal Tak Sampai Rp100 Ribu, UliMus Masuk Pasar Modern dan Rangkul Autisme


Romauli Sri Astuti Sitorus, pemilik usaha bawang goreng crispy UliMus(MI/Insi Nantika Jelita)

PANDEMI covid-19 menjadi titik balik dalam perjalanan usaha Romauli Sri Astuti Sitorus. Di tengah lesunya penjualan gamis yang selama ini menjadi sumber penghasilannya, perempuan 47 tahun yang akrab disapa Uli itu, mulai merintis usaha baru dari dapur rumahnya di kawasan Petojo Selatan, Gambir, Jakarta Pusat.

Berbekal modal kurang dari Rp100 ribu, ia merintis usaha bawang goreng crispy yang kemudian diberi nama UliMus

Dari usaha rumahan tersebut, Uli berhasil membawa produknya masuk ke pasar modern, sekaligus membuka kesempatan bagi penyandang autisme untuk ikut terlibat dalam aktivitas usahanya.

“Pada saat pandemi semuanya terdampak. Saya sebelumnya jualan gamis, tapi selama setahun tidak ada satu pun yang terjual,” kenangnya saat ditemui di rumah produksi UliMus, Kamis (28/5).

Ide usaha Uli bermula ketika anaknya yang sedang menempuh pendidikan di pondok pesantren di Parung, Bogor, tidak menyukai bawang goreng. Kondisi tersebut mendorong Uli untuk mencari cara agar anaknya tertarik mengonsumsi bawang goreng.

“Terus saya tertantang bikin bawang goreng supaya anak saya suka,” ujarnya.

Berangkat dari itu, Uli mulai bereksperimen menciptakan berbagai varian rasa hingga lahirlah bawang goreng rasa barbeque. Setiap kali mengunjungi anaknya di pesantren, ia membawa hasil buatannya untuk dibagikan. Ternyata, produk tersebut mendapat respons positif tidak hanya dari anaknya, tetapi juga para santri lainnya. 

Antusiasme itulah yang kemudian membuat Uli melihat peluang untuk mengembangkan dan menjual produknya secara lebih luas.

Usaha tersebut kemudian diberi nama UliMus, yang merupakan gabungan dari nama Uli dan suaminya, Mustofa. Nama itu menjadi identitas usaha yang kini terus berkembang.

Dari Modal Kecil

Usaha tersebut dirintis pada 2020 dengan modal yang relatif kecil. Saat itu, harga bawang masih cukup terjangkau sehingga biaya produksi awal tidak sampai Rp100 ribu. 

Hasil olahannya kemudian dijual dalam kemasan kecil seharga sekitar Rp10 ribu per bungkus untuk membantu menambah uang saku anaknya yang sedang menempuh pendidikan di pondok pesantren.

“Modal awalnya tidak sampai Rp100 ribu. Saya jual kemasan kecil Rp10 ribuan dan hasil penjualan itu lumayan untuk tambahan uang jajan anak saya di pondok,” katanya.

Dari penjualan sederhana tersebut, Uli mulai merasakan keuntungan. Bahkan pada masa awal berjualan, ia sudah mampu memperoleh laba sekitar Rp600 ribu dan mengembalikan modal usaha.

Seiring waktu, harga jual produk terus disesuaikan mengikuti kenaikan harga bahan baku. 

Saat ini, produk UliMus dijual mulai dari Rp25 ribu untuk kemasan 50 gram, sementara untuk pasar modern harga jualnya bisa mencapai Rp35 ribu. Varian rasa yang dijual ialah barbeque, balado dan original.

Produknya kini telah tersedia di sejumlah jaringan ritel modern seperti Hero di Mall Taman Anggrek dan Sarinah. Dalam waktu dekat, UliMus juga berencana memperluas distribusi ke puluhan gerai Indomaret di Jakarta Pusat.

Mengubah Pola Pikir  

Titik balik perkembangan usaha Uli terjadi pada 2023 ketika ia bergabung dengan Rumah BUMN binaan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI Jakarta. Di sana, ia mendapatkan berbagai pelatihan mulai dari literasi keuangan, pengembangan produk, hingga manajemen operasional. Manfaat terbesar yang ia rasakan bukan sekadar ilmu teknis, melainkan perubahan pola pikir dalam menjalankan bisnis.

“Saya menginginkan bisnis ini tidak hanya setahun dua tahun, tapi harus bisa berkembang sampai besar dan berdampak buat masyarakat,” tegasnya.

Uli mengaku sebelumnya hanya berfokus pada aktivitas jual beli. Setelah mengikuti berbagai program pendampingan, ia mulai memahami pentingnya visi usaha yang berkelanjutan.

“Mindset atau pola pikir kita dulu yang diubah untuk terus berkembang. Kalau sebagai usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) pola pikirnya tidak berubah, ya akan begitu-begitu saja,” ujarnya.

Salah satu program yang paling berkesan baginya adalah Rujak Kupas (Ruang Kupas UMKM Tuntas), sebuah coaching clinic yang membantu pelaku usaha memahami arah dan tujuan bisnis mereka.

“Yang dikupas itu sebenarnya kita sebagai business owner. Bagaimana cara membangun bisnis ini untuk ke depannya. Kunci saya itu fokus pada apa yang saya kerjakan,” tegasnya.

Selain pelatihan, Rumah BUMN juga membuka akses pemasaran dan memperkenalkan pelaku UMKM ke berbagai peluang pasar modern. Menurut Uli, pendampingan tersebut tidak berhenti setelah pelatihan selesai.

“Mereka tidak melepas begitu saja. Tetap dibimbing dan dipantau,” ujarnya.

Omzet Naik

Pendampingan yang diterima perlahan berdampak pada perkembangan usaha UliMus. Jika sebelumnya omzet hanya berkisar Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per bulan, kini pendapatannya mencapai Rp5 juta hingga Rp7 juta per bulan.

Bahkan pada periode Lebaran tahun lalu, omzetnya sempat menyentuh Rp25 juta dalam satu bulan. Selain berjualan secara daring melalui marketplace, Uli juga aktif mengikuti berbagai bazar dan pameran UMKM.

Uli kemudian menceritakan salah satu pengalaman yang paling berkesan terjadi saat mengikuti Bazar UMKM Gerai Nusantara di Bandara Soekarno-Hatta pada 2024 yang diselenggarakan oleh Rumah BUMN Jakarta. Saat itu ia terkejut karena banyak pembelinya berasal dari luar negeri.

“Kami tidak menyangka yang beli itu malah banyak dari orang asing, dari Thailand, India, terus dari Jepang juga ada,” tuturnya.

Produk UliMus juga pernah dibeli oleh konsumen dari Jepang dan Singapura saat pameran di Jakarta. Penjualan terbesar kepada pembeli mancanegara mencapai sekitar Rp2 juta untuk produk seberat tujuh kilogram. Bahkan, seorang diaspora Indonesia yang tinggal di Australia pernah datang langsung ke rumah produksinya dan memborong produk senilai sekitar 100 dolar Australia.

Sembilan Bulan Riset

Untuk menghasilkan produk yang dipasarkan saat ini, Uli mengaku menghabiskan waktu sembilan bulan untuk melakukan berbagai percobaan dan riset, hingga menemukan formula bawang goreng yang sesuai dengan selera pembeli. 

“Sembilan bulan loh kita risetnya. Enggak mudah memang,” katanya.

Selama proses tersebut, ia berkali-kali mengalami kegagalan. Bawang yang gosong, terlalu pahit, atau tidak sesuai harapan langsung dibuang dan dicoba kembali.

“Yang gosong, buang. Yang pahit, buang. Terus ada yang kurang pas, juga dibuang,” tuturnya.

Kegigihan itu akhirnya membuahkan hasil. Setelah menemukan formula yang tepat dan menambahkan varian rasa barbeque. Anaknya yang sebelumnya tidak menyukai bawang goreng justru menjadi penikmat pertama produknya.

“Enak mami, enak mami bawang gorengnya” kenang Uli menirukan ucapan sang anak.

Menjaga Kualitas 

Menurut Uli, membangun sebuah merek tidak cukup hanya dengan menjual produk yang enak. Produk juga harus memiliki keunikan yang membedakannya dari kompetitor, serta kualitas yang terjaga secara konsisten agar mampu mempertahankan kepercayaan konsumen.

Selain menghadirkan berbagai varian rasa, Uli berupaya memastikan setiap produknya memenuhi standar keamanan pangan yang baik sebelum dipasarkan.

Untuk menjaga kualitas tersebut, produk UliMus telah melalui sejumlah pengujian laboratorium. Pengujian yang dilakukan mencakup aspek mikrobiologi, kandungan logam berat, hingga informasi nilai gizi yang tercantum pada produk.

“Jadi produk-produk yang diuji ini layak konsumsi. Enggak sembarangan digoreng,” ujar Uli.

Di sisi lain, ia juga harus menghadapi tantangan fluktuasi harga bahan baku, khususnya bawang merah. Ketika harga mengalami kenaikan, Uli memilih mengantisasi kondisi tersebut melalui perencanaan keuangan yang lebih matang serta penyesuaian strategi penjualan.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah menyesuaikan ukuran atau gramasi produk untuk pasar modern yang membutuhkan harga lebih terjangkau. Menurutnya, cara tersebut memungkinkan harga tetap kompetitif tanpa mengurangi kualitas produk yang diterima konsumen. 

“Tapi selama ini sih enggak ada masalah dengan harga yang kita patok,” katanya.

Saat ini UliMus telah mengantongi sejumlah sertifikasi dan perizinan, mulai dari halal, PIRT, BPOM, hingga Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Ke depan, Uli berharap dapat melengkapi sertifikasi usahanya dengan Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP) sebagai upaya memperluas akses ke pasar yang lebih luas.

Peluang Kerja bagi Autisme

Di tengah perkembangan usaha bawang goreng crispy UliMus, Uli tidak hanya fokus pada peningkatan produksi dan penjualan. Ia berupaya menciptakan manfaat bagi lingkungan sekitar dengan membuka kesempatan kerja bagi seorang perempuan penyandang autisme berusia 23 tahun yang tinggal di sekitar tempat usahanya.

Tugas yang diberikan disesuaikan dengan kemampuan dan kenyamanannya, seperti mencuci peralatan produksi dan membantu pekerjaan ringan lainnya. Pekerjaan itu dilakukan dengan waktu kerja yang tidak terlalu lama. Uli mengatakan, perempuan tersebut menjalani pekerjaannya dengan penuh antusias. 

“Dia senang banget kerja. Dia datang jam 8 pagi, jam 11 siang sudah selesai,” kata Uli.

Kehadiran pekerja tersebut membuat Uli semakin yakin bahwa banyak penyandang disabilitas memiliki kemampuan untuk bekerja dan berkontribusi secara produktif apabila memperoleh kesempatan yang sesuai. 

Menurutnya, yang dibutuhkan bukanlah perlakuan istimewa, melainkan ruang yang memungkinkan mereka berpartisipasi, mengembangkan potensi, dan menunjukkan kemampuan yang dimiliki sesuai kapasitas masing-masing.

Membangun Kapasitas dan Jejaring UMKM

Sementara itu, Koordinator Rumah BUMN Jakarta Jajang Rohmana menjelaskan, Rumah BUMN yang dibina BRI hadir sebagai wadah kolaborasi sekaligus pengembangan kapasitas bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). 

Melalui berbagai program yang diselenggarakan, pelaku usaha didorong untuk meningkatkan kemampuan bisnis, memanfaatkan ekosistem digital, serta memperluas jaringan usaha.

Menurut Jajang, keberadaan Rumah BUMN telah membantu banyak UMKM berkembang dan naik kelas dari waktu ke waktu. Salah satu contohnya adalah UliMus, usaha bawang goreng crispy yang berhasil memperluas pasar dan mengembangkan bisnisnya setelah aktif mengikuti berbagai program pendampingan.

“Memang banyak UMKM yang sudah berkembang, sudah naik kelas dari waktu ke waktu di Rumah BUMN, seperti UliMus,” ujar Jajang saat dihubungi Media Indonesia beberapa waktu lalu. 

Untuk memastikan program yang diberikan sesuai kebutuhan pelaku usaha, Rumah BUMN BRI menyusun rencana kegiatan secara berkala. Setiap bulan, tim terlebih dahulu memetakan materi atau tema yang dibutuhkan UMKM, kemudian mencari narasumber yang memiliki kompetensi di bidang tersebut. Usulan kegiatan selanjutnya diajukan kepada kantor regional untuk diteruskan ke kantor pusat sebelum mendapatkan persetujuan pelaksanaan.

Jajang menambahkan, kegiatan yang diselenggarakan Rumah BUMN berlangsung secara daring maupun luring. Kegiatan tatap muka umumnya diikuti peserta dari wilayah Jabodetabek, sedangkan pelatihan daring memungkinkan UMKM dari berbagai daerah di luar Jabodetabek turut berpartisipasi. 

“Dengan pola tersebut, manfaat program dapat menjangkau lebih banyak pelaku usaha di berbagai wilayah Indonesia,” tuturnya.

Ia menambahkan, Rumah BUMN BRI secara rutin memfasilitasi UMKM untuk mengikuti berbagai bazar dan pameran tanpa dikenakan biaya. Kesempatan tersebut menjadi sarana bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk sekaligus menjangkau konsumen baru.

“Salah satu manfaat yang dirasakan UMKM adalah mereka mendapatkan akses pasar seperti bazar dan pameran yang diberikan secara gratis oleh BRI. Dan itu nanti harapannya bisa mendongkrak penjualan mereka,” pungkas Jajang. (Z-1)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *