Wednesday, September 23

Nobar Film Children of Heaven, SBY Menangis karena Pernah tak Mampu Beli Sepatu


PRESIDEN ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) nobar film Children of Heaven.(Dok. MI)

PRESIDEN ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menghadiri acara nonton bareng (nobar) film Children of Heaven di Jakarta Selatan, Jumat (20/6). Dalam kesempatan tersebut, AHY mengungkapkan bahwa SBY beberapa kali meneteskan air mata saat menyaksikan film yang mengisahkan perjuangan dua saudara dari keluarga sederhana itu.

AHY, yang duduk berdampingan dengan SBY sepanjang pemutaran film, mengatakan kisah dalam Children of Heaven mengingatkan ayahnya pada masa kecil yang penuh keterbatasan di Pacitan. Menurut AHY, SBY pernah ingin memiliki sepatu, tetapi kondisi ekonomi keluarga saat itu tidak memungkinkan.

“Tadi Pak SBY sesekali meneteskan air mata sambil mengingat masa kecil beliau, juga pernah ingin sekali punya sepatu karena beliau suka olahraga, aktif main voli, berlari, naik gunung, ke pantai bersama kawan-kawannya, tapi tidak kesampaian karena orang tua beliau juga tidak mampu,” ujar AHY dalam sambutannya usai pemutaran film.

Acara nobar yang diinisiasi Kuda Biru Project itu turut dihadiri 212 anak dari enam panti asuhan di Jabodetabek. Mereka diajak menyaksikan film yang mengangkat kisah Ali dan Zahra, kakak beradik yang harus berbagi sepasang sepatu demi tetap bisa bersekolah di tengah keterbatasan ekonomi keluarga.

Film Children of Heaven yang diadaptasi dari karya sineas Iran itu mengisahkan perjuangan seorang anak laki-laki bernama Ali yang kehilangan sepatu adiknya, Zahra. Karena kondisi ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan untuk membeli sepatu baru, keduanya terpaksa bergantian menggunakan satu pasang sepatu demi tetap bisa bersekolah.

SBY Disebut Merasa Dekat dengan Kisah Film

AHY menjelaskan bahwa latar belakang kehidupan SBY membuat sang ayah dapat merasakan secara langsung emosi yang disampaikan dalam film tersebut.

Ia menceritakan, SBY lahir dan tumbuh di Pacitan yang pada masa itu memiliki berbagai keterbatasan. Kondisi geografis yang tandus serta kehidupan masyarakat yang sederhana membuat banyak keluarga hidup dalam kekurangan.

“Pak SBY, Presiden Republik Indonesia yang keenam, anak tunggal dari Pacitan, sebuah daerah yang juga penuh dengan tantangan. Medannya atau geografisnya juga bebatuan, tanahnya tandus, dan masyarakat ketika itu juga hidupnya sangat sederhana, bahkan banyak yang berkategori miskin dan tidak mampu,” ujar AHY.

Karena itulah, saat menyaksikan perjuangan Ali yang memahami kondisi ekonomi keluarganya dan tetap berusaha membantu sang adik, AHY menilai SBY seolah kembali mengenang masa kecilnya sendiri. (H-3)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *