Wednesday, October 14

Optimalisasi Sumur Tua Beri Peluang Jaga Produksi Migas Nasional


Ilustrasi(Antara)

Optimalisasi sumur minyak dan gas bumi (migas) yang berusia tua bisa menjadi salah satu strategi untuk menjaga produksi energi nasional di tengah keterbatasan cadangan. Upaya tersebut perlu berjalan beriringan dengan eksplorasi sumur baru, pemanfaatan teknologi, dan penguatan aspek keekonomian agar potensi migas yang tersisa tetap produktif. Pakar ketahanan energi Universitas Indonesia (UI) Ali Ahmudi Achyak menilai positif upaya PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sebagai Subholding Upstream Pertamina, dalam mengelola seluruh wilayah kerja (WK) migas.

Tidak hanya melalui eksplorasi dan eksploitasi sumur baru, tetapi juga mencari peluang melalui optimalisasi sumur tua, sebagai upaya mendukung peningkatan produksi.

“Saya kira PHE terus berbenah dalam mengelola seluruh wilayah kerja, termasuk untuk meningkatkan produksi. Kondisi cadangan kita memang semakin terbatas, tetapi tetap ada opportunity, termasuk melalui sumur tua,” kata Ali, di Jakarta, Rabu (14/10/2026). 

Optimalisasi sumur tua, menurut Ali, memang bisa menjadi peluang untuk mendukung upaya peningkatan produksi migas demi ketahanan energi nasional. Hal ini, lanjut Ali, tak lepas dari keandalan manajemen hulu migas dan penguasaan teknologi PHE yang terus membaik. 

“Kinerja PHE menunjukkan tren positif, didukung penguasaan berbagai teknologi, termasuk enhanced oil recovery (EOR). Hal ini mencerminkan peningkatan kapabilitas PHE, baik dari sisi teknologi maupun tata kelola dan manajemen,” ujar Ali.

Menurut Direktur Eksekutif Pusat Kajian Ketahanan Energi untuk Pembangunan Berkelanjutan (Puskep) UI itu, optimalisasi potensi-potensi sumur tua memang menjadi peluang dalam mendukung kinerja PHE. Tentu saja, dengan tetap melakukan eksplorasi dan eksploitasi sumur-sumur baru, serta pemberdayaan sumur masyarakat. “Sebagai upaya pencapaian target PHE, hal itu memang baik,” ucapnya.

Memang, lanjut Ali, eksploitasi sumur-sumur tua tidak semudah sumur-sumur migas baru. Apalagi, tingkat produksi dari optimalisasi sumur-sumur tua tersebut juga jauh lebih rendah dibandingkan dengan sumur baru. Selain itu, yang juga harus diingat adalah sisi keekonomian. “Kalau sisi keekonomian, jika menggunakan teknologi lama dengan produksi yang semakin menurun, tentu menjadi tidak ekonomis,” kata dia. 

Sedangkan jika memakai teknologi baru, jelas Ali, diharapkan bisa mengurangi komponen biaya SDM sehingga nilainya mungkin masih bisa dianggap ekonomis untuk sumur-sumur yang sudah tidak ekonomis.

Apalagi, kata dia, saat ini untuk mengurangi biaya, bisa saja pengelolaan diserahkan ke Pemda, seperti Riau dan Sumatera Selatan. “Hasilnya dijual juga ke Pertamina sehingga dijadikan sebagai bagian dari lifting migas. Ini upaya untuk mengejar target produksi. Jadi, apapun upaya untuk mengelola sumur tua, tetap patut diapresiasi,” tegasnya.

Terkait upaya menjaga produktivitas dan keberlanjutan pengelolaan sumur tua, sebelumnya Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade juga mengapresiasi kinerja PHE Offshore Northwest Java (PHE ONWJ).

Hal tersebut disampaikan Andre, usai memimpin Tim Kunspek Komisi VI DPR saat kunjungan lapangan dan melihat langsung kondisi dan kinerja sumur yang telah beroperasi sejak 1969 di Perairan Utara Laut Jawa, Jawa Barat, Minggu (4/10/2026).

Menurut Andre ketika itu, hasil kunjungan lapangan menunjukkan kinerja PHE ONWJ cukup baik. Meski merupakan sumur tua dan mengalami proses peralihan pengelolaan, produktivitasnya masih dapat dipertahankan. (H-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *