
SEKRETARIS Jenderal PBB, António Guterres, mengumumkan melalui platform X bahwa pihaknya tengah memobilisasi bantuan dan bekerja sama erat dengan pemerintah Venezuela beserta para mitra untuk mendukung penanganan pasca-gempa. Guterres menyatakan dirinya “sangat sedih” atas hilangnya nyawa akibat dua gempa besar yang mengguncang negara tersebut.
Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan, Tom Fletcher, menambahkan bahwa para pimpinan komunitas kemanusiaan akan segera bertemu di Jenewa untuk menyusun strategi peningkatan respons bantuan. PBB juga mulai mengerahkan tim ke wilayah terdampak, setelah koordinator kemanusiaan PBB di Caracas berkomunikasi langsung dengan Presiden Pelaksana, Delcy Rodríguez, mengenai prioritas utama penanganan bencana.
Sejumlah negara telah menawarkan dukungan darurat, di antaranya Amerika Serikat, Republik Dominika, El Salvador, Swiss, Qatar, Meksiko, Tiongkok, Brasil, negara-negara Karibia, Suriah, Inggris, Rusia, dan Spanyol.
Di lapangan, situasi pasca-bencana digambarkan sangat genting. Lembaga swadaya masyarakat (LSM) kesehatan global Project Hope yang mengoperasikan 55 pusat kesehatan di delapan negara bagian Venezuela, termasuk wilayah terdampak parah seperti Caracas, Miranda, dan La Guaira, melaporkan kondisi darurat.
César Jiménez, seorang petugas bantuan Project Hope, mengungkapkan skala bencana ini benar-benar melumpuhkan kesiapan lokal yang sebelumnya sudah didera krisis ekonomi dan politik bertahun-tahun.
“Tidak ada negara yang bisa siap, tetapi kami sudah mencoba,” ujar Jiménez. “Namun bencana jenis ini mengejutkan kami. Tidak ada perencanaan untuk ini. Anda bahkan tidak bisa menghitung jumlah orang yang mencari bantuan. Semua bangunan mereka hancur, sepenuhnya.”
Jiménez turut menceritakan detik-detik mencekam saat gempa terjadi ketika ia sedang berada di rumah bersama keluarganya. Menurutnya, guncangan berawal perlahan namun menguat dengan cepat dan berlangsung lama hingga lebih dari satu menit.
“Guncangannya begitu kuat hingga kami tidak bisa berdiri,” kenangnya. “Listrik padam. Lemari dan TV pecah. Kami segera keluar ke jalan, dan semua tetangga kami sudah ada di sana. Saat itulah gempa susulan terjadi.”
Pasca-gempa, staf Project Hope langsung memeriksa berbagai pusat kesehatan. Beberapa fasilitas, terutama di La Guaira, mengalami kerusakan struktur yang parah dan tidak lagi stabil. Tragisnya, fasilitas yang tersisa kini terancam roboh akibat kelebihan muatan.
“Fasilitas-fasilitas tersebut kolaps di bawah beban orang-orang yang berdatangan mencari bantuan,” tambah Jiménez.
Tantangan terbesar saat ini adalah memenuhi kebutuhan mendesak akan pasokan medis, seperti perban, benang jahit medis, dan obat-obatan. Meski donasi dan sukarelawan mulai berdatangan, kebutuhan di lapangan masih sangat tinggi. (BBC/Z-2)
