Tuesday, September 22

PBSI Buka-bukaan Penyebab Kekalahan dari Prancis di Piala Thomas


Ilustrasi.(Magnific)

KEGAGALAN tim bulu tangkis putra Indonesia di ajang Piala Thomas 2026 setelah ditaklukkan Prancis memicu sorotan tajam publik. Menanggapi hal tersebut, Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) akhirnya buka suara dan mengurai sejumlah faktor krusial yang menjadi penyebab tumbangnya tim Merah Putih.

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Eng Hian, mengungkapkan bahwa secara statistik Indonesia sebenarnya tidak sepenuhnya unggul atas Prancis. Ia menekankan bahwa dari sisi peringkat dunia, sektor tunggal putra Indonesia saat ini berada di bawah pemain-pemain Prancis.

“Kalau kita buka dari statistik, soal ranking, kita di bawah Prancis. Jadi jangan lihat Prancisnya, tetapi kita melihat statistik, kenyataan yang sekarang,” ujar Eng Hian dalam jumpa pers di Pelatnas Cipayung, Jumat (8/5).

Statistik Head-to-Head yang tidak Menguntungkan

Eng Hian memaparkan data head-to-head yang menunjukkan tunggal putra Indonesia tidak berada di atas angin. Berdasarkan catatan pertemuan:

  • Jonatan Christie: Tertinggal 1-2 dari Christo Popov.
  • Alwi Farhan: Kalah rekor pertemuan dari Alex Lanier.
  • Anthony Sinisuka Ginting: Berimbang 2-2 melawan Toma Junior Popov.

“Jadi bukan kita itu selalu di atas,” tegas Eng Hian. Meski sektor ganda putra secara kertas lebih unggul, ia menilai atmosfer pertandingan beregu memberikan tekanan yang jauh berbeda dibandingkan turnamen individu.

Faktor Mental dan Ketegangan Pemain

PBSI sejatinya menyiapkan program pendampingan psikolog dan kelas khusus untuk memperkuat mental atlet. Namun, Eng Hian mengakui bahwa tekanan di lapangan tetap menjadi faktor manusia yang sulit diprediksi secara akurat.

Ia mencontohkan kondisi Alwi Farhan yang mengalami ketegangan luar biasa saat bertanding. “Ketegangan itu bagaimana masing-masing menyikapinya. Alwi Farhan itu ketegangan dia, heart rate sampai di atas 200 bpm (denyut jantung per menit),” ungkapnya.

Strategi Unik Lawan dan Regulasi BWF

Selain aspek teknis dan mental, susunan pemain (line-up) Prancis juga menjadi bahan evaluasi. Prancis memainkan tiga partai tunggal secara beruntun di awal. Hal ini dimungkinkan karena ada pemain Prancis yang bermain rangkap di sektor tunggal dan ganda.

Sesuai regulasi Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), seorang pemain tidak diizinkan tampil dalam dua partai berturut-turut. Karena keterbatasan pemain, Prancis menurunkan Popov bersaudara di dua nomor sekaligus, yang secara otomatis mengubah urutan pertandingan yang biasanya bergantian antara tunggal dan ganda.

Wakil Ketua Umum I PP PBSI, Taufik Hidayat, menyebut situasi ini sangat unik tetapi tetap sah secara regulasi. “Kasus ini kan memang Prancis pemainnya tidak ada lagi. Popov ini main double dan single juga,” kata Taufik.

Catatan Evaluasi: Taufik menegaskan bahwa Indonesia tidak bisa menyalahkan aturan BWF tersebut. Namun, fenomena pemain rangkap di level beregu internasional ini akan menjadi bahan diskusi dan kajian lebih lanjut bagi federasi ke depan.

“Kita tidak bisa menyalahkan apa-apa. Ini hanya menjadi bahan diskusi, bisa tidak sih ada aturan lain (untuk kondisi seperti ini),” pungkas Taufik. (I-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *