Saturday, September 19

Penelitian Unik Ungkap Apa yang Dipikirkan Manusia Setiap Hari


Dalam penelitian tersebut, sekitar 10% pemikiran berpusat pada hobi, permainan, bermain, dan seni, dengan jumlah yang sama berfokus pada hubungan.(Ilustrasi: Michael Parkin/The Guardian)

SEBUAH penelitian mengenai apa yang dipikirkan manusia sehari-hari memberikan gambaran mendalam tentang benak masyarakat modern. Studi itu mengungkapkan pikiran manusia umumnya didominasi oleh pekerjaan, keinginan minum kopi, serta hasrat untuk kembali tidur.

Riset ini dipimpin para ekonom dari Claremont Graduate University di California dan Wuhan University di Hubei, Tiongkok. Peneliti senior dalam studi tersebut, Dr. Joshua Tasoff, menyampaikan:

“Begitu banyak arti menjadi manusia yang berkaitan dengan apa yang terjadi di dalam kepala kita. Kenyataan bahwa kita sebagai ekonom belum benar-benar meneliti hal tersebut merupakan sesuatu yang luar biasa.”

Dalam studi tersebut, sebanyak 258 sukarelawan berusia 19 hingga 71 tahun mengunduh aplikasi khusus yang berbunyi secara acak delapan kali sehari selama dua minggu. Setiap kali aplikasi berbunyi, peserta diminta mencatat pikiran mereka, aktivitas yang sedang dilakukan, serta tingkat kebahagiaan mereka saat itu.

Pola Pikiran dan Tingkat Kebahagiaan

Setelah mengumpulkan lebih dari 23.000 respons real-time, para peneliti menemukan bahwa alur pikiran manusia mengalir mengikuti ritme harian. Pikiran cenderung terfokus pada pekerjaan di siang hari dan beralih ke hiburan pada malam hari. Sekitar separuh dari pikiran manusia bersifat disengaja, sementara sisanya merupakan pikiran intrusif atau tidak disengaja.

Informasi sensorik, seperti rasa lelah dan kantuk, serta persepsi mental menyumbang hampir seperlima dari seluruh pikiran. Pekerjaan berada di urutan berikutnya dengan porsi 17%, disusul makanan sebesar 14%. Sementara itu, hobi dan hubungan sosial masing-masing menyumbang sekitar 10%.

Ketika pikiran berfokus pada keinginan, hampir separuhnya melibatkan makanan atau minuman, terutama kopi. Mengenai kebutuhan, 29% peserta memikirkan relaksasi, khususnya tidur siang dan tidur nyenyak.

Menariknya, apa yang dipikirkan seseorang terbukti menjadi prediktor kebahagiaan paling kuat dibanding faktor lainnya. Hal ini sejalan dengan pandangan filsuf Romawi, Marcus Aurelius, yang menyatakan bahwa kebahagiaan hidup bergantung pada kualitas pikiran.

Empat Tipe Pemikir

Analisis studi ini juga mengelompokkan pola pikir peserta ke dalam empat kategori utama:

  • Tipe Pemikir Cemas (The Worriers): Kelompok ini memikirkan peristiwa dunia, politik, isu sosial, serta kesehatan 50%-60% lebih banyak dibanding rata-rata. Menariknya, mereka memikirkan musik hampir dua kali lebih sering, yang diduga sebagai cara meredakan beban emosional.
  • Tipe Urusan Rumah Tangga (The Domestics): Kelompok ini mencurahkan sekitar 50% lebih banyak pikiran pada pekerjaan rumah, keuangan, dan hiburan seperti film atau buku.
  • Tipe Fokus Tubuh (The Bodily Thinkers): Didominasi oleh usia muda dan perempuan, kelompok ini paling sering memikirkan sensasi fisik, perasaan, dan kondisi tubuh. Mereka mencatatkan tingkat pikiran tidak diinginkan (intrusive thoughts) tertinggi sebesar 28%.
  • Tipe Bekerja Keras, Bermain Maksimal (The Work-Hard, Play-Hards): Pikiran kelompok ini terbagi antara pekerjaan (50% di atas rata-rata) dan hobi (25% di atas rata-rata). Kelompok ini mencatatkan tingkat pendapatan dan kebahagiaan tertinggi.

Para peneliti memberi catatan agar temuan ini tidak digeneralisasi secara global, mengingat profil psikologis sukarelawan yang seluruhnya tergolong masyarakat Barat, teredukasi, dan sejahtera dapat berbeda dari populasi dunia lainnya. (The Guardian/Z-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *