Friday, September 18

Perempuan Rentan Kena Autoimun, Manajemen Stres Jadi Solusi


Ilustrasi(Dok Magnific)

KERENTANAN perempuan mengidap penyakit autoimun disebabkan faktor hormonal. Hormon estrogen pada wanita memiliki pengaruh terhadap sistem kekebalan tubuh. Sehingga perubahan atau ketidakseimbangan hormon menjadi pemicu munculnya penyakit autoimun. 

Hal itu juga sangat berbahaya dan mengancam nyawa bagi perempuan hamil sehingga perlu diwaspadai pada perempuan yang berencana untuk merencanakan program hamil.

Pakar Reumatologi, Internis dan Herbal dari FK-KMK UGM, Prof Nyoman Kertia, mengatakan penyakit autoimun terjadi akibat kekeliruan sel-sel kekebalan tubuh dalam mengenali sel tubuh dan sendiri dan sel asing. 

Tugas sistem imun adalah mengenali dan menghancurkan benda asing yang masuk ke dalam tubuh, seperti bakteri, virus, parasit, atau zat lain yang dianggap berbahaya. Namun, ketika sel imun salah mengenali sel tubuh sendiri sebagai musuh, maka sel-sel tersebut justru diserang. Akibatnya, organ mana pun dapat menjadi sasaran, mulai dari kulit, ginjal, paru-paru, hati, hingga organ lainnya. Dari sinilah penyakit autoimun muncul. 

“Jumlah penderita autoimun cukup besar. Kalau kita memperkirakan sekitar dua persen populasi orang dewasa mengalami autoimun, maka angkanya bisa mencapai sekitar empat juta orang di Indonesia,” kata Nyoman dalam keterangannya, Sabtu (25/7).

Penyakit autoimun memang dipengaruhi oleh faktor genetik, tetapi bukan berarti semua penderita memiliki riwayat keluarga. Selain faktor genetik, terdapat pula faktor lingkungan, seperti polusi udara, pola makan yang kurang sehat, serta stres. 

“Banyak pasien autoimun berusaha memahami penyakitnya dengan mencari berbagai informasi, termasuk melalui internet. Sayangnya, informasi yang tidak dipahami dengan baik justru sering membuat mereka semakin cemas dan stres. Padahal, stres dapat memperburuk kondisi autoimun,” terangnya.

Salah satu faktor dominan yang menjadi penyebab autoimun yakni stress. Ia mengungkapkan tidak hanya pekerja tetapi mahasiswa pun memiliki potensi stress akibat tekanan akademik. 

“Saya memiliki banyak pasien mahasiswa, baik dari UGM maupun perguruan tinggi lain, yang mengalami autoimun. Awalnya mereka sehat, tetapi setelah menghadapi tekanan akademik dan berbagai beban hidup, penyakitnya muncul,” ungkapnya. 

Penyakit autoimun dibagi menjadi dua kelompok. Pertama, autoimun organ spesifik, yaitu penyakit yang menyerang satu organ tertentu. Kelompok kedua adalah autoimun sistemik, yaitu penyakit yang menyerang banyak organ sekaligus. 

Pada laki-laki juga dapat terjadi autoimun, misalnya ankylosing spondylitis, tetapi secara umum memang sekitar 80 persen penderita autoimun adalah perempuan, sedangkan sekitar 20 persen laki-laki. 

Kasus ini pun juga lebih sering ditemukan pada perempuan usia muda karena pada usia tersebut sistem imun masih sangat aktif. Nyoman menyebutkan terdapat beberapa hal yang bisa diperhatikan mengenai pemicu utama autoimun. 

Pertama adalah kelelahan. Meskipun kondisi pasien sudah membaik dan hasil pemeriksaannya bagus, mereka tetap harus menyadari bahwa dirinya memiliki penyakit autoimun. Oleh karena itu, aktivitas sehari-hari harus memiliki batas. Misalnya, menjaga jam tidur dan tidak memaksakan diri bekerja hingga kelelahan. 

“Pemicu kedua adalah stres, ini memang tidak mudah dihindari, tetapi saya selalu mengatakan kepada pasien mulai sekarang jangan terlalu memikirkan penyakitmu. Serahkan urusan pengobatan kepada saya sebagai dokter,” katanya.

Pemicu ketiga adalah paparan sinar matahari yang berlebihan. Bukan berarti penderita sama sekali tidak boleh terkena matahari, tetapi sebaiknya paparan berlebihan dihindari. Jika harus berada di luar ruangan, gunakan pelindung seperti payung atau tabir surya. 

“Menurut saya, tiga hal itulah yang paling penting, jangan terlalu lelah, jangan terlalu stres, dan hindari paparan sinar matahari yang berlebihan,” pesannya.

Ia menambahkan hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang benar-benar kuat mengenai makanan tertentu sebab setiap orang memiliki pemicu yang berbeda-beda. 

“Karena itu saya selalu menyarankan pasien untuk mengenali tubuhnya sendiri. Dalam bahasa Jawa saya sering mengatakan, dititeni. Artinya, perhatikan dan catat makanan apa yang dikonsumsi, lalu amati apakah setelah itu gejalanya kambuh atau tidak,” pungkasnya. (E-4)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *