
KEBIJAKAN ekspor terpadu untuk komoditas sumber daya alam strategis melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) menimbulkan kekhawatiran di kalangan petani sawit di Sumatra Utara. Kekhawatiran tersebut muncul setelah harga tandan buah segar (TBS) sawit di tingkat petani merosot tajam hingga berada di kisaran Rp2.300 per kilogram. Padahal sebelumnya harga TBS sempat menyentuh Rp3.700 per kilogram.
“Semula harganya bagus, bisa mencapai Rp3.600 hingga Rp3.700/kg. Sekarang Cuma dihargai Rp2.300-Rp2.500. Kondisi kami diperberat dengan mahalnya harga pupuk. Pupuk yang naik jenis NPK yaitu Rp900.000 per satu sak dari Rp700.000,” keluh Wahyudin, petani sawit asal Langkat seperti dikutip pada Sabtu (30/5).
Meski demikian, tidak seluruh pabrik kelapa sawit (PKS) menerapkan harga beli yang rendah. Beberapa PKS tetap membeli TBS petani sesuai ketentuan yang berlaku dan tidak terpengaruh oleh sentimen atas kebijakan ekspor satu pintu melalui DSI.
Ketua Koperasi Unit Desa (KUD) Sumber Usaha, Mujahit, saat dihubungi melalui telepon menjelaskan bahwa koperasi yang dipimpinnya merupakan plasma mitra PT Rimba Mujur Mahkota (RMM), bagian dari Artha Graha. Menurutnya, perusahaan tersebut membeli TBS petani berdasarkan harga yang ditetapkan Dinas Perkebunan Kabupaten Mandailing Natal.
“Kami bersyukur, PT RMM membeli TBS kami dengan harga tinggi, sesuai ketentuan Disbun. Petani bisa lebih tenang, bisa mengimbangi kebutuhan pupuk dan BBM yang masih tinggi,” jelas Mujahit.
Koperasi yang berada di Desa Sikara-kara, Kecamatan Natal, itu juga menyebut hubungan kemitraan dengan PT RMM sebagai perusahaan inti berjalan harmonis dan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.
Wamentan Ingatkan PKS Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengungkapkan masih terdapat 123 pabrik kelapa sawit yang membeli TBS di bawah harga standar. Sebelumnya, Kementerian Pertanian menemukan 139 PKS yang melakukan pembelian TBS di bawah ketentuan harga yang berlaku. Pemerintah pun memberikan apresiasi kepada PKS yang tetap membeli TBS petani sesuai harga yang telah ditetapkan.
Penurunan harga beli TBS ini mulai terlihat setelah pemerintah mengumumkan pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai eksportir berbagai komoditas strategis, termasuk minyak sawit. Menurut Sudaryono, tidak ada dasar yang kuat bagi PKS untuk menekan harga beli TBS. Pasalnya, harga crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah di pasar internasional masih berada pada level yang baik.
Selain itu, permintaan CPO global juga menunjukkan tren peningkatan. Kondisi tersebut justru berbanding terbalik dengan situasi di dalam negeri, di mana harga TBS mengalami fluktuasi dan tekanan. Sudaryono turut menegaskan bahwa PT DSI tidak akan menjadi pihak yang mengambil keuntungan tambahan dalam rantai niaga sawit.
“PT DSI tidak mengambil keuntungan. Ini hanya perusahaan pengelola dan pengawas yang bekerja secara transparan dan akuntabel,” ujar Sudaryono dalam konferensi pers daring, Jumat (29/5). (E-4)
