Sunday, October 4

Peternak Broiler Terjepit Biaya Produksi Rp23 Ribu, Harga Jual Rp21 Ribu


Pekerja mengecek kondisi ayam broiler di Desa Prambatan Lor, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (18/7/2026).(ANTARA/NIRZA)

KONDISI sektor peternakan ayam broiler di tingkat peternak mandiri dilaporkan tengah mengalami tekanan hebat. Berdasarkan data yang dihimpun, terjadi ketimpangan signifikan antara biaya modal yang dikeluarkan dengan harga jual di pasar, yang menempatkan para peternak dalam posisi merugi.

Selisih Harga yang Memberatkan

Para peternak broiler saat ini harus menghadapi realitas pahit di mana biaya produksi atau modal yang dibutuhkan mencapai Rp23.000 per kilogram. Namun, di sisi lain, harga jual ayam di tingkat peternak justru merosot ke angka Rp21.000 per kilogram.

Selisih sebesar Rp2.000 per kilogram ini menjadi beban berat, terutama bagi peternak mandiri yang tidak memiliki jaminan harga dari kemitraan besar. Jika dikalikan dengan populasi ayam yang dipanen, total kerugian yang diderita peternak dalam satu siklus produksi bisa mencapai angka yang sangat signifikan.

Ringkasan Kondisi Pasar:

  • Biaya Produksi (Modal): Rp23.000/kg
  • Harga Jual Peternak: Rp21.000/kg
  • Margin Kerugian: Rp2.000/kg

Faktor Penyebab Ketimpangan

Meskipun data spesifik mengenai penyebab eksternal sedang dalam tahap validasi lebih lanjut, situasi “terjepit” ini umumnya dipicu oleh beberapa faktor klasik dalam industri perunggasan, antara lain:

  • Kenaikan Harga Pakan: Komponen pakan berkontribusi hingga 70% dari total biaya produksi. Kenaikan harga bahan baku pakan secara otomatis mengerek modal peternak.
  • Over-supply: Pasokan ayam yang melimpah di pasar seringkali tidak dibarengi dengan serapan konsumsi yang seimbang, sehingga menekan harga di tingkat bawah.
  • Harga DOC (Day Old Chick): Fluktuasi harga bibit ayam juga turut menentukan tinggi rendahnya modal awal yang harus disiapkan peternak.

Dampak bagi Peternak Mandiri

Kondisi ini mengancam keberlangsungan usaha peternak kecil dan mandiri. Tanpa adanya intervensi atau penyesuaian harga yang adil, banyak peternak terancam gulung tikar karena kehabisan modal untuk memulai siklus tanam berikutnya.

Hingga saat ini, para pelaku usaha di sektor ini berharap adanya langkah konkret dari pemangku kepentingan untuk menstabilkan harga, baik melalui pengaturan suplai maupun pengendalian harga input produksi agar peternak tidak terus-menerus menanggung kerugian. (H-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *