
DALAM catatan sejarah peradaban dunia, masa keemasan Islam sering kali diidentikkan dengan nama-nama besar seperti Al-Khwarizmi atau Ibnu Sina. Namun, di balik gemerlap penemuan tersebut, terdapat deretan ilmuwan muslimah yang memiliki kontribusi revolusioner tetapi namanya jarang terdengar di ruang-ruang kelas masa kini.
Mariam Al-Ijliya, atau yang lebih dikenal sebagai Mariam Al-Asturlabi, adalah seorang ilmuwan astronomi dari Aleppo, Suriah, yang hidup pada abad ke-10. Ia merupakan sosok di balik pengembangan Astrolab yang lebih kompleks.
Astrolab adalah instrumen navigasi dan astronomi kuno yang menjadi cikal bakal teknologi GPS modern. Karya Mariam sangat dihargai oleh penguasa Aleppo saat itu, Sayf al-Dawla, karena akurasinya dalam menentukan posisi bintang dan waktu.
2. Sutayta Al-Mahamli: Maestro Matematika dari Baghdad
Hidup di abad ke-10 di Baghdad, Sutayta Al-Mahamli bukan sekadar ahli hukum, tetapi juga pakar matematika yang disegani. Ia dikenal karena keahliannya dalam menyelesaikan persoalan aritmatika yang rumit dan persamaan aljabar.
Kontribusinya dalam bidang hisab (aritmatika) dan waris menjadi fondasi penting dalam penerapan matematika praktis di masyarakat pada masa itu.
3. Fatima Al-Fihri: Pendiri Universitas Tertua di Dunia
Pada tahun 859 M, Fatima Al-Fihri mendirikan Masjid Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko, yang kemudian berkembang menjadi institusi pendidikan tinggi. Guinness World Records mencatat Al-Qarawiyyin sebagai universitas pemberi gelar tertua di dunia yang masih beroperasi hingga saat ini.
Visi Fatima membuktikan bahwa perempuan muslimah sejak awal memiliki peran sentral dalam membangun ekosistem pendidikan global.
Mengapa Mereka Terlupakan?
Minimnya dokumentasi tertulis yang mencantumkan nama perempuan secara eksplisit dalam manuskrip sains kuno menjadi salah satu penyebab utama. Sering kali, karya mereka dianggap sebagai bagian dari pencapaian kolektif keluarga atau institusi. Menghidupkan kembali nama-nama ini bukan sekadar romantisme sejarah, melainkan upaya memberikan inspirasi bagi generasi peneliti perempuan di masa depan.
