Wednesday, September 30

Revitalisasi Dikebut, Bandung Zoo Ditargetkan Beroperasi Tahun Depan


Ilustrasi(MI/Naviandri )

PEMERINTAH Kota (Pemkot) Bandung terus mempercepat proses revitalisasi Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo usai penetapan pengelola baru. Saat ini Pemkot tengah menunggu finalisasi konsep dan negosiasi perjanjian kerja sama (PKS). Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menargetkan, penandatanganan kesepakatan dapat rampung dalam waktu dekat. Bahkan, ia berharap proses tersebut bisa selesai dalam waktu singkat, disertai dengan pembayaran tahap awal dari pihak pengelola.

“Kini kita lagi menunggu selesainya konsep dan negosiasi PKS. Mudah-mudahan segera terlaksana dan menerima pembayaran pertama,” ungkapnya Jumat (12/6).

Menurut Farhan, meski nominal kerja sama masih dalam tahap negosiasi, skema yang dibahas mencakup pembagian hasil serta masa tenggang (grace period), termasuk waktu pengurusan berbagai perizinan yang dibutuhkan.

Terdapat masa sekitar satu tahun untuk menyelesaikan sejumlah izin penting, seperti izin konservasi baru dan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal). Selain itu, proses administrasi lain seperti Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) juga harus dipenuhi.

“Senin (15/6) saya harus menghadap Menteri Kehutanan untuk nota kesepakatan bersama. Karena ini menyangkut perizinan yang cukup panjang,” tandasnya.

Dalam konsep revitalisasi, Farhan mengingatkan, Bandung Zoo harus lebih berorientasi pada edukasi, khususnya bagi anak-anak. Ia juga memberikan tiga pesan utama kepada pengelola baru. Pertama, mempertahankan tenaga kerja lama agar keberlangsungan operasional tetap terjaga. Kedua, menjaga karakter khas kebun binatang Bandung yang dikenal sebagai ‘Derenten‘, bagian dari ekspresi budaya masyarakat.

“Bandung Zoo itu punya nilai sejarah dan budaya. Itu harus tetap dipertahankan. Ketiga mendorong adanya program pelepasliaran satwa sebagai bagian dari fungsi konservasi. Beberapa satwa seperti owa dan surili berpotensi dilepasliarkan ke habitat alaminya di wilayah Bandung Selatan, seperti Pangalengan dan Gambung,” paparnya.

Terkait harga tiket, Farhan mengaku belum mendapatkan keputusan final. Namun ia memastikan pemerintah akan tetap memperhatikan keterjangkauan bagi masyarakat. Pengelola baru diyakini telah memiliki perhitungan pasar yang matang. Meski demikian, Pemkot Bandung akan tetap mengawal agar harga tiket tidak memberatkan pengunjung.

“Kalau harganya tidak wajar, tentu akan kita perjuangkan. Banyak warga juga ingin tiket tetap terjangkau,” imbuhnya.

Farhan menyebut, perbedaan skema pengelolaan Bandung Zoo dengan kebun binatang lain seperti Ragunan yang dikelola langsung oleh pemerintah. Di Bandung, pengelolaan dilakukan melalui kerja sama pemanfaatan karena tidak berada di bawah dinas khusus.

“Saya menargetkan Bandung Zoo dapat kembali dibuka dalam waktu kurang dari satu tahun, meskipun masih harus melalui sejumlah tahapan administratif dan teknis. Memang ada dua izin yang cukup lama, yaitu izin konservasi dan Amdal,” paparnya.

Selain itu kata Farhan, proses pengalihan aset dari hasil sitaan yang sebelumnya berada di bawah kewenangan Kejaksaan Tinggi juga menjadi bagian dari tahapan yang harus diselesaikan. 

Karyawan Bandung Zoo Siap Bekerja Sama

Sementara itu 121 karyawan Bandung Zoo menyatakan kesiapannya bekerja sama dengan Faunaland pihak yang memenangkan lelang pengelolaan Bandung Zoo. Sikap tersebut disampaikan di tengah proses transisi yang masih berlangsung setelah kawasan konservasi itu ditutup sejak Februari 2026.

Humas Bandung Zoo, Sulhan Syafei, menerangjan, para pekerja yang tergabung dalam Koperasi Mandiri tetap menjalankan tugas sehari-hari meski kebun binatang tidak beroperasi untuk umum. Perawatan satwa, pemeliharaan lingkungan, hingga pengamanan kawasan tetap dilakukan agar kondisi Bandung Zoo tetap terjaga.

“Kami siap mendukung dan bekerja sama dengan pihak yang memenangkan lelang pengelolaan Bandung Zoo. Selama masa transisi ini, kami tetap menjaga dan merawat satwa, menjaga lingkungan, serta berkoordinasi dengan berbagai pihak yang turut membantu keberlangsungan operasional kebun binatang,” bebernya.

Menurut Sulhan, keberlangsungan operasional Bandung Zoo selama masa penutupan tidak hanya bergantung pada pekerja. Sejumlah pihak, mulai dari pedagang di kawasan kebun binatang, Pemkot Bandung, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat hingga berbagai elemen masyarakat turut memberikan dukungan.

Di tengah ketidakpastian pengelolaan, para karyawan memilih fokus pada tugas utama mereka, yakni memastikan kesejahteraan satwa tetap menjadi prioritas. Langkah itu dinilai penting agar fungsi konservasi tidak terganggu selama proses administrasi dan penetapan pengelola baru berlangsung.

“Antusiasme masyarakat terhadap Bandung Zoo juga masih tinggi. Banyak warga yang terus menanyakan kapan kebun binatang yang menjadi salah satu ikon wisata edukasi Kota Bandung itu kembali dibuka. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa Bandung Zoo masih memiliki daya tarik kuat di mata publik,” ujarnya.

Selain berfungsi sebagai tempat konservasi satwa lanjut Sulhan, Bandung Zoo selama bertahun-tahun menjadi tujuan wisata keluarga dan sarana pendidikan lingkungan bagi pelajar.

Saat ini, para pekerja masih menunggu rampungnya tahapan administrasi dan transisi pengelolaan. Mereka berharap dapat segera menjalankan program pengembangan yang mampu meningkatkan kualitas layanan sekaligus memperkuat fungsi konservasi.

“Kami akan terus bekerja sama dan meningkatkan profesionalisme agar pengelolaan Bandung Zoo ke depan menjadi lebih baik. Harapan kami, jumlah pengunjung dapat kembali meningkat dan Bandung Zoo dapat berkembang menjadi destinasi konservasi dan wisata yang semakin diminati masyarakat,” sambungnya. (AN/E-4)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *