
Sulawesi memiliki potensi besar untuk pembangkitan energi dari sumber energi terbarukan (ET), terutama tenaga air serta tenaga angin. Pada saat yang sama, Sulawesi dianggap sebagai salah satu wilayah dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi, yang dipacu oleh meningkatnya permintaan, misalnya dari produksi nikel.
Pertumbuhan industri tersebut membutuhkan penambahan pembangkit listrik baru. Meskipun energi terbarukan terus didorong di wilayah ini, tantangan utama adalah ketergantungannya pada jaringan transmisi dan distribusi untuk menjangkau konsumen serta sektor-sektor bernilai tambah.
Listrik hijau, terutama dari tenaga air di bagian utara Provinsi Sulawesi Selatan yang harus disalurkan ke pusat-pusat konsumsi di sekitar Makassar dan Palopo, menghadapi tantangan penyaluran. Pembangkit listrik tenaga air sering kali berada jauh dari jaringan yang sudah ada, sementara kapasitas jaringan tersebut untuk menyalurkan atau menyerap tambahan energi terbarukan masih terbatas.
Untuk menyalurkan potensi energi secara efisien dan meningkatkan stabilitas jaringan, sangat penting membangun tulang punggung transmisi tegangan tinggi. Just Energy Transition Partnership (JETP) Indonesia atau Kemitraan Transisi Energi yang Adil, dalam publikasinya menjelaskan bahwa program yang dilaksanakannya merupakan skema kerja sama pendanaan internasional yang dirancang untuk membantu suatu negara mempercepat transisi dari energi fosil ke energi bersih.
Platform pembiayaannya melibatkan kerja sama multilateral antara Pemerintah Indonesia dan kelompok negara maju atau International Partners Group, termasuk Jerman, serta sektor swasta.
Duta Besar Jerman untuk Republik Indonesia (RI), Ralf Beste, dalam peringatan Hari Nasional Jerman ke-36 atau Day of German Unity di Jakarta, Jumat (2/10) malam, menyatakan keterlibatan negaranya dalam program transisi energi di Indonesia memperkuat hubungan bilateral antara Jerman dan Indonesia.
Proyek di Sulawesi Selatan, menurutnya, memegang peran penting melalui pembangunan jaringan transmisi dan gardu induk. Proyek itu, menurut JETP, menghubungkan kapasitas pembangkitan energi terbarukan secara efisien serta mengurangi kehilangan energi.
Total proyek JETP mencapai 680 juta euro dengan panjang jaringan transmisi 400 km yang membentang antara Bakaru–Palopo–Sidrap–Daya Baru–Bantaeng.
Lalu, apa dampak transisi energi bagi kehidupan kita?
Climate Policy Initiative (CPI), institusi yang juga bergerak dalam isu transisi energi, menyatakan bahwa peralihan dari bahan bakar fosil menuju energi bersih dan terbarukan sering kali dipahami sebagai agenda besar di tingkat global atau nasional. Namun, di balik itu, perubahan ini sebenarnya menghadirkan manfaat yang sangat nyata dan langsung dirasakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Mulai dari udara yang lebih bersih, pengeluaran rumah tangga yang lebih hemat, hingga terbukanya peluang ekonomi baru.
Salah satu manfaat paling terasa adalah meningkatnya kualitas lingkungan hidup. Berkurangnya penggunaan batu bara dan bahan bakar fosil secara langsung menekan emisi polusi udara. Di kota-kota besar, kondisi ini membuat udara menjadi lebih bersih dan sehat untuk dihirup. Dampaknya tidak hanya pada kenyamanan, tetapi juga kesehatan masyarakat. Risiko penyakit saluran pernapasan seperti ISPA dan asma dapat ditekan, sehingga beban biaya pengobatan keluarga pun ikut berkurang.
Selain itu, transisi energi juga memberikan keuntungan dari sisi ekonomi rumah tangga. Pemanfaatan teknologi ramah lingkungan, seperti panel surya atap, memungkinkan masyarakat menghasilkan listrik secara mandiri. Dengan demikian, ketergantungan pada listrik konvensional berkurang dan tagihan bulanan menjadi lebih hemat. Di saat yang sama, penerapan efisiensi energi membuat berbagai peralatan rumah tangga bekerja lebih optimal dengan konsumsi daya yang lebih kecil.
Di sektor transportasi, perubahan menuju energi bersih turut menghadirkan alternatif yang lebih ekonomis. Kendaraan listrik, baik motor maupun mobil, menawarkan biaya operasional yang jauh lebih rendah dibandingkan kendaraan berbahan bakar minyak. Selain itu, karakteristik kendaraan listrik yang lebih senyap juga membantu mengurangi polusi suara di jalan raya, menciptakan lingkungan yang lebih nyaman.
Manfaat lain yang tidak kalah penting adalah terbukanya peluang ekonomi baru. Pembangunan infrastruktur energi terbarukan, mulai dari pembangkit listrik hingga sistem distribusi, menciptakan lapangan kerja di berbagai sektor, seperti instalasi, perawatan, hingga industri teknologi hijau. Hal ini memberi kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh keterampilan baru sekaligus meningkatkan pendapatan.
Lebih jauh, transisi energi yang dirancang dengan baik juga memperhatikan aspek keadilan sosial. Pengelolaan pensiun dini pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), misalnya, dapat dilakukan secara terstruktur untuk meminimalkan risiko sosial bagi pekerja dan masyarakat terdampak. Pendekatan ini memastikan bahwa manfaat ekonomi yang dihasilkan tetap terdistribusi secara adil, sekaligus mendukung penghidupan masyarakat di tingkat akar rumput.
CPI menegaskan, dengan berbagai dampak tersebut, transisi energi bukan sekadar perubahan sistem energi, melainkan transformasi menyeluruh yang menyentuh berbagai aspek kehidupan. Ketika dijalankan secara inklusif dan berkelanjutan, transisi ini tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat secara luas. (X-6)
