Tuesday, September 22

Tiongkok Absen di Shangri-La Dialogue, AS Dominasi Forum Pertahanan Asia


Dong Jun.(Al Jazeera)

FORUM pertahanan paling bergengsi di Asia, Shangri-La Dialogue, resmi dibuka pada Jumat (29/5/2026) di Singapura. Namun, sorotan utama tertuju pada absennya pejabat tinggi militer Tiongkok di tengah meningkatnya ketegangan regional terkait isu Taiwan dan konflik di Timur Tengah.

Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, dijadwalkan menjadi pembicara utama dalam pertemuan tiga hari tersebut. Sebaliknya, Menteri Pertahanan Tiongkok, Dong Jun, memilih untuk tidak hadir selama dua tahun berturut-turut. Langkah Beijing ini dipandang oleh sejumlah analis sebagai sinyal kepercayaan diri Tiongkok sebagai kekuatan besar yang mulai menjaga jarak dari forum-forum Barat.

Seruan Vietnam untuk Diplomasi Nyata

Pemimpin Vietnam, To Lam, dalam pidato pembukaannya pada Jumat (29/5) malam, mendesak negara-negara peserta untuk menjadikan dialog ini sebagai instrumen pengurangan risiko yang efektif. Ia menekankan bahwa Shangri-La Dialogue tidak boleh sekadar menjadi panggung untuk menyatakan kembali posisi masing-masing negara.

“Kompetisi harus dibatasi oleh hukum, dipandu oleh transparansi, dan dijalankan dengan menahan diri,” tegas Lam. Meskipun tidak menyebut nama Amerika Serikat atau Tiongkok secara eksplisit, ia menyerukan komitmen bertanggung jawab dari negara-negara berpengaruh di dalam maupun luar kawasan.

Terkait sengketa di Laut China Selatan, Lam menegaskan bahwa posisi Vietnam tetap jelas, konsisten, dan berprinsip. Sebagai presiden sekaligus pemimpin Partai Komunis yang baru terpilih, Lam kini dianggap sebagai pemimpin paling kuat di Vietnam dalam beberapa dekade terakhir.

Absensi Tiongkok: Strategi atau Kendala Internal?

Ketidakhadiran Dong Jun memupus harapan akan ada pertemuan tatap muka dengan Hegseth. Padahal, Washington tengah berupaya menguji komitmen Beijing terkait stabilitas Taiwan dan mencari dukungan untuk mengakhiri ketegangan di Iran. Sebagai gantinya, Tiongkok mengirimkan delegasi yang terdiri dari pakar dan akademisi militer yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Meng Xiangqing dari Universitas Pertahanan Nasional.

William Choong, peneliti senior di ISEAS-Yusof Ishak Institute, menilai absennya Menhan Tiongkok menunjukkan posisi tawar Beijing yang menguat. “Tiongkok benar-benar tiba sebagai kekuatan utama di kawasan ini, sehingga mereka merasa tidak perlu mengirim menteri pertahanannya untuk menghadapi rentetan pertanyaan kritis,” ujarnya.

Namun, pengamat lain menyoroti faktor internal. Dua mantan menteri pertahanan Tiongkok sebelumnya, Wei Fenghe dan Li Shangfu, kini tengah menghadapi hukuman mati yang ditangguhkan atas tuduhan korupsi. “Menjadi menteri pertahanan Tiongkok dan berbicara di depan publik saat ini seperti memegang cawan beracun,” kata Jennifer Parker, profesor dari University of Western Australia.

Fokus pada Aliansi AUKUS

Selain ketegangan AS-Tiongkok, forum ini juga menjadi ajang pertemuan menteri pertahanan dari aliansi AUKUS (Amerika Serikat, Inggris, dan Australia). Aliansi ini secara luas dipandang sebagai benteng pertahanan terhadap ekspansi militer Tiongkok di Asia-Pasifik.

Menteri Pertahanan Australia, Richard Marles, menyatakan keprihatinannya atas pembangunan militer Tiongkok yang masif tanpa ada jaminan strategis yang memadai. Laporan media Australia menyebutkan bahwa negara-negara AUKUS kemungkinan akan mengumumkan proyek besar baru dalam forum ini, termasuk pengembangan kendaraan bawah air tak berawak (UUV).

Catatan Redaksi: Shangri-La Dialogue tahun ini diikuti oleh pejabat tinggi dari sekitar 45 negara, menjadikannya barometer penting bagi stabilitas keamanan global di tengah dinamika geopolitik yang kian memanas. (AFP/I-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *