
MOMENTUM Hari Pendidikan Nasional, yang diperingati setiap tanggal 2 Mei, menjadi pengingat penting bagi orangtua mengenai peran mereka sebagai pendidik pertama, terutama di era digital. Psikolog Klinis Anak dan Remaja, Gisella Tani Pratiwi, M.Psi, menekankan bahwa keterlibatan orangtua dalam mengelola penggunaan teknologi anak harus dimulai sedini mungkin.
Menurut Gisella, intervensi sejak dini sangat krusial untuk membentuk kebiasaan yang sehat. Jika dibiarkan tanpa pengawasan sejak awal, orangtua akan menghadapi kesulitan besar dalam mengubah pola perilaku anak di kemudian hari.
“Kita tidak bisa menghindari pengaruh dari dunia digital, namun perlu mengusahakan supaya anak punya kebiasaan yang baik menggunakan alat-alat digital, tapi tetap mengembangkan karakteristik terbaik dirinya,” ujar lulusan Universitas Indonesia tersebut, dikutip Sabtu (2/5).
Panduan Durasi dan Konten Berdasarkan Usia
Gisella menjelaskan bahwa batasan penggunaan internet dan media sosial harus disesuaikan dengan tahapan usia anak. Semakin muda usia anak, maka semakin ketat pula batasan durasi dan jenis materi yang dikonsumsi.
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas bagi para orang tua, berikut adalah ringkasan panduan penggunaan perangkat digital berdasarkan kelompok usia menurut pemaparan Gisella Tani Pratiwi:
| Kelompok Usia | Rekomendasi Durasi | Fokus Utama & Ketentuan |
|---|---|---|
| Di bawah 3 Tahun | Maksimal 15 menit/hari | Minimalkan gadget; fokus pada perkembangan sensori motorik dan kedekatan emosional (attachment) dengan pengasuh. |
| 3 – 6 Tahun | Sekitar 30 menit/hari | Konten sesuai usia (gim/tontonan); dilarang memiliki akses ke media sosial. |
| Usia Sekolah Dasar (SD) | Sesuai kesepakatan | Aturan jelas dan realistis; penggunaan untuk belajar tetap harus dibimbing agar perilaku digital tetap sehat. |
Membangun Keseimbangan Aktivitas
Selain mengatur durasi, Gisella mengingatkan orangtua untuk menjadi teladan dalam menggunakan teknologi. Orangtua perlu memberikan contoh mengenai tujuan yang sehat saat berselancar di internet atau menggunakan media sosial.
Hal yang tidak kalah penting adalah menyediakan alternatif kegiatan nonelektronik yang menarik. Tanpa adanya pilihan aktivitas fisik atau hobi yang menyenangkan di dunia nyata, anak cenderung akan terokupasi dan hanya terfokus pada gawai mereka.
“Perlu ada penyeimbang yang cukup baik dari sejak dini, yang sesuai dengan minat anak dan sesuai dengan kebutuhan perkembangannya,” pungkas Gisella. (Ant/Z-1)
