Saturday, September 26

Trump Peringatkan Taiwan Jangan Deklarasikan Kemerdekaan, Taipei Kami Negara Berdaulat


Presiden Taiwan, Lai Ching-te(Media Sosial X)

TAIWAN menegaskan kembali statusnya sebagai negara yang berdaulat dan merdeka. Pernyataan ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memperingatkan pulau berstatus self-governing tersebut agar tidak secara resmi mendeklarasikan kemerdekaan dari Tiongkok.

Pernyataan Trump tersebut disampaikan usai menghadiri KTT dua hari di Beijing bersama Presiden Tiongkok, Xi Jinping. Dalam pertemuan itu, Trump mengaku tidak memberikan komitmen apa pun terkait Taiwan, wilayah yang diklaim Tiongkok sebagai bagian dari teritorinya. Selain itu, Trump juga menyatakan akan segera memutuskan apakah bakal menyetujui paket penjualan senjata senilai US$11 miliar ke Taiwan.

Merespons hal tersebut, Juru Bicara Kepresidenan Taiwan, Karen Kuo, menyatakan pada hari Sabtu bahwa sudah menjadi hal yang jelas bahwa Taiwan adalah “negara demokratis yang berdaulat dan merdeka.” Kendati demikian, ia menambahkan bahwa Taiwan tetap berkomitmen untuk mempertahankan status quo, situasi di mana Taiwan tidak mendeklarasikan kemerdekaan resmi maupun bersatu dengan Tiongkok.

Presiden Taiwan, Lai Ching-te, sebelumnya juga sempat menyatakan bahwa Taiwan tidak perlu mendeklarasikan kemerdekaan formal karena telah menganggap dirinya sebagai negara yang berdaulat.

Di sisi lain, dalam wawancara dengan Fox News setelah bertemu Xi Jinping, Trump menegaskan bahwa kebijakan AS terhadap Taiwan belum berubah. Ia menekankan tidak ingin melihat adanya konflik di Selat Taiwan.

“Saya tidak ingin seseorang merdeka,” ujar Trump. “Sebab tahu sendiri, kita harus menempuh perjalanan 9.500 mil (15.289 km) untuk berperang. Saya tidak menginginkan hal itu. Saya ingin mereka tenang. Saya ingin Tiongkok tenang.”

Trump juga mengungkapkan Xi Jinping memiliki sikap yang sangat keras terkait Taiwan dan tidak ingin melihat adanya gerakan kemerdekaan. Selama ini, Beijing kerap menunjukkan ketidaksukaannya pada Presiden Lai Ching-te, bahkan menjulukinya sebagai “pembuat masalah” dan “perusak perdamaian lintas selat”.

Secara hukum, AS wajib menyediakan sarana pertahanan bagi Taiwan. Namun, Washington harus menyeimbangkan aliansi tersebut dengan menjaga hubungan diplomatik dengan Tiongkok, mengingat posisi resmi AS adalah tidak mendukung kemerdekaan Taiwan.

Menanggapi dinamika ini, juru bicara kepresidenan Taiwan menyampaikan rasa terima kasihnya atas perhatian AS.

“Bangsa kami berterima kasih kepada Presiden Trump atas dukungannya yang berkelanjutan terhadap keamanan di Selat Taiwan sejak masa jabatan pertamanya,” kata juru bicara kepresidenan Taiwan.

“Taiwan akan terus memperdalam kerja sama dengan AS untuk mencapai perdamaian melalui kekuatan, memastikan bahwa perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan tidak terancam atau dirusak, yang mana ini demi kepentingan bersama Taiwan, AS, dan komunitas demokratis global.” (BBC/Z-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *