
WABAH virus hanta diduga menyebar di Kapal Pesiar MV Hondius milik Oceanwide Expeditions. Insiden ini menurut laporan WHO terkait adanya infeksi terdeteksi yang terdeteksi dari penumpang di kapal tersebut. Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman menjelaskan pencegahan virus hanta dari kotoran tikus ke manusia dapat dilakukan dengan mengendalikan hama tikus, terutama saat banjir.
Berikut pengendalian tikus untuk cegah wabah virus Hanta
- Tutup akses tikus ke rumah atau gudang
- Simpan makanan dalam wadah tertutup
- Bersihkan lingkungan yang lembab
Selain virus hanta, Dicky mengingatkan risiko penyakit lain yang berasal dari kotoran tikus saat musim hujan yakni risiko leptospirosis dari urin tikus.
Adapun perbedaan leptospirosis dan virus hanta yakni pada dampak penularan di organ tubuh manusia. Virus hanta menyerang paru-paru dan menyebabkan kematian cepat. Sedangkan leptospirosis menyerang ginjal dan hati
“Gunakan sepatu bot misalnya kalau banjir, juga hindari kontak dengan air kotor apalagi kalau ada luka,” ucap dia.
Untuk orang yang bekerja atau melakukan bersih-bersih gudang di ruang tertutup disarankan memakai masker serta rutin mencuci tangan. Selain itu ia menyarankan penggunaan desinfektan terlebih dahulu sebelum dibersihkan, dan menggunakan masker saat membersihkan debu di ruangan tertutup.
Kronologi Wabah Virus Hanta di Kapal Pesiar
WHO mengungkap kronologi awal kejadian wabah virus Hanta di kapal pesiar.
- 2 Mei 2026, dilaporkan kematian penumpang dengan gejala gangguan pernapasan berat.
- 4 Mei 2026, tercatat tujuh kasus yang berkaitan dengan virus Hanta. Dua kasus terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium dan lima lainnya masih berstatus suspek. Tiga orang dilaporkan meninggal dunia, satu pasien dalam kondisi kritis, dan tiga lainnya mengalami gejala ringan.
“Investigasi lanjutan masih berlangsung. Wabah ini ditangani melalui respons internasional terkoordinasi, termasuk investigasi mendalam, isolasi dan perawatan pasien, evakuasi medis, serta pemeriksaan laboratorium,” pernyataan WHO dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (5/5). (Ant/H-4)
