
DINAS Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon segera merealisasikan pembangunan 73 titik sumur resapan air atau biopori yang tersebar di 34 kecamatan. Langkah ini diambil sebagai upaya strategis untuk meningkatkan daya resap air ke dalam tanah sekaligus meminimalisasi risiko banjir di wilayah tersebut.
Sekretaris DLH Kabupaten Cirebon, Sugeng Wahyudi, menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk mengubah pola aliran air hujan yang selama ini hanya melimpas di permukaan (run-off). Dengan adanya sumur resapan, air hujan akan dialirkan ke dalam tanah untuk memperkuat cadangan air tanah.
“Langkah tersebut menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan daya resap air hujan. Biasanya air itu hanya menggelontor saja. Nah, ini kita masukkan ke dalam tanah sehingga nantinya bisa menjadi cadangan di bawah tanah,” ujar Sugeng, Minggu (20/9).
Distribusi Berdasarkan Karakteristik Wilayah
Pembangunan 73 titik sumur resapan ini tidak dipukul rata di setiap wilayah. Penentuan jumlah titik di setiap desa akan menyesuaikan dengan kondisi geografis dan kebutuhan spesifik lapangan. Menurut Sugeng, setiap desa bisa mendapatkan alokasi yang berbeda, berkisar antara satu hingga tiga titik.
“Titik sumur resapan akan disebar sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing wilayah atau desa. Per desa jumlahnya macam-macam, tergantung kebutuhan di lokasi,” jelasnya.
Fokus utama pembangunan diarahkan pada kawasan yang selama ini sering mengalami persoalan genangan atau banjir. Wilayah Cirebon bagian timur dan utara menjadi prioritas perhatian karena intensitas genangan yang cukup tinggi di sejumlah lokasi saat musim hujan.
Konstruksi dan Konservasi Air
Dari sisi teknis, sumur resapan ini menggunakan konstruksi buis beton atau cincin beton. Untuk memastikan proses peresapan berjalan optimal, bagian bawah sumur dilengkapi dengan sistem penyaringan yang menggunakan material alam seperti batu dan pasir.
“Konsepnya bukan sekadar lubang resapan biasa, tetapi menggunakan beton dengan penyaring di bawahnya agar air bisa masuk ke tanah dengan lebih baik,” ungkap Sugeng.
Meski demikian, Sugeng memberikan catatan bahwa keberadaan sumur resapan ini bukan solusi tunggal yang dapat menghapus banjir secara instan dan menyeluruh. Program ini lebih dititikberatkan pada fungsi konservasi air jangka panjang dan pengurangan limpasan air hujan.
“Kalau untuk mengurangi banjir secara signifikan memang tidak bisa hanya dengan upaya ini. Tetapi ini menjadi salah satu langkah penting dalam manajemen pengelolaan air di Kabupaten Cirebon,” pungkasnya. (H-3)
