
Efisiensi biaya operasional menjadi alasan utama masyarakat beralih ke kendaraan listrik. Nia (45), warga Cibubur, mengungkapkan bahwa biaya pengisian daya kendaraan listrik jauh lebih hemat dibandingkan pengeluaran bahan bakar minyak (BBM). Jika sebelumnya pengeluaran bensin harian mencapai Rp150 ribu hingga Rp200 ribu, kini biaya pengisian daya listrik berkisar Rp60 ribu hingga Rp80 ribu tergantung jarak tempuh.
Selain hemat biaya operasional dan bebas dari pembatasan aturan ganjil genap, Nia berharap jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) terus diperbanyak, khususnya di lokasi yang masih minim fasilitas pengisian 24 jam demi memangkas waktu antrean.
“Lebih mudah mencarinya, enggak susah-susah cari SPKLU. Kami pengguna tentu mencari untuk cas 24 jam. Semoga SPKLU ditambah lagi di titik-titik yang jarang tersedia, supaya pengguna kendaraan listrik lebih mudah mencari tempat untuk mengisi daya,” ujar Nia saat ditemui di kawasan Cibubur, Sabtu (10/10/2026).
Peluang Usaha dan Komitmen Perluasan Ekosistem EV
Pertumbuhan populasi kendaraan listrik di Indonesia turut membuka peluang bisnis diversifikasi infrastruktur pendukung, salah satunya ditandai dengan peresmian Grand Opening & Launching SPKLU Center Nusa Volt di Cibubur, Jumat (9/10/2026).
Direktur PT Persembahan Anugrah Prakasa sekaligus mantan Sekda Sumatra Selatan, Nasrun Umar, menegaskan pentingnya penyediaan energi terbarukan guna mengimbangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
“Sebagai seorang pengusaha, tentu kita punya kewajiban melihat peluang usaha itu. Saya melihat kendaraan listrik (electric vehicle) ini makin hari makin tumbuh berkembang populasinya. Kita harus berpikir tentang energi terbarukan, dan itu ada di energi listrik dengan kendaraan electric vehicle-nya,” kata Nasrun Umar.
Layanan 24 Jam dan Fasilitas Inklusif untuk Semua Segmen
Nasrun menekankan bahwa kepuasan pelanggan (customer satisfaction) menjadi pilar penting bisnis SPKLU. Oleh karena itu, operasional SPKLU Center Nusa Volt disiapkan berjalan 24 jam dengan fasilitas pendukung seperti musala, toilet, dan layanan cuci mobil guna memberikan kenyamanan saat pengisian daya.
Ia menambahkan bahwa layanan pengisian daya harus bersifat inklusif menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk para pengemudi ojek daring (online).
“Bagaimana bisnis itu bisa kita kelola, how to make the customer satisfied, bagaimana membuat pelanggan itu menjadi puas dengan segala keterbatasan, kelebihan, dan kekurangan kita. Middle to low harus juga kita sentuh karena itu bagian dari kami ingin mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah, sambil mencari nafkah di sini,” pungkas Nasrun.(H-2)
