
RATUSAN demonstran ditangkap di Delhi, India, saat menggelar aksi unjuk rasa yang dipimpin oleh Cockroach Janta Party (CJP), gerakan pemuda yang didominasi Generasi Z. Aksi tersebut digelar untuk menuntut reformasi pemilu beberapa bulan sebelum pemilihan tingkat negara bagian dimulai.
CJP melaporkan bahwa pendirinya, Abhijeet Dipke, ditangkap bersama sejumlah pimpinan gerakan tak lama setelah mendarat di Delhi dari Mumbai. Dipke memulai gerakan ini pada Mei lalu setelah Ketua Mahkamah Agung India sempat mengibaratkan sebagian pemuda pengangguran seperti “kecoa”.
Puluhan ribu personel keamanan dikerahkan dan berbagai barikade jalan dipasang untuk mengantisipasi gelombang massa. Kepolisian Delhi menolak memberikan izin demonstrasi di Jantar Mantar, lokasi ikonik unjuk rasa di ibu kota India tersebut.
Selain menuntut reformasi sistem pemilu, kelompok yang belum terdaftar resmi sebagai partai politik ini mendesak pengunduran diri Ketua Komisi Pemilu (CEC) Gyanesh Kumar. CJP memprotes dugaan manipulasi daftar pemilih, tudingan yang telah dibantah tegas oleh Komisi Pemilu.
Komisi Pemilu menyatakan pembaruan daftar pemilih secara nasional merupakan prosedur rutin untuk menghapus pemilih yang telah meninggal, ganda, atau tidak memenuhi syarat. Namun, pelaksanaan pembaruan tersebut memicu kontroversi di berbagai negara bagian setelah puluhan ribu warga mengaku nama mereka dihapus secara tidak sah.
CJP bersama partai-partai oposisi menuduh Kumar memberikan keuntungan bagi Partai Bharatiya Janata (BJP) pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi. Pihak Komisi Pemilu dan BJP telah membantah tuduhan tersebut.
Pendiri Ditangkap di Lokasi Tak Diketahui
Sebelum tiba di Delhi, pendiri CJP Abhijeet Dipke sempat menyampaikan perlawanannya terhadap ancaman penangkapan.
“Jika Anda berpikir bisa menghentikan kami dengan mengancam kami dengan penjara atau mencoba menakut-nakuti kami dengan ketakutan akan pemenjaraan, Anda salah,” kata Dipke.
Dipke ditangkap bersama dua pemimpin lainnya, Saurav Das dan Ashutosh Ranka, di dalam penerbangan dari Mumbai. CJP mengklaim ketiga pimpinan mereka dibawa ke lokasi yang tidak diketahui.
Pimpinan yang ditunjuk menggantikan posisi sementara, Ajinkya Shinde, merilis pesan video yang menyerukan, “Jika Kepolisian Delhi mencoba menghentikan Anda, di mana pun mereka menghentikan Anda akan menjadi Jantar Mantar Anda.”
Aktivis mahasiswa Neha Bora yang turut ditangkap polisi juga mengimbau agar para demonstran tetap bertahan.
Akses menuju lokasi demonstrasi ditutup ketat. Beberapa perjalanan kereta dari dan menuju stasiun utama Delhi dibatalkan, sementara puluhan stasiun metro ditutup. Polisi terlihat membawa pergi bus-bus yang dipenuhi oleh para demonstran yang ditangkap.
Seorang demonstran, Sabika Muzaffar, mengungkapkan situasinya sebelum akhirnya ditangkap oleh petugas.
“Dalam perjalanan ke lokasi unjuk rasa, alih-alih membaca nyanyian dan ayat-ayat seperti yang biasa kami lakukan, saya dan ibu saya menghafal nomor pengacara kami,” ujar Muzaffar.
Ia menegaskan bahwa hadir dalam demonstrasi adalah “caranya membela negara dan demokrasinya.”
Asal-usul Gerakan “Partai Kecoa”
Gerakan CJP muncul sebagai kekuatan unjuk rasa besar selama beberapa pekan pada musim panas lalu untuk menuntut reformasi pendidikan. Aksi tersebut berakhir dengan pengunduran diri Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan pada bulan Juli.
CJP berawal dari gurauan Dipke di media sosial X pada bulan Mei lalu: “Bagaimana jika semua kecoa bersatu?” Unggahan tersebut dibuat merespons pernyataan Ketua Mahkamah Agung India Surya Kant yang mengibaratkan pemuda tanpa pekerjaan seperti “kecoa”, meski belakangan disanggah bahwa pernyataan tersebut salah ditafsirkan.
Dipke, yang sebelumnya pernah bekerja dengan partai oposisi Aam Aadmi Party (AAP) dan baru menyelesaikan gelar master di Boston University, berhasil menyalurkan amarah publik terkait pengangguran, kebocoran soal ujian, dan akuntabilitas pemerintah hingga membentuk gerakan CJP. (BBC/Z-2)
