
MENDIAGNOSIS Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) pada anak sering kali memakan waktu lama, bahkan terkadang baru terungkap setelah masalah di sekolah menumpuk. Namun, sebuah riset terbaru menawarkan harapan baru, alat kecerdasan buatan (AI) yang mampu memprediksi risiko ADHD bertahun-tahun sebelum diagnosis resmi diberikan secara klinis.
Deteksi dini ini krusial agar anak bisa mendapatkan dukungan lebih awal, tepat saat kemampuan bersosialisasi, prestasi akademik, dan kepercayaan diri mereka sedang dalam masa pembentukan.
Membaca “Sinyal Tersembunyi” dalam Rekam Medis
Tim peneliti dari Duke University School of Medicine (Duke Med), yang dipimpin Elliot D. Hill, melakukan penelusuran terhadap catatan pediatrik rutin sejak bayi lahir hingga usia dini. Mereka menemukan bahwa pola perilaku dan perkembangan anak sering kali membawa petunjuk halus sebelum gejala ADHD menjadi nyata.
Alih-alih bergantung pada satu tanda peringatan, perangkat lunak ini mengenali kombinasi pola yang berulang terkait perkembangan, perilaku, hingga kualitas tidur anak. “Kami memiliki sumber informasi yang sangat kaya dalam catatan kesehatan elektronik,” ungkap Hill.
Akurasi Tinggi untuk Intervensi Dini
Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Nature Mental Health ini, tim melatih alat AI tersebut menggunakan data lebih dari 720.000 pasien. Hasilnya luar biasa, pada usia lima tahun, model ini mencapai skor akurasi 0,92 dalam memprediksi diagnosis ADHD hingga empat tahun ke depan.
Sebagai gambaran, skor 1.0 berarti prediksi sempurna. Angka 0,92 menunjukkan sinyal yang sangat kuat untuk membantu dokter menyaring anak-anak mana yang membutuhkan pemantauan lebih intensif sebelum masalah perilaku mereka memburuk di sekolah.
Bukan Pengganti Dokter, Melainkan Asisten Cerdas
Meski sangat akurat, peneliti menegaskan alat ini bukanlah penentu diagnosis akhir. Keputusan medis tetap berada di tangan tenaga profesional.
“Ini bukan dokter AI,” tegas Dr. Matthew Engelhard, penulis senior dan peneliti biostatistik di Duke Med. “Klinisi tetap membutuhkan wawancara keluarga, laporan guru, dan riwayat perkembangan sebelum membuat diagnosis atau rujukan ADHD.”
Tanpa keterlibatan manusia, skor risiko ini dikhawatirkan hanya akan menjadi “label” tanpa adanya tindakan medis yang tepat. Fokus utamanya adalah memberikan alasan kuat bagi dokter yang sibuk untuk memeriksa seorang pasien dengan lebih mendalam.
Pentingnya Dukungan Sejak Dini
ADHD memengaruhi sekitar 10,47% anak-anak di AS usia 4 hingga 17 tahun pada periode 2021-2022. Dengan deteksi yang lebih cepat, keluarga memiliki waktu lebih banyak untuk mempelajari strategi pengasuhan, dukungan kelas, dan rencana koping sebelum rasa frustrasi menghambat masa depan anak.
Melalui integrasi catatan medis rutin, pemodelan AI yang teliti, dan tindak lanjut klinis, kekhawatiran awal yang berserakan bisa diubah menjadi perhatian tepat waktu. Dengan demikian, anak-anak tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan guna membangun masa depan yang lebih cerah. (Earth/Z-2)
