
MENTERI Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, turun langsung meninjau sawah terdampak banjir dan kawasan permukiman warga yang terendam di Sulawesi Tenggara, Selasa (12/5). Dalam kunjungan tersebut, pemerintah pusat memastikan penyaluran bantuan pemulihan pertanian dan bantuan kemanusiaan senilai sekitar Rp10 miliar.
Kunjungan lapangan dilakukan bersama Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Hugua, dengan meninjau lahan pertanian terdampak banjir di Desa Amohalo, Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan, serta kawasan banjir Kali Wanggu di Kelurahan Lepo-Lepo, Kecamatan Baruga, Kota Kendari.
Di Desa Amohalo, Mentan melihat langsung hamparan sawah yang terendam banjir akibat cuaca ekstrem dalam beberapa hari terakhir. Sementara di bantaran Kali Wanggu, ia berdialog dengan warga terdampak sekaligus menyerahkan bantuan darurat.
“Terus ada juga untuk pembelian mi instan, karena saya pernah merasakan bencana. Ada Rp500 juta seadanya, karena ini adalah kampung halaman saya,” ujar Amran di hadapan warga terdampak banjir.
Selain bantuan tunai, pemerintah pusat melalui Badan Pangan Nasional juga menyalurkan bantuan pangan berupa 30 ton beras, 1,5 ton minyak goreng, serta kebutuhan pokok lainnya untuk masyarakat terdampak.
“Kami datang untuk memberikan solusi. Terkait seluruh masalah pangan sudah kami putuskan semua,” katanya.
Tak hanya fokus pada bantuan kemanusiaan, pemerintah juga menyiapkan langkah pemulihan sektor pertanian yang terdampak banjir. Amran menyebut bantuan yang diberikan mencakup alat dan mesin pertanian, benih dan bibit untuk lahan sekitar 2.000 hektare, hingga bantuan dryer atau alat pengering gabah untuk gudang Bulog.
“Alat mesin pertanian, benih, bibit untuk 2.000 hektare. Kurang lebih Rp10 miliar bantuan yang kami salurkan, termasuk dryer untuk gudang Bulog juga,” ujarnya.
Mentan menegaskan pemerintah pusat tidak ingin penanganan banjir hanya bersifat sementara. Karena itu, pemerintah langsung menginstruksikan percepatan pembangunan dan perbaikan tanggul untuk mengatasi sumber persoalan banjir di wilayah tersebut.
“Ini harus dibereskan sumber masalahnya semua. Tanggul dibangun, kami sudah telepon Dirjen Kementerian PU yang bertanggung jawab. Dananya siap, alatnya sudah siap. Kami minta satu minggu, paling lambat dua minggu selesai,” tegasnya.
Menurut Amran, langkah cepat diperlukan karena banjir tidak hanya berdampak pada permukiman warga, tetapi juga mengancam ketahanan pangan dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Sementara itu, Wakil Gubernur Sultra, Hugua, menyampaikan apresiasi atas perhatian cepat pemerintah pusat terhadap kondisi masyarakat Sulawesi Tenggara.
“berharap bantuan dan percepatan pembangunan infrastruktur pengendali banjir dapat mempercepat pemulihan masyarakat serta mencegah bencana serupa kembali terjadi,” ucap dia. (RR/E-4)
