
ANAK-anak dan remaja di Kota Sorong bergerak lincah mengikuti irama musik yang energik, menampilkan Tari Yospan dengan penuh percaya diri. Di balik setiap langkah dan hentakan kaki yang serempak, tersimpan misi besar untuk menjaga identitas budaya Papua agar tidak pudar ditelan zaman. Semangat ini terpancar dalam Lomba Tari Yospan tingkat anak-anak dan remaja yang digelar dalam rangka memperingati Hari ke-80 Bhayangkara.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Polda Papua Barat Daya ini berlangsung di Gedung Lambert Jitmau, Kota Sorong, pada Sabtu (20/6/2026). Acara tersebut dibuka langsung oleh Kapolda Papua Barat Daya, Brigjen Gatot Haribowo, dan dihadiri oleh Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Sorong, James Burung, serta jajaran pejabat daerah lainnya.
Dalam sambutannya, Kapolda Brigjen Gatot Haribowo menegaskan bahwa pelestarian nilai-nilai kearifan lokal merupakan tanggung jawab bersama. Menurutnya, kepolisian tidak hanya bertugas menjaga keamanan, tetapi juga memiliki peran dalam merawat akar budaya masyarakat.
“Polda Papua Barat Daya berkomitmen untuk selalu menjaga dan melestarikan apa yang menjadi nilai-nilai kearifan lokal tersebut. Kalau tidak kita, siapa lagi?” ujar Gatot dalam keterangan yang dikutip pada Minggu (21/6/2026).
Ia menambahkan bahwa Tari Yospan, sebagai tradisi pergaulan muda-mudi Papua, harus tetap eksis di tengah gempuran budaya luar. Budaya lokal dianggap sebagai jembatan yang menghubungkan antargenerasi, mulai dari anak-anak hingga orang tua, sekaligus menjadi benteng identitas masyarakat Papua.
Pentingnya Filter Budaya: Kapolda mengingatkan bahwa pengaruh budaya luar memiliki sisi positif dan negatif. Oleh karena itu, mempertahankan kearifan lokal menjadi kunci untuk menjaga moralitas dan jati diri generasi muda Papua.
Wadah Ekspresi Generasi Muda
Ketua Panitia Lomba, AKB Eddward M. Pandjaitan, menjelaskan bahwa perlombaan ini diselenggarakan oleh Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Papua Barat Daya. Peserta lomba terdiri dari pelajar sekolah dasar dan anggota sanggar seni di Kota Sorong dengan batasan usia maksimal 15 tahun.
Tari Yospan (Yosim Pancar) dipilih karena filosofinya yang mendalam. Tarian ini bukan sekadar gerak badan, melainkan simbol dari:
- Persaudaraan: Mempererat ikatan antarwarga.
- Persatuan: Menyatukan perbedaan dalam satu irama.
- Kebersamaan: Menunjukkan kekuatan kolektif masyarakat.
- Gotong Royong: Mencerminkan semangat kerja sama khas Papua.
Meskipun dilaksanakan pada masa libur sekolah yang membuat jumlah peserta belum maksimal, antusiasme yang ditunjukkan para peserta tetap luar biasa. Kapolda mengapresiasi sportivitas para peserta dan menekankan bahwa ajang ini adalah sarana untuk mengukur sejauh mana keterampilan seni yang telah mereka pelajari di sekolah maupun sanggar.
Sinergi Polri dan Masyarakat
Melalui pendekatan budaya, Polri berharap hubungan dengan masyarakat semakin erat. Lomba ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengekspresikan bakat sekaligus menanamkan rasa bangga terhadap warisan leluhur sejak dini.
Eksistensi Tari Yospan di panggung formal seperti peringatan Hari Bhayangkara membuktikan bahwa budaya lokal memiliki tempat terhormat dalam agenda kenegaraan dan institusi. Dengan demikian, diharapkan estafet pelestarian budaya Papua dapat terus berlanjut ke tangan generasi penerus bangsa.
| Detail Kegiatan | Keterangan |
|---|---|
| Nama Acara | Lomba Tari Yospan Hari Bhayangkara ke-80 |
| Lokasi | Gedung Lambert Jitmau, Kota Sorong |
| Penyelenggara | Ditpolairud Polda Papua Barat Daya |
| Kategori Peserta | Anak-anak & Remaja (Maksimal 15 Tahun) |
Gerakannya yang dinamis dan penuh semangat melambangkan kegembiraan, kebebasan, dan semangat gotong royong masyarakat Papua. (MS/I-1)
