Sunday, October 4

Ancaman Penyakit Menular Baru, Ekosistem Inovasi Vaksinasi Perlu Diperkuat


Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin Measles Rubella (Campak dan Rubella) ke murid kelas 1 di Madrasah Ibtidaiyah Al Jihad, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Sabtu (22/8/2026)(ANTARA/Auliya Rahman)

VAKSINASI telah diakui secara global sebagai salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang paling efektif dalam mencegah jutaan kematian setiap tahunnya. Namun, kondisi darurat kesehatan global belakangan ini mengungkapkan adanya kesenjangan yang berlanjut pada kapasitas uji klinis, manufaktur, hingga akses vaksin yang adil (equitable access).

Guru Besar bidang Ilmu Farmakologi dan Terapi Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Prof. dr. Jarir At Thobari, D.Pharm, PhD., menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menjembatani prioritas global dengan kebutuhan lokal.

“Vaksinasi tetap menjadi salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang paling efektif dan berdampak, mencegah jutaan kematian setiap tahunnya dan secara signifikan mengurangi beban penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi di seluruh dunia,” terang Prof. Jarir saat memberikan sambutan dalam International Vaccine Symposium 2026 di Auditorium FK-KMK UGM, Yogyakarta, Jumat (2/10).

Meskipun efektif, Prof. Jarir menyoroti bahwa darurat kesehatan global baru-baru ini menunjukkan disparitas yang masih nyata dalam riset dan pengembangan vaksin, kapasitas uji klinis, kemampuan manufaktur, kesiapan regulasi, serta akses yang adil. Menurutnya, memperkuat ekosistem riset dan inovasi vaksinasi menjadi perhatian mendesak bagi kawasan Asia-Pasifik guna merespons ancaman penyakit menular dan menjaga ketahanan kesehatan publik.

“Simposium ini diharapkan dapat memperkuat jejaring profesional serta mempercepat translasi inovasi sains menjadi kebijakan imunisasi yang nyata dan merata di kawasan Asia-Pasifik,” ungkap Prof. Jarir selaku Ketua International Vaccine Symposium 2026.

Tantangan Vaksinasi di Masa Depan

Dekan FK-KMK UGM, Prof. Yodi Mahendradhata, turut menyampaikan pandangannya mengenai ancaman penyakit menular baru (emerging infectious diseases) serta pemenuhan kebutuhan vaksin di masa depan. Ia menegaskan bahwa Universitas Gadjah Mada (UGM) terus memperkuat kolaborasi strategis untuk membangun ekosistem inovasi vaksin global yang aman, efektif, dan terjangkau.

Upaya global ini, menurut Prof. Yodi, menghadapi tantangan kompleks yang tidak hanya bersifat teknis dan logistik, tetapi juga tekanan dari isu lingkungan, konflik, hingga maraknya informasi palsu.

“Kita tahu ini tidak akan mudah. Kemunculan infeksi baru dan perubahan iklim memberi tekanan pada sistem kesehatan, konflik dan ketimpangan membuat akses semakin sulit, serta disinformasi dapat merusak kepercayaan publik,” jelasnya.

Untuk mengatasi hambatan tersebut, ia menekankan pentingnya sinergi antara peneliti, regulator, produsen, hingga penyedia layanan kesehatan masyarakat. Sinergi ini menjadi kunci utama dalam memastikan vaksin dapat diterima dan dijangkau oleh semua orang.

“Ilmuwan mempelajari penyakit dan mengembangkan calon vaksin, tim peneliti menguji keamanan, regulator meninjau bukti, produsen memproduksi, dan layanan kesehatan mendistribusikan. Di sini, kepercayaan publik sangatlah esensial,” tegas Prof. Yodi.

Simposium internasional bertema “Building the Vaccine Innovation Ecosystem: From Global Priorities to Local Impact” ini merupakan hasil kolaborasi antara FK-KMK UGM, Academic Research Organisations Alliance for Southeast and East Asia (ARISE), dan Asia Pacific Vaccine Research Network (APVRN). (H-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *