Friday, October 2

Angka Kejadian Strok Menurun secara Umum, tetapi Meningkat Dua Kali Lipat pada Usia Muda


Ilustrasi, jenis-jenis stroke.(Dok. Magnific)

MESKIPUN angka kejadian stroke (strok) secara keseluruhan di Amerika Serikat menunjukkan penurunan, sebuah tren mengkhawatirkan muncul pada kelompok usia produktif. Berdasarkan studi populasi besar yang diterbitkan dalam jurnal Neurology, orang dewasa berusia 20 hingga 54 tahun kini hampir dua kali lebih berisiko mengalami strok dibandingkan dengan kelompok usia yang sama pada 27 tahun lalu.

Tim peneliti yang dipimpin oleh ilmuwan dari University of Cincinnati, Ohio, menganalisis data kejadian strok yang memerlukan rawat inap di wilayah Greater Cincinnati dan Northern Kentucky. Studi ini mencakup enam periode waktu, mulai dari Juli 1993 hingga tahun 2020.

Lonjakan Kasus Strok Iskemik

Hasil analisis menunjukkan peningkatan signifikan dari 33,9 kasus per 100.000 orang-tahun pada periode 1993-1994 menjadi 62,2 kasus pada tahun 2020 di kalangan dewasa muda. Jenis strok yang paling umum ditemukan pada populasi ini adalah stroke iskemik.

Data menunjukkan tingkat strok iskemik melonjak dari 23,8 kasus per 100.000 orang-tahun pada awal studi menjadi 47,3 kasus pada tahun 2020. David Robinson, MD, penulis senior studi tersebut, menyatakan bahwa meskipun upaya kesehatan masyarakat berhasil menurunkan angka stroke secara total, penderita stroke justru semakin muda.

“Strok sangat menghancurkan pada usia berapa pun, tetapi sangat menantang bagi kaum muda karena mereka masih dalam masa produktif dan mungkin memiliki keluarga muda yang harus dirawat,” ujar Robinson.

Mengapa Strok Meningkat di Usia Muda?

Para ahli berpendapat bahwa fenomena ini bersifat multifaktorial. Beberapa faktor risiko utama yang diidentifikasi meliputi:

  • Faktor Risiko Tradisional: Meningkatnya kasus tekanan darah tinggi (hipertensi), diabetes, dan fibrilasi atrium di kalangan dewasa muda.
  • Gaya Hidup: Obesitas dan gaya hidup sedenter (kurang gerak) yang menjadi lebih umum dalam tiga dekade terakhir.
  • Penggunaan Zat: Adanya peningkatan penggunaan zat terlarang, termasuk ganja dan stimulan seperti kokain atau metamfetamin, yang memiliki kaitan kuat dengan risiko strok.

Walavan Sivakumar, MD, seorang ahli bedah saraf, menambahkan bahwa kondisi seperti hipertensi sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal, sehingga banyak orang muda tidak menyadari bahwa mereka berada dalam risiko tinggi.

Langkah Pencegahan dan Gejala Awal

Untuk menurunkan risiko, para ahli menyarankan kepatuhan terhadap pedoman “Life’s Essential 8” dari American Heart Association (AHA), yang meliputi:

  1. Mengontrol tekanan darah secara rutin.
  2. Menghindari penggunaan tembakau.
  3. Memperbaiki pola makan.
  4. Meningkatkan kualitas tidur.
  5. Mengontrol kadar gula darah dan kolesterol.
  6. Mengelola berat badan ideal.
  7. Tetap aktif secara fisik.

Selain pencegahan, mengenali gejala awal strok sangatlah krusial. Metode FAST (Face drooping, Arm weakness, Speech difficulty, Time to call emergency) tetap menjadi panduan utama. Gejala seperti wajah terkulai, kelemahan lengan, atau kesulitan berbicara memerlukan perhatian medis segera tanpa memandang usia pasien. (Medical News Today/H-3)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *