Thursday, September 24

Badan Geologi Struktur Geologi Rumit Perparah Dampak Gempa Sulteng


Bangunan runtuh terdampak gempa Sulteng.(Dok. Antara)

BADAN Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM) mengungkapkan bahwa karakteristik struktur geologi yang kompleks serta kondisi litologi tanah yang lunak menjadi faktor utama yang memperparah dampak kerusakan akibat gempa tektonik di Sulawesi Tengah (Sulteng).

Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa kompleksitas geologi di lokasi terdampak telah memicu deformasi permukaan tanah yang masif. Hal ini disampaikan dalam konferensi pers analisis gempa bumi Sulawesi Tengah di Jakarta, Jumat (19/6/2026).

“Kejadian gempa utama yang diikuti banyaknya gempa susulan menunjukkan kondisi geologi yang rumit dengan jenis litologi yang beragam. Kedekatan episenter dengan permukiman dan kondisi tanah yang lunak mengamplifikasi efek guncangan,” ujar Lana.

Analisis Teknis dan Fenomena Alam

Guncangan gempa bermagnitudo 6,7 yang terjadi pada Selasa (16/6) tersebut mengakibatkan berbagai kerusakan serius, mulai dari kerusakan struktural bangunan, retakan tanah, penurunan lahan (land subsidence), hingga longsoran akibat ketidakstabilan lereng di Gunung Kamarora.

Selain kerusakan fisik, tim ahli di lapangan bersama masyarakat juga mengidentifikasi fenomena surutnya air laut di kawasan Teluk Palu sesaat setelah gempa. Fenomena ini masih memerlukan kajian lanjutan untuk memastikan penyebabnya.

Badan Geologi juga menyoroti kumpulan gempa susulan yang terjadi secara konstan, yang dinilai menyerupai karakteristik gempa swarm. Perubahan tegangan (stress) pasca-gempa utama diduga ikut memengaruhi sesar-sesar aktif lain di sekitarnya.

Faktor Pemicu Kerusakan:

  • Struktur geologi yang rumit dan litologi beragam.
  • Kondisi tanah lunak yang memperkuat (amplifikasi) guncangan.
  • Topografi lereng curam pada lapisan tanah tidak kompak (jalur logistik Napu).
  • Kedekatan pusat gempa (episenter) dengan kawasan permukiman.

Data Korban dan Kerusakan Infrastruktur

Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Kamis (18/6) pukul 13.51 WIB, tercatat tiga orang meninggal dunia, 17 orang luka berat, dan 91 orang luka ringan. Korban meninggal dunia teridentifikasi berada di Desa Ampera (Kecamatan Palolo) dan Desa Kamarora A (Kecamatan Nokilalaki), Kabupaten Sigi.

Dampak kumulatif bencana ini melanda sedikitnya 2.109 Kepala Keluarga (KK) atau setara 6.412 jiwa yang tersebar di Kabupaten Sigi, Palu, dan Parigi Moutong. Kabupaten Sigi menjadi wilayah terdampak paling parah dengan 1.991 KK atau 6.418 jiwa terdampak.

Kerusakan infrastruktur fisik mencakup:








Jenis Kerusakan Jumlah
Rumah Rusak Ringan 1.456
Rumah Rusak Sedang 112
Rumah Rusak Berat 47
Fasilitas Publik (Ibadah, Sekolah, Kantor) 56

Atas berbagai dampak tersebut, Badan Geologi menekankan pentingnya penataan ruang dan mitigasi bencana berbasis kondisi geologi setempat. “Berbagai dampak yang muncul menunjukkan pentingnya mitigasi berbasis kondisi geologi untuk mengurangi risiko pada kejadian serupa di masa mendatang,” pungkas Lana. (Ant/H-3)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *