Tuesday, September 22

Bank Indonesia Dinilai Perlu Naikkan Suku Bunga demi Stabilkan Rupiah


Ilustrasi(Antara)

BANK Indonesia (BI) dinilai perlu mengambil langkah kebijakan moneter yang lebih tegas dengan menaikkan suku bunga acuan guna menahan tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang terus melemah. Langkah ini dipandang krusial untuk menjaga stabilitas makroekonomi di tengah gejolak pasar global.

Ekonom makroekonomi dan pasar keuangan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI), Teuku Riefky, mengungkapkan bahwa pelemahan Rupiah mencerminkan besarnya tekanan eksternal yang dihadapi Indonesia, terutama akibat penguatan dolar AS. Meskipun inflasi domestik masih relatif terkendali, pelemahan nilai tukar berpotensi memicu imported inflation melalui kenaikan biaya impor bahan baku, pangan, dan energi.

“Secara khusus, Bank Indonesia sebaiknya menaikkan suku bunga kebijakan sebesar 25 basis poin menjadi 5,00% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) mendatang,” ujar Riefky dalam keterangan resmi yang diterima Media Indonesia, Selasa (19/5).

Prioritas Stabilitas Nilai Tukar

Riefky menilai kenaikan suku bunga diperlukan untuk memperkuat daya tarik aset domestik dan menjaga arus modal asing (capital inflow). Meski kebijakan ini berisiko memperlambat pertumbuhan kredit—yang tercatat sebesar 8,93% (yoy) pada Maret 2026—langkah tersebut dianggap layak demi menghindari dampak buruk pelemahan Rupiah yang berkepanjangan terhadap stabilitas ekonomi.

Di sisi lain, inflasi headline Indonesia menunjukkan tren melandai ke level 2,42% (yoy) pada April 2026, turun dari 3,48% pada bulan sebelumnya. Angka ini masih berada dalam rentang target BI sebesar 1,5%–3,5%. Namun, BI tetap harus waspada karena bank sentral telah menggelontorkan lebih dari US$10 miliar cadangan devisa dalam empat bulan terakhir untuk melakukan intervensi pasar.

Kondisi Ekonomi Kuartal I-2026:

  • Pertumbuhan Ekonomi: Ekspansi kuartalan terkuat dalam tiga tahun terakhir.
  • Konsumsi Rumah Tangga: Tumbuh 5,52% (yoy).
  • Belanja Pemerintah: Melonjak 21,81% (yoy), didorong program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan THR ASN.
  • Investasi (PMTB): Tumbuh solid di angka 5,96% (yoy).

Pandangan Berbeda: Opsi “Hawkish Hold”

Berbeda dengan proyeksi LPEM UI, Head of Research and Chief Economist Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto, menilai tekanan terhadap rupiah yang berada di level Rp17.700 per dolar AS belum cukup kuat untuk memaksa BI menaikkan suku bunga.

Mirae Asset memprediksi BI akan mempertahankan BI Rate di level 4,75% melalui pendekatan hawkish hold. “Kami memperkirakan BI akan hold pada 4,75% sambil tetap agresif melakukan intervensi di pasar valuta asing dan menjaga likuiditas,” kata Rully.

Menurut Rully, efektivitas kenaikan suku bunga saat ini terbatas karena tekanan terhadap Rupiah lebih banyak dipicu faktor musiman, seperti repatriasi dividen dan kebutuhan valuta asing untuk musim haji yang diperkirakan mereda pada Juli-Agustus mendatang. Ia menekankan bahwa kebijakan non-suku bunga (non-rate measures) seperti SRBI, DNDF, dan intervensi cadangan devisa akan menjadi kunci utama stabilisasi pasar dalam jangka pendek.








Indikator Ekonomi Posisi/Capaian (2026)
Inflasi Headline (April) 2,42% (yoy)
Surplus Perdagangan (Maret) US$3,32 Miliar
Pertumbuhan Kredit (Maret) 8,93% (yoy)
Suku Bunga The Fed (FFR) 3,50% – 3,75%

Dengan dinamika global yang masih dipenuhi ketidakpastian, terutama terkait arah kebijakan The Fed dan eskalasi geopolitik, keputusan RDG Bank Indonesia besok akan menjadi sinyal krusial bagi pelaku pasar dalam menentukan arah investasi di pasar keuangan domestik. (Ins/I-1)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *