Wednesday, September 23

Dari Modal Rp50 Ribu, Salaku Tembus Mancanegara dan Dampingi UMKM


Pemilik Salaku, Shelly, saat memberikan pelatihan usaha digital di Cikarang.(MI/Insi Nantika Jelita)

BERAWAL dari modal hanya Rp50 ribu dan eksperimen sederhana mengolah salak menjadi brownies pada 2016, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) PT Salaku Cara Enak Makan Salak (Salaku) berhasil berkembang hingga menembus pasar internasional. Tidak hanya memperluas pasar ke berbagai negara, usaha yang dirintis dari skala rumahan ini juga aktif memberikan pelatihan dan pendampingan kepada pelaku UMKM lainnya.

Pendiri Salaku Shelly mengatakan usahanya lahir dari keinginan untuk menghadirkan inovasi dalam olahan buah salak. Menurutnya, selama ini salak lebih dikenal sebagai bahan baku keripik, sementara peluang pengembangan produk olahan lain masih sangat terbuka.

“Di awal produksi kami lebih banyak mengolah produk-produk yang belum ada di pasaran, seperti brownies salak. Awalnya kami membuat kue basah, asinan, dan jus salak,” kata Shelly saat ditemui di Cikarang, Bekasi, akhir pekan lalu.

Ide tersebut berawal dari kebiasaan anak bungsunya yang gemar mengonsumsi salak. Saat itu, salak menjadi buah yang hampir selalu tersedia di rumah. Dari situ, Shelly melihat peluang karena banyak orang menyukai salak, tetapi enggan mengupasnya.

“Sebenarnya idenya sederhana. Anak saya suka sekali makan salak, sementara di rumah buah yang paling sering dibeli memang salak. Akhirnya saya berpikir ada orang yang mau makan salak tetapi malas mengupasnya. Akhirnya saya kembangkan usaha itu,” ujarnya.

Meski tinggal di Bekasi yang bukan daerah penghasil salak, perempuan berusia 51 tahun itu memilih fokus pada inovasi produk olahan. Baginya, diferensiasi menjadi kunci untuk membangun usaha dengan modal terbatas.

“Walaupun saya pemula dan modalnya sedikit, saya ingin terlihat berbeda. Saya memilih salak karena tidak banyak yang mengolahnya. Setelah dipelajari, ternyata salak memiliki kelebihan, salah satunya tinggi serat, yang belum banyak diketahui masyarakat,” katanya.

Pengembangan produk 

Saat pandemi covid-19 pada 2020, Salaku mulai mengembangkan produk camilan sehat berbahan dasar salak. Produk tersebut dirancang sebagai snack sehat dengan bebas gluten. 

 

“Ini kami usung sebagai snack olahan salak pertama yang menggunakan tepung gluten free dan diproses secara natural. Produk ini hasil riset dan pengembangan sejak masa covid-19,” tutur Shelly.

Ia mengklaim seluruh produk dibuat tanpa bahan tambahan pangan seperti essence maupun pengembang. Sebagai gantinya, Salaku mengedepankan komposisi bahan alami dan manfaat kesehatan dari produk yang dihasilkan.

“Tepungnya dijamin bebas gluten,” ucapnya.

Menurut Shelly, kerupuk salak yang diproduksinya hanya menggunakan bahan baku utama berupa tapioka dan bumbu-bumbu alami seperti ketumbar dan bawang putih.

“Jadi, bukan dikembangkan dengan bahan tambahan pangan (BTP), bukan dikembangkan dengan baking powder. Benar-benar rasa gurih asli,” kata Shelly.

Keberanian memasuki pasar ritel baru dilakukan pada 2022. Sebelumnya, produk Salaku lebih banyak dipasarkan melalui sistem pre-order.

“Kami memang berkomitmen menampilkan produk-produk natural. Meskipun tidak memakai essence sehingga aromanya berbeda, kami lebih fokus pada komposisi dan bahan baku alami,” ujarnya.

Berawal dari modal Rp50 ribu

Shelly mengungkapkan usaha tersebut dimulai dengan modal yang sangat terbatas, yakni hanya Rp50 ribu. Saat itu, sebagian besar bahan baku sudah tersedia di rumah sehingga biaya produksi sangat minim.

“Modal awalnya cuma Rp50 ribu karena bikin brownies dari salak. Telur ada di rumah, terigu ada di rumah. Awalnya cuma satu loyang dan dijual dengan sistem pre-order lewat Facebook,” katanya.

Momentum bulan Ramadan saat itu membantu meningkatkan penjualan. Produk yang dipasarkan berupa brownies, jus, dan asinan salak yang banyak diminati masyarakat untuk berbuka puasa.

“Awalnya saya jual Rp25 ribu. Sekarang sudah Rp60 ribu. Dulu kami masih antar sendiri ke pelanggan,” ujarnya.

Pada masa awal usaha, omzet yang diperoleh berkisar Rp5 juta hingga Rp10 juta per bulan. Menurut Shelly, angka tersebut sudah tergolong besar karena saat itu belum ada biaya operasional tambahan seperti sewa toko maupun sertifikasi.

Dukungan BRI membuka akses pasar

Perkembangan usaha Salaku semakin pesat setelah mengikuti program BRI UMKM EXPO(RT) Brilianpreneur pada 2022. Ajang tersebut membuka akses pasar yang lebih luas, termasuk ke jaringan ritel modern.

“BRI Expo benar-benar membuka pasar Salaku. Saya bisa bertemu banyak pihak dari kantor pusat ritel dan dalam tiga bulan setelah expo, produk kami mulai masuk ke berbagai toko modern,” kata Shelly.

Ia menilai berbagai pameran yang difasilitasi BRI menjadi pintu masuk penting untuk memperluas jaringan bisnis dan menjangkau pasar baru.

“BRI membantu kami membuka akses untuk bisa go global,” ujarnya.

Melalui berbagai pameran internasional, Salaku mulai memperkenalkan produknya ke luar negeri, termasuk melalui ajang Food & Hospitality Asia (FHA) 2026 di Singapura pada 21–24 April 2026.

“Jadi usaha kita bertumbuh dari expo ke expo,” tutur Shelly.

Saat ini produk Salaku telah dipasarkan ke Singapura dan Portugal. Untuk pasar Portugal, produk dipasarkan melalui agregator yang menjual berbagai produk Indonesia. Sementara di Singapura, pemasaran dilakukan melalui distributor lokal.

Selain itu, Salaku juga pernah mengikuti pameran di Belanda dan berhasil lolos kurasi untuk mengikuti Fine Food Australia.

Di satu sisi, Shelly berpandangan tantangan terbesar dalam ekspansi internasional bukanlah menjual produk, melainkan mengenalkan salak kepada konsumen luar negeri.

“Bahkan di luar negeri pun nggak tahu salak bisa diolah jadi snack atau kue,” katanya.

Karena itu, pendekatan pemasaran disesuaikan dengan karakter masing-masing negara. Di negara yang belum mengenal salak, Salaku lebih menonjolkan aspek healthy snack, gluten free, dan vegan cracker. Sementara di negara yang sudah mengenal buah salak, nilai tambah produk olahan lebih ditonjolkan.

Untuk memperkuat daya saing produk, Salaku juga melakukan berbagai pengujian laboratorium dan sertifikasi.

“Kami sudah melakukan uji laboratorium untuk berbagai klaim pangan. Kadar glutennya juga sudah diuji dan hasilnya 0 persen,” ujar Shelly.

“Jadi enggak cuma gluten free lho, tapi dasarnya ada sertifikasi gluten-free,” tambahnya.

Saat ini Salaku fokus pada lima produk unggulan, yaitu kerupuk salak, cookies, keripik, kopi, dan teh berbahan salak. Produk-produk tersebut dipilih karena memiliki masa simpan hingga 12 bulan sehingga lebih sesuai untuk pasar ekspor.

Berkat ekspansi dan KUR BRI

Seiring perluasan pasar, omzet Salaku terus mengalami peningkatan. Shelly mengungkapkan pameran dan bazar masih menjadi salah satu kontributor utama penjualan.

“Dulu expo bisa menyumbang 70% penjualan. Sekarang kami mulai memperkuat distribusi offline dan jaringan distributor,” katanya.

Dalam satu pameran selama empat hari, Salaku mampu mencatatkan penjualan hingga Rp8 juta sampai Rp10 juta.

“Itu meningkat dari rata-rata mendapatkan Rp5 juta,” katanya.

Perkembangan usaha juga didukung pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI. Pada 2020, Shelly memperoleh pinjaman KUR sebesar Rp25 juta dengan tenor tiga tahun yang digunakan untuk pengembangan usaha.

“Pinjaman tersebut kita pakai buat pengembangan usaha kami,” ucapnya.

Kemudian pada 2024, ia kembali memperoleh KUR sebesar Rp85 juta dengan tenor tiga tahun. Dana tersebut digunakan untuk menyewa toko di Kecamatan Mustikajaya, Bekasi, serta menambah peralatan produksi.

“Akhirnya aku pakai buat sewa toko di daerah Kecamatan Mustikajaya, Bekasi,” terangnya.

Menurut Shelly, proses pengajuan KUR berlangsung cepat dan sangat membantu pelaku UMKM dalam mengambil langkah ekspansi.

“KUR BRI membuat kami berani melangkah lebih jauh karena sudah ada anggaran untuk pengembangan usaha,” katanya.

Ia menambahkan keberhasilan memanfaatkan pembiayaan usaha sangat bergantung pada perencanaan dan penggunaan dana yang tepat.

Shelly mengaku tidak ragu mengajukan KUR lebih dari satu kali karena selalu memiliki rencana pengembangan usaha yang jelas.

“Ada uang ya harus dipakai dengan baik dan benar,” tegasnya.

Dengan tambahan modal, Salaku mampu meningkatkan kapasitas produksi, memperbaiki fasilitas usaha, menambah mesin, serta meningkatkan kepercayaan mitra bisnis dan distributor.

“Dari situ kita jadi lebih percaya diri. Orang juga makin trust kepada kita. Distributor juga semakin yakin,” pungkas Shelly.

Dari pengusaha rumahan menjadi mentor UMKM

Tak hanya membesarkan usahanya sendiri, Shelly turut menularkan pengalaman dan semangat berwirausaha kepada pelaku UMKM di berbagai daerah. Berbekal pengalaman membangun bisnis dari rumah hingga berkembang ke pasar yang lebih luas, ia kini kerap diminta menjadi mentor dengan memberikan pelatihan dan pendampingan kepada kelompok usaha masyarakat.

Menurut Shelly, bentuk pemberdayaan yang dilakukan lebih banyak melalui pembelajaran dan penguatan kapasitas pelaku usaha. Meski demikian, semangat yang dibawanya tetap sama, yakni mendorong masyarakat agar mampu mandiri secara ekonomi.

Ia mengaku lahir dari kondisi yang tidak mudah. Sebagai ibu rumah tangga yang ingin memiliki penghasilan sendiri, ia berusaha memberdayakan dirinya terlebih dahulu sebelum kemudian membantu orang lain.

“Sebagai perempuan rumahan yang ingin punya penghasilan, saya memberdayakan diri saya sendiri. Semangat pemberdayaan dan kemandirian itu yang ingin saya tularkan. Dari rumah pun sebenarnya bisa sukses berkembang,” tegasnya.

Hal ini disampaikan Shelly usai memberikan pelatihan usaha digital kepada Kelompok B2M04 di Cikarang. Kelompok tersebut merupakan kelompok tani resmi yang beroperasi di Desa Wanajaya, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi.

Peserta pelatihan yang ia dampingi berasal dari berbagai sektor usaha, mulai dari pertanian, perkebunan, hingga pengolahan hasil pangan. Dari berbagai pengalaman mendampingi pelaku UMKM tersebut, Shelly melihat bahwa tantangan terbesar yang dihadapi bukan semata soal modal atau produksi, melainkan pola pikir dalam berwirausaha.

“Rata-rata pola pikir pengusaha kecil itu masih membatasi dirinya sendiri. Mindset kewirausahaan dan kemandiriannya masih sulit. Banyak yang terbiasa mengandalkan anak atau suami. Kalau saya, sejak awal memang berusaha membangun kemandirian sendiri,” katanya.

Berbekal pengalaman membangun bisnis dari skala rumah tangga hingga berkembang lebih luas, Shelly membagikan berbagai praktik yang pernah ia terapkan kepada peserta pelatihan. Salah satunya adalah pemanfaatan teknologi digital untuk pemasaran.

Ia mengaku mengawali pengembangan usahanya melalui media sosial, khususnya Instagram, sehingga kini mendorong para pelaku UMKM untuk lebih berani memanfaatkan platform digital guna memperluas pasar.

Pendampingan yang dilakukan Shelly tidak hanya berlangsung di Jawa Barat. Dalam beberapa tahun terakhir, ia telah berbagi pengalaman ke berbagai daerah di Indonesia, termasuk wilayah-wilayah terpencil.

Tahun lalu, misalnya, ia lebih banyak memberikan pelatihan pengolahan makanan kepada masyarakat desa. Salah satunya di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Untuk mencapai lokasi tersebut, ia harus menempuh perjalanan laut selama sekitar enam jam.

Di sana, ia menemukan banyak potensi produk lokal yang sebenarnya memiliki nilai jual tinggi, namun belum dipasarkan secara optimal.

“Mereka punya peluang yang bagus. Olahan ikan mereka enak-enak, tetapi mereka tidak tahu cara menjualnya,” ujarnya.

Pengalaman serupa juga ia temukan di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Menurut Shelly, masyarakat setempat memiliki sumber daya alam yang melimpah dan dapat diolah menjadi produk bernilai tambah. Namun keterbatasan pengetahuan pemasaran membuat potensi tersebut belum berkembang maksimal.

Selain itu, masih ada sebagian perempuan yang beranggapan bahwa mereka tidak boleh mencari penghasilan di luar rumah.

“Lalu saya edukasi dan berikan pemahaman untuk bisa mengandalkan usaha sendiri,” katanya.

Dalam setiap pelatihan, Shelly menekankan pentingnya belajar secara berkelanjutan. Ia mengingatkan para pelaku UMKM agar tidak cepat merasa puas dan terus membuka diri terhadap pengetahuan baru.

“Jangan merasa sudah sampai di sini lalu berpikir ini tidak bisa, itu tidak bisa. Sampai hari ini saya masih ikut pelatihan-pelatihan,” ujarnya.

Menurutnya, mengikuti pelatihan membuat dirinya dapat melihat persoalan dari dua sisi sekaligus, yakni sebagai peserta maupun sebagai pengajar.

“Karena dari pelatihan itu saya bisa memposisikan diri sebagai peserta dan juga sebagai pengajar. Saya masih terus belajar,” katanya.

“Jadi jangan malas belajar dan bertumbuh. Usaha itu harus punya rencana dan harus gigih,” tegasnya.

Membuka wawasan digitalisasi usaha

Manfaat pelatihan tersebut dirasakan langsung oleh para peserta. Salah satunya Siti, 29 tahun. Ia anggota Kelompok B2M04 yang mengikuti workshop digitalisasi usaha yang dibawakan Shelly.

Menurutnya, pelatihan tersebut membuka wawasannya mengenai pemasaran digital dan cara menjangkau pasar yang lebih luas.

“Kita jadi tahu cara pemasaran secara digital untuk menjangkau pembeli yang lebih luas lagi,” ujarnya.

Ia mengaku belum pernah menggunakan berbagai fitur pendukung usaha digital, termasuk WhatsApp Business. Setelah mengikuti pelatihan, ia mulai memahami cara memanfaatkannya untuk mendukung aktivitas pemasaran.

“Dulu pakainya WhatsApp biasa untuk komunikasi sehari-hari. Sekarang sudah paham cara membuat dan menggunakan WhatsApp Business,” katanya.

Kelompok B2M04 sendiri memiliki berbagai unit usaha yang bergerak di bidang pertanian dan perikanan. Dari sektor perikanan, mereka mengolah hasil budidaya lele menjadi berbagai produk seperti abon, amplang, dan stik. Sementara dari sektor pertanian, hasil panen langsung dijual kepada warga maupun pasar sekitar.

Selama ini pemasaran produk masih dilakukan secara sederhana melalui jaringan pertemanan dan pesan WhatsApp.

“Jadi materi digitalisasi usaha ini penting untuk menambah ilmu dan memperluas pengetahuan,” kata Siti.

Ia berharap kemampuan pemasaran digital yang diperoleh dari pelatihan tersebut dapat membantu kelompoknya menjangkau pasar yang lebih luas. Saat ini, sebagian hasil pertanian mereka, seperti kangkung dan bayam, bahkan sudah pernah masuk ke supermarket melalui perantara.

Kelompok tersebut menjalankan pola tanam dengan masa panen sekitar 18 hingga 20 hari. Setelah lahan diistirahatkan selama beberapa hari, proses penanaman kembali dilakukan sehingga siklus produksi dapat terus berjalan.

Bentuk usaha mereka dijalankan secara berkelompok di tingkat lingkungan. Dalam satu RT terdapat beberapa kelompok wanita tani (dawis) dengan anggota sekitar 10 hingga 15 orang per kelompok. Melalui pelatihan digitalisasi usaha, Siti berharap hasil produksi yang selama ini dipasarkan secara terbatas dapat memiliki akses pasar yang lebih luas. (Ins/E-1)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *