Saturday, October 3

ESDM Hitung Harga Keekonomian Pertamax di Tengah Fluktuasi Minyak Dunia


ilustrasi(Antara)

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah melakukan perhitungan mendalam terkait harga keekonomian bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax. Langkah ini diambil sebagai respons atas fluktuasi harga minyak mentah dunia yang dipicu oleh dinamika geopolitik global.

Wakil Menteri ESDM, Yuliot, menjelaskan bahwa proses evaluasi ini mencakup perhitungan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) yang dikeluarkan Pertamina ditambah dengan margin keuntungan yang wajar. Pemerintah ingin memastikan harga yang dibayarkan masyarakat tetap sesuai dengan nilai keekonomian saat ini.

“Jadi nanti akan dihitung BPP-nya Pertamina ditambah keuntungan. Nanti kami dari Kementerian ESDM akan mencoba melihat kira-kira harga yang ini keekonomiannya bagaimana,” ujar Yuliot di Jakarta, Rabu (29/7).

Yuliot menekankan bahwa harga Pertamax sangat bergantung pada pergerakan harga minyak mentah di pasar internasional. Mengingat tingkat ketidakpastian dan fluktuasi yang tinggi akibat gejolak geopolitik, Kementerian ESDM akan menggunakan skema perhitungan rata-rata harga minyak dunia dalam periode tertentu.

Ia membuka peluang bagi PT Pertamina (Persero) untuk melakukan penyesuaian harga ke bawah apabila tren harga minyak dunia menunjukkan penurunan yang konsisten dibandingkan periode sebelumnya.

“Kalau potensi nanti ini harga minyak secara rata-rata turun, ya tentu dari Pertamina akan menyesuaikan harga,” imbuhnya.

Tren Harga Minyak Dunia Terkini

Berdasarkan data pasar terbaru, harga minyak dunia memang menunjukkan tren pelemahan. Pada perdagangan Selasa (28/7), harga minyak mentah acuan Brent merosot lebih dari 2 persen hingga berada di bawah level 84 dolar AS per barel untuk pertama kalinya sejak pertengahan Juli.

Data perdagangan hingga pukul 13.55 WIB mencatat harga minyak Brent untuk pengiriman Oktober turun 2,34 persen menjadi 83,86 dolar AS per barel. Jika dikonversi dengan kurs Rp18.070 per dolar AS, nilai tersebut setara dengan Rp1,51 juta per barel.

Kondisi serupa terjadi pada minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September yang melemah 2,28 persen ke posisi 80,73 dolar AS (Rp1,46 juta) per barel. Penurunan ini berbanding terbalik dengan lonjakan signifikan yang terjadi pada 23 Juli lalu, di mana Brent sempat menyentuh 100,07 dolar AS per barel dan WTI di level 91,48 dolar AS per barel.

Penyesuaian harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax dilakukan secara berkala oleh badan usaha dengan mempertimbangkan formula harga dasar yang ditetapkan pemerintah serta perkembangan harga minyak mentah dan kurs Rupiah. (Ant/E-3)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *