
Mahfuz Sidik, Sekretaris Jenderal Partai Gelora, memberikan tanggapan terhadap kemungkinan PKS untuk berkolaborasi dengan Koalisi Indonesia Maju. Baginya, jika PKS benar-benar berada dalam koalisi tersebut, ini akan menjadi pertanda perpecahan antara PKS dengan basis ideologisnya. “Jika PKS sekarang merapatkan barisan setelah proses politik berakhir, bagaimana bisa begitu mudah bagi PKS untuk melupakan narasi ideologisnya? Bagaimana dengan pendukung fanatiknya? Terlihat ada perbedaan sikap antara elit PKS dan basis pendukungnya,” ujar Mahfuz Sidik dalam wawancara dengan Tirto, Jumat (26/4/2024).
Menurutnya, PKS telah melakukan kampanye yang intensif melawan Prabowo-Gibran selama pemilihan presiden 2024. “Saya ingat selama masa kampanye, banyak narasi yang sangat ideologis muncul dari PKS dalam menyerang Prabowo-Gibran,” katanya.
Dia juga menyoroti narasi yang sering muncul dari PKS, seperti analogi bahwa Nabi Musa tidak berhutang kepada Firaun, yang kemudian dihubungkan dengan Anies Baswedan yang didukung oleh Partai Gerindra sebagai calon Gubernur Jakarta pada 2017.
Mahfuz juga menegaskan bahwa PKS sering kali memunculkan narasi yang bersifat provokatif dan memecah belah masyarakat. Salah satunya adalah dengan memberi label pengkhianat kepada Prabowo karena bergabung dalam Kabinet Jokowi-Ma’ruf pada 2019, yang menurutnya berasal dari PKS.
“Ironisnya, Jokowi dan Prabowo sendiri telah mengingatkan untuk tidak menarasikan politik dan ideologi yang dapat memecah belah masyarakat,” tambah Mahfuz.
