Monday, October 5

Gempa dan Tsunami di Sumba Ancaman Megathrust hingga Sesar Aktif


Ilustrasi.(Magnific)

PULAU Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT), berada di kawasan tektonik aktif dengan sejumlah sumber gempa yang signifikan. Kondisi geografis ini menuntut upaya mitigasi gempa dan tsunami menjadi perhatian serius guna meminimalisasi risiko dampak bencana di masa depan.

Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, mengungkapkan bahwa wilayah selatan Sumba menyimpan potensi gempa besar dari zona Megathrust Sumba dengan magnitudo maksimum (Mmax) mencapai 8,5. Selain ancaman megathrust, terdapat sumber gempa lain yang tidak kalah berbahaya.

“Di lepas pantai barat daya terdapat Sesar Waikabubak dengan Mmax 7,4 dan di daratan Sumba Barat terdapat Sesar Bondowatu dengan Mmax 6,6,” papar Daryono pada Senin (5/10/2026).

Rekam Jejak Kegempaan Sumba

Aktivitas kegempaan di kawasan Sumba tercatat cukup intensif dalam beberapa tahun terakhir. Sejak 2019 hingga 2026, setidaknya telah terjadi 12 gempa signifikan dengan magnitudo berkisar antara 5,0 hingga 5,9, khususnya di kawasan Kodi, Sumba Barat Daya, dan sekitarnya.

Peristiwa terbaru terjadi pada 4 Oktober 2026, yaitu gempa berkekuatan M5,9 mengguncang wilayah tersebut. Guncangan gempa ini mencapai skala intensitas VI Modified Mercalli Intensity (MMI), yang dilaporkan mengakibatkan kerusakan pada sejumlah bangunan warga.

Daryono juga mengingatkan bahwa sejarah mencatat Sumba memiliki kerentanan tinggi terhadap tsunami. Gempa besar dengan magnitudo momen (Mw) 8,3 yang terjadi pada 19 Agustus 1977 menjadi bukti nyata adanya ancaman tersebut.

“Ini mengingatkan bahwa ancaman tsunami Sumba tidak hanya berasal dari megathrust, tetapi juga dapat berasal dari sumber gempa besar bawah laut lain,” tegasnya.

Catatan Penting: Aktivitas gempa yang sering terjadi bukan berarti gempa besar akan segera melanda dalam waktu dekat. Hingga saat ini, belum ada teknologi yang mampu memprediksi waktu terjadinya gempa secara pasti.

Langkah Penguatan Mitigasi

Kondisi tektonik yang aktif di Sumba harus dijadikan dasar kuat untuk memperkokoh sistem mitigasi bencana. Daryono menekankan beberapa poin krusial yang harus segera diimplementasikan, antara lain:

  • Pembangunan infrastruktur dan rumah tinggal dengan standar tahan gempa.
  • Penyusunan dan pemutakhiran peta bahaya tsunami yang akurat.
  • Penyiapan jalur evakuasi yang jelas serta titik kumpul (tempat evakuasi) yang memadai.
  • Penguatan sistem peringatan dini (early warning system) agar menjangkau masyarakat luas.
  • Pelaksanaan latihan evakuasi (drill) secara rutin untuk membangun kesiapsiagaan warga.

“Gempa tidak dapat dicegah, tetapi risikonya dapat dikurangi. Sumba yang aktif secara tektonik harus menjadi Sumba yang tangguh,” pungkas Daryono. (I-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *