Wednesday, September 23

Gencatan Senjata Parsial Disepakati, Israel Hindari Beirut tetapi Tetap Gempur Libanon Selatan


Serangan Israel ke Libanon(AFP)

ISRAEL melanjutkan serangan militernya di wilayah Libanon Selatan, Selasa (2/6). Meski demikian, militer Israel menahan diri untuk tidak menggempur ibu kota Beirut setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata parsial dengan kelompok bersenjata Hizbullah yang didukung Iran.

Berdasarkan kesepakatan yang diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, pihak Libanon menyatakan pasukan Israel tidak akan membom Beirut dengan imbalan Hizbullah tidak menyerang wilayah Israel. Trump juga menegaskan kesepakatan ini melalui media sosialnya.

“Mereka setuju untuk berhenti menembak ke arah Israel, dan tentaranya. Demikian pula, Israel setuju untuk berhenti menembak ke arah mereka,” tulis Trump.

Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memberikan catatan tegas terkait persetujuan tersebut.

“Jika Hizbullah tidak berhenti menembak ke arah kota-kota dan warga negara kami, Israel akan menyerang sasaran teroris di Beirut,” kata Netanyahu. Ia juga menambahkan bahwa militer Israel akan “terus beroperasi sesuai rencana di Libanon Selatan.”

Rumah Sakit di Tyre Hancur Berantakan

Sebelum kesepakatan tersebut diumumkan, eskalasi mematikan sempat terjadi. Kementerian Kesehatan Libanon melaporkan empat orang tewas dan 127 lainnya terluka akibat serangan udara Israel yang menghantam bangunan di dekat Rumah Sakit Jabal Amel di kota Tyre. Sebanyak 39 staf medis termasuk di antara korban luka, dengan empat di antaranya dalam kondisi kritis.

Direktur Rumah Sakit, Dr. Wael Mroueh, menyatakan serangan terjadi tiba-tiba saat para staf sedang merawat pasien dan pengungsi. Ia juga membantah adanya target militer di sekitar area rumah sakit.

“Musuh Israel menargetkan jurnalis, petugas ambulans, staf medis. Tidak ada bedanya, dan yang mereka inginkan hanyalah mengusir kami dari negara kami,” ujar Mroueh.

Di dalam rumah sakit, lorong-lorong dipenuhi pecahan kaca, panel langit-langit runtuh, dan deretan inkubator bayi tampak retak akibat kekuatan ledakan. Di tengah kehancuran itu, seorang bayi bernama Fares yang baru lahir empat jam sebelum ledakan selamat di pelukan neneknya, Amal.

“Memang benar hidup ini sangat sulit, tetapi kita harus menanggungnya,” kata Amal sambil menatap cucunya. “Ini adalah negara dan tanah airnya, dan dia [Fares] harus mempertahankannya. Ini adalah sebuah tanggung jawab.”

Pihak militer Israel berdalih mereka membidik “infrastruktur teroris Hizbullah” di area tersebut. Israel mengakui adanya kerusakan pada rumah sakit namun menekankan fasilitas medis tersebut “bukan merupakan target”.

Pelanggaran Gencatan Senjata dan Saling Serang

Situasi di lapangan tetap tegang setelah pengumuman tersebut. Militer Israel melaporkan telah mencegat dua proyektil yang ditembakkan ke Israel utara dan menuduh Hizbullah melanggar kesepakatan dengan meluncurkan serangan rudal serta drone. Akibatnya, perintah evakuasi baru dikeluarkan untuk kota Nabatieh.

Di sisi lain, sayap militer Hizbullah menyatakan pasukannya menyerang tank dan tentara Israel di kota-kota Libanon Selatan seperti Haddatha, Bayada, dan Zawtar al-Sharqiya menggunakan drone dan rudal, tetapi tidak menyebutkan adanya serangan lintas batas.

Hingga saat ini, perundingan lanjutan antara diplomat Israel dan Libanon dijadwalkan masih terus berlangsung di Washington untuk memperluas kerangka gencatan senjata ini ke seluruh wilayah Libanon. (BBC/Z-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *