Wednesday, September 23

PBB Beri Peringatan Darurat El Nino Segera Kembali, Cuaca Ekstrem Mengancam


Ilustrasi(Magnific)

ORGANISASI Meteorologi Dunia (WMO) di bawah PBB mengeluarkan peringatan berskala global agar seluruh dunia bersiap menghadapi kembalinya fenomena cuaca El Nino. Pola cuaca alami yang kuat ini diprediksi akan meningkatkan suhu global dan memperburuk curah hujan ekstrem dalam waktu dekat.

WMO menyatakan terdapat peluang sebesar 80% El Nino akan terbentuk sebelum September, dan peluangnya meningkat hingga 90% sebelum November. Sebagian besar pemodelan memproyeksikan kekuatan siklus anomali laut dan atmosfer ini berada pada tingkat “setidaknya moderat” hingga berpotensi kuat.

Meskipun beberapa ilmuwan memperkirakan ini bisa menjadi El Nino terkuat di abad ini, WMO belum bersedia mendukung proyeksi ekstrem tersebut karena masih adanya ruang ketidakpastian.

“Penyebarannya besar,” kata Celeste Saulo, Sekretaris Jenderal WMO. “Ada model yang tidak memberikan indikasi El Nino kuat, sementara model lainnya menunjukkan hal itu.”

Menanggapi laporan tersebut, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mendesak para pemimpin dunia untuk segera mengambil tindakan nyata.

“Kondisi El Nino akan menyiramkan bahan bakar ke dalam api dunia yang sedang memanas,” ujar Guterres. “Dampaknya akan memukul lebih keras, bergerak lebih jauh, dan melintasi batas negara dengan kecepatan yang menghancurkan.”

Ancaman Sektor Pangan dan Rekor Suhu Panas

El Nino terakhir yang terjadi pada 2023-2024 tercatat sebagai salah satu dari lima peristiwa terkuat dalam sejarah, yang berkontribusi pada lonjakan suhu pemecah rekor global pada tahun 2024. WMO memperkirakan suhu tinggi yang tidak biasa ini akan melanda hampir seluruh bagian planet dalam tiga bulan ke depan, memicu risiko hujan ekstrem sekaligus kekeringan parah.

Secara umum, El Nino membawa hujan lebih lebat di sebagian Amerika Selatan, AS selatan, Tanduk Afrika, dan Asia Tengah. Sebaliknya, kondisi yang jauh lebih kering biasanya melanda Amerika Tengah, Australia, Asia Selatan, termasuk Indonesia.

Gareth Redmond-King dari lembaga pemikir Inggris, Energy & Climate Intelligence Unit, menilai kembalinya fenomena ini sebagai kabar buruk bagi pasokan pangan global yang saat ini sudah tertekan akibat krisis iklim dan pembatasan pupuk imbas perang Iran.

“Kekacauan yang akan ditimbulkan oleh El Nino karena kemungkinan besar mendatangkan tahun terpanas berikutnya, pada tahun 2027, akan sangat menghancurkan bagi banyak petani, dan menjadi masalah hidup atau mati bagi terlalu banyak orang,” kata Redmond-King.

Pentingnya Pendanaan Sistem Peringatan Dini

Di tengah meningkatnya ancaman cuaca ekstrem, implementasi sistem peringatan dini terhambat oleh kebijakan beberapa donor asing utama, termasuk Inggris dan AS, yang memotong anggaran bantuan mereka.

Menurut Saulo, pembiayaan iklim memang belum berada di puncaknya, namun sistem peringatan dini tetap menjadi prioritas utama yang membutuhkan lebih banyak mobilisasi dana untuk negara-negara yang membutuhkan.

Sebagai langkah penanganan, Sekjen PBB menegaskan kembali pentingnya aksi iklim yang setara dengan krisis saat ini.

“Satu-satunya respons yang efektif adalah aksi iklim yang setara dengan krisis ini – mengakhiri kecanduan terhadap bahan bakar fosil, mempercepat peralihan ke energi terbarukan, melindungi mereka yang paling rentan, dan menyediakan sistem peringatan dini untuk semua,” pungkas Guterres. (The Guardian/Z-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *