Wednesday, September 23

Iran Kecam Petualangan Militer AS di Selat Hormuz Dibanding Diplomasi


Hubungan Iran-AS memanas di Selat Hormuz. Menlu Abbas Araghchi sebut AS pilih jalur militer saat solusi diplomatik sedang dibahas. Simak situasi terkini.(AFP)

MENTERI Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melontarkan kritik tajam terhadap Amerika Serikat (AS) dengan menuduh Washington selalu memilih “petualangan militer yang gegabah” setiap kali ada solusi diplomatik yang sedang dibahas. Ketegangan ini memuncak setelah kedua negara terlibat aksi saling serang di kawasan strategis Selat Hormuz.

Melalui unggahan di media sosial X, Araghchi menegaskan rakyat Iran “tidak akan pernah tunduk pada tekanan.” Ia juga mempertanyakan motif di balik peningkatan aktivitas militer AS. “Apakah ini taktik tekanan kasar? Atau hasil dari sabotase yang sekali lagi menipu POTUS [Presiden AS Donald Trump] ke dalam rawa konflik lainnya?” tulis Araghchi.

Meski bentrokan terus terjadi, Presiden Donald Trump menyatakan gencatan senjata masih utuh. Langkah ini dimaksudkan untuk membuka ruang bagi pembicaraan guna mengakhiri perang yang dipicu oleh serangan AS dan Israel sejak Februari lalu. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menambahkan bahwa Iran diharapkan memberikan jawaban atas proposal perdamaian pada hari Jumat.

“Saya berharap itu adalah tawaran yang serius, saya benar-benar berharap demikian,” ujar Rubio saat melakukan kunjungan kerja ke Italia.

Blokade dan Serangan di Perairan

Konflik di Selat Hormuz telah berdampak luas pada stabilitas ekonomi global, mengingat sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati jalur tersebut. Blokade yang terjadi telah menyebabkan harga energi melonjak tajam.

Komando Pusat AS (Centcom) melaporkan pihaknya telah melumpuhkan dua kapal tanker minyak berbendera Iran di Teluk Oman karena dianggap melanggar blokade maritim yang sedang berlangsung. Pasukan AS dilaporkan menembakkan munisi presisi ke arah cerobong asap kapal untuk mencegah mereka memasuki pelabuhan Iran. Saat ini, Centcom mengeklaim tengah mencegah lebih dari 70 kapal tanker untuk masuk atau keluar dari pelabuhan Iran.

Di sisi lain, otoritas Iran melaporkan dampak kemanusiaan akibat serangan tersebut. Mohammad Radmehr, seorang pejabat di Provinsi Hormozgan, mengonfirmasi bahwa salah satu kapal kargo yang diserang di perairan Minab mengalami kebakaran hebat. “Sepuluh pelaut yang terluka telah dipindahkan ke rumah sakit, dan tim pencari tengah berusaha mencari tahu nasib pelaut lainnya,” ungkap Radmehr kepada kantor berita Mehr.

Ancaman Eskalasi

Menanggapi situasi di lapangan, Presiden Donald Trump melalui platform Truth Social mengeklaim bahwa militer AS telah menghancurkan sejumlah kapal kecil, rudal, dan drone milik Iran. Ia memberikan peringatan keras terkait proses negosiasi yang sedang berjalan.

“Sama seperti kami melumpuhkan mereka lagi hari ini, kami akan melumpuhkan mereka jauh lebih keras, dan jauh lebih keras di masa depan, jika mereka tidak segera menandatangani kesepakatan mereka, CEPAT!” tegas Trump.

Situasi di Selat Hormuz hingga kini masih sangat fluktuatif, di mana kedua belah pihak saling melempar tuduhan terkait siapa yang memulai provokasi dalam serangan yang terjadi sejak Kamis lalu tersebut. (BBC/Z-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *