
UPAYA Amerika Serikat dan Iran untuk merundingkan pengakhiran perang terus diwarnai oleh ketidakpastian yang dramatis. Meskipun nota kesepahaman (MOU) ditengahi akhir pekan lalu, kebingungan justru semakin meningkat di tengah serangkaian serangan rudal dan blokade angkatan laut yang sempat melumpuhkan kawasan.
Simpang Siur Penandatanganan dan Pembukaan Selat Hormuz
Gedung Putih awalnya menyatakan bahwa perjanjian tersebut ditandatangani pada Minggu (13/6) oleh Wakil Presiden JD Vance. Namun, tak lama kemudian, muncul pengumuman mengenai rencana penandatanganan ulang dengan upacara resmi pada Jumat (19/6).
Presiden Donald Trump sendiri sempat menyatakan akan mengizinkan sepenuhnya pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai bagian dari kesepakatan lengkap, meski satu jam kemudian ia meralat bahwa jalur air kritis tersebut baru akan dibuka setelah penandatanganan hari Jumat.
Puncak dari drama diplomatik ini terjadi ketika Presiden Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian tiba-tiba menandatangani ulang perjanjian tersebut saat jamuan makan malam di Versailles, Prancis, Rabu (17/6), dengan disaksikan oleh Presiden Emmanuel Macron. Hingga saat ini, status upacara penandatanganan lanjutan atau pembicaraan lebih lanjut masih belum jelas.
- Pembukaan segera Selat Hormuz untuk lalu lintas komersial.
- Pencabutan blokade AS terhadap kapal-kapal dari dan menuju pelabuhan Iran.
- Penerbitan sanctions waivers oleh Departemen Keuangan AS untuk ekspor minyak mentah dan produk turunan Iran.
- Periode negosiasi 60 hari untuk mencapai kesepakatan jangka panjang yang komprehensif.
Kritik Tajam dari Internal Republik
Langkah Trump itu tidak lepas dari kecaman, bahkan dari lingkaran partainya sendiri. Senator Bill Cassidy menyebut MOU tersebut sebagai kesalahan kebijakan luar negeri terburuk dalam beberapa dekade terakhir. Sementara itu, Senator John Kennedy menyatakan skeptisismenya terhadap ambisi nuklir Iran, menegaskan bahwa tidak ada yang bisa menjamin kepatuhan Teheran.
Di sisi lain, Senator Lindsey Graham menawarkan pandangan yang lebih pragmatis. Setelah berbicara dengan utusan AS Steve Witkoff, Graham berpendapat bahwa MOU ini akan menguntungkan Amerika Serikat karena dapat meredakan permusuhan dan membuka kembali jalur perdagangan vital di Selat Hormuz.
Hambatan di Libanon dan Ketegangan Regional
Rencana pertemuan pejabat Teheran dan Washington di Swiss untuk memulai negosiasi 60 hari terpaksa ditunda. Serangan baru Israel di Libanon menimbulkan keraguan besar. Iran menuntut jaminan bahwa permusuhan di Libanon harus berakhir sesuai dengan kerangka MOU, tetapi badan intelijen AS meyakini Israel kemungkinan besar akan terus melancarkan serangan terhadap pasukan Hizbullah.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan pejabat pemerintahannya secara terbuka mengkritik MOU tersebut yang menambah lapisan kerumitan dalam upaya perdamaian ini. Meskipun demikian, Trump tetap menunjukkan optimisme publik. “Kesepakatan kita dengan Iran sudah selesai. Ini akan berlanjut ke tahap kedua, yang menurut saya akan jauh lebih mudah,” ujar Trump saat bertemu Emir Qatar di Prancis.
Di tengah harga gas yang melonjak dan pemilihan paruh waktu November yang kian dekat, publik Amerika kini terus memantau apakah diplomasi kejutan Trump ini benar-benar akan membawa stabilitas atau justru memicu konflik yang lebih dalam di Timur Tengah. (NBC/I-2)
