Tuesday, September 22

Krisis Energi India Perang AS-Iran dan Gelombang Panas Naikkan Konsumsi Batu Bara


Batu bara di India.(Al Jazeera)

INDIA, penghasil karbon dioksida terbesar ketiga di dunia, kini kembali bergantung pada batu bara untuk memenuhi kebutuhan energinya. Lonjakan penggunaan bahan bakar fosil ini dipicu oleh gangguan pasokan energi akibat perang Iran serta gelombang panas ekstrem yang melanda seluruh negeri.

Lebih dari 70% listrik India dihasilkan dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara. Para ahli energi memprediksi pangsa ini akan terus meningkat tahun ini seiring dengan meningkatnya permintaan listrik untuk pendingin ruangan di tengah suhu yang menyengat.

Dampak Perang Iran dan Harga Gas

Gangguan di Timur Tengah memukul pasokan gas India secara signifikan. Sekitar 4% kapasitas pembangkit listrik India bergantung pada gas alam cair (LNG). Sekitar 60% LNG itu diimpor melalui Selat Hormuz yang kini terdampak konflik.

Girish Madan, Direktur Peringkat Korporat di Fitch Ratings Singapura, menjelaskan bahwa tingginya harga LNG membuat pembangkit listrik berbasis gas tidak lagi ekonomis. “Akibatnya, pembangkit listrik berbasis batu bara harus memikul beban yang lebih besar selama bulan-bulan puncak musim panas ini,” ujarnya.

Data Pembangkit Listrik Batu Bara India (April 2026):

  • Rata-rata Produksi: 164,9 gigawatt (naik dari 160,7 GW pada tahun lalu).
  • Kenaikan Sekuensial: 5,6 gigawatt atau sekitar 3,5% dalam satu bulan.
  • Prediksi Pertumbuhan: Potensi naik 10% (YoY) jika fenomena El Niño berkembang.

Gelombang Panas Ekstrem

Permintaan listrik melonjak drastis seiring kenaikan suhu. Pada 27 April 2026, data dari platform pemantau kualitas udara dan suhu (AQI) menunjukkan bahwa 50 kota terpanas di dunia semuanya berada di India dengan suhu mencapai 40 hingga 45 derajat celsius.

Pemerintah India dalam rilis resminya pada 2 Mei memperingatkan bahwa kondisi gelombang panas akan terus berlanjut di wilayah Barat Laut, Tengah, Barat, hingga pesisir Timur India sepanjang bulan ini.

Industri Nonlistrik Ikut Beralih ke Batu Bara

Selain sektor kelistrikan, industri lain seperti produsen semen juga mulai beralih kembali ke batu bara. Firat Ergene, analis utama di Kpler, menyebutkan bahwa pasokan petroleum coke (petcoke) terganggu oleh konflik Timur Tengah yang menyebabkan harganya melambung tinggi.

“Hal ini mendorong perusahaan semen untuk mengganti petcoke dengan batu bara sebagai bahan bakar utama mereka,” jelas Ergene.

Kontradiksi Target Net-Zero

Situasi ini menjadi tantangan besar bagi komitmen iklim India. Bulan lalu, India berjanji untuk mengurangi intensitas emisi ekonominya sebesar 47% pada 2035 demi mencapai target net-zero pada 2070.

Meskipun pada Februari lalu India mengumumkan bahwa 52% kapasitas pembangkit listrik terpasangnya berasal dari sumber nonfosil (surya, hidro, dan angin), batu bara tetap menjadi sumber energi dominan yang paling diandalkan saat krisis energi melanda. Meskipun pertumbuhan emisi tahun lalu tercatat sebagai yang paling lambat dalam dua dekade, ketergantungan mendadak pada batu bara di tahun ini dikhawatirkan akan mengaburkan tren positif tersebut. (CNBC/I-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *