Tuesday, September 22

Pascaoperasi Bariatrik, Pendampingan Nutrisi dan Psikologis Jadi Kunci Hasil Jangka Panjang


Operasi bariatrik bukanlah ‘jalan pintas’. Pasien tetap harus menjalani adaptasi signifikan terhadap pola makan baru, terutama karena ukuran lambung yang mengecil. Oleh karena itu, pendampingan nutrisi serta pemenuhan kebutuhan suplemen menjadi aspek krusi(Dok. LIGHThouse Advanced Clinic.)

GAYA hidup modern seperti konsumsi makanan ultra-proses tinggi gula dan lemak, minim aktivitas fisik (sedentary lifestyle), kurang tidur yang mengganggu hormon lapar, hingga stres kronis yang meningkatkan hormon kortisol dan mendorong makan emosional, menjadi faktor yang terus mendorong peningkatan angka obesitas di Indonesia.

Pola hidup tersebut, jika berlangsung dalam jangka panjang, akan membentuk adaptasi metabolik. Metabolisme tubuh melambat dan menganggap berat badan baru sebagai kondisi normal, sehingga upaya penurunan berat badan menjadi semakin sulit. Siklus ini membuat kenaikan berat badan kerap sulit dikendalikan.

Dalam kondisi tertentu, penderita obesitas tidak cukup hanya melakukan pengaturan pola makan biasa, melainkan memerlukan program weight management yang terstruktur. Pada sebagian pasien, operasi bariatrik dapat menjadi pilihan medis ketika risiko mempertahankan obesitas dinilai lebih besar dibandingkan risiko tindakan.

“Operasi bariatrik adalah bagian dari terapi penyakit metabolik. Prosedur ini bekerja dengan mengubah anatomi saluran cerna sehingga membantu mengontrol rasa lapar, penyerapan kalori, serta respons hormonal yang berkaitan dengan diabetes dan gangguan metabolik lainnya. Ada beberapa kriteria minimum BMI sesuai dengan latar belakang kesehatan pasien, di antaranya pasien diabetes melitus dengan BMI di atas 27,5; pasien dengan komorbid dengan BMI di atas 30; dan tanpa komorbid dengan BMI di atas 35,” ujar dr. Handy Wing, Sp.B, Subsp.BD(K), FBMS, FICS, FInaCS, dokter spesialis bedah digestif yang menangani bedah bariatrik di LIGHThouse Advanced Clinic.

Namun demikian, operasi bariatrik bukanlah ‘jalan pintas’. Pasien tetap harus menjalani adaptasi signifikan terhadap pola makan baru, terutama karena ukuran lambung yang mengecil. Oleh karena itu, pendampingan nutrisi serta pemenuhan kebutuhan suplemen menjadi aspek krusial dalam fase pascaoperasi.

“Sebelum dan setelah bariatrik, pola makan pasien berubah secara signifikan, terutama pada fase pascaoperasi yang sangat krusial karena pasien harus beradaptasi dengan lambung barunya. Fokus kami tidak hanya memastikan kecukupan cairan dan protein, tetapi juga mencegah defisiensi mikronutrien serta mendampingi tahapan makanan. Edukasi komprehensif juga penting karena meskipun ukuran lambung lebih kecil, tantangan dan keinginan tetap ada,” ujar Veronica, S.Gz., ahli gizi dan Program Manager LIGHT Group.

Selain aspek fisik, tantangan juga muncul dari sisi psikologis. Perubahan drastis dan permanen pascaoperasi dapat memengaruhi kondisi mental pasien. Data dari publikasi ilmiah menunjukkan sekitar 15% pasien bariatrik mengalami depresi yang berkaitan dengan perubahan hormonal dan metabolik. Karena itu, skrining psikologis sebelum tindakan serta pendampingan setelah operasi sangat dianjurkan.

“Bagi banyak individu, makan bukan sekadar kebutuhan biologis, tetapi juga mekanisme coping. Jika akar emosionalnya tidak ditangani, pasien dapat mengalami frustrasi. Pendampingan psikolog membantu pasien beradaptasi lebih cepat terhadap perubahan serta menyesuaikan pola hidup dan mindset baru secara lebih efektif,” ujar Tara de Thouars, psikolog klinis dari LIGHThouse Clinic.

Kebutuhan pendampingan ini juga melatarbelakangi hadirnya LIGHT Companion Program. Program ini tidak hanya ditujukan bagi pasien bariatrik, tetapi juga diperluas untuk pasien yang menjalani prosedur liposuction Ultrasound Fat Removal (ULFRA).

Prosedur liposuction memang efektif mengangkat lemak subkutan yang telah terakumulasi dalam jangka panjang. Namun tanpa perubahan pola makan dan gaya hidup yang berkelanjutan, risiko penumpukan lemak kembali tetap ada.

Melalui pendekatan komprehensif, program ini berfokus pada edukasi dan perubahan perilaku (lifestyle shifting), guna membantu pasien mempertahankan hasil tindakan, mencapai penurunan berat badan optimal, serta membangun kebiasaan hidup sehat dalam jangka panjang.

“Sebagai pionir dalam pengelolaan berat badan dengan pengalaman lebih dari 22 tahun, kami berkomitmen menghadirkan solusi yang komprehensif, terintegrasi, dan berkelanjutan. Di LIGHThouse Advanced Clinic, setiap pasien mendapatkan pendampingan menyeluruh, mulai dari pre-surgical hingga post-surgical nutrition, yang dilengkapi dengan dukungan psikologis untuk membantu proses adaptasi dan membangun pola hidup sehat,” ujar Anna Wibowo, CMO LIGHT Group.

Melalui pendekatan holistik, LIGHT Companion Program mencakup pendampingan intensif berupa konsultasi dengan dokter spesialis, ahli gizi, psikolog, hingga treatment shaping pascaoperasi. Pendekatan ini dirancang untuk memastikan hasil tindakan tidak hanya optimal, tetapi juga dapat dipertahankan dalam jangka panjang. (E-1)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *