
PERUSAHAAN pelayaran raksasa, Maersk, mengonfirmasi salah satu kapal komersial berbendera Amerika Serikat miliknya telah berhasil keluar dari Selat Hormuz. Keberhasilan ini tercapai berkat perlindungan ketat dari militer AS di tengah ketegangan yang meningkat di kawasan tersebut.
Dalam pernyataan resminya kepada BBC, Maersk menyatakan proses transit berjalan lancar tanpa insiden. Seluruh kru kapal dilaporkan dalam kondisi aman dan tidak terluka. Kapal yang diidentifikasi sebagai Alliance Fairfax tersebut sebelumnya tertahan dan tidak dapat meninggalkan Teluk sejak Februari 2026, tepat saat konflik antara Iran dan AS pecah.
Operasi Keamanan Terpadu
Maersk menjelaskan pihak militer AS menghubungi mereka untuk menawarkan bantuan. Setelah menyusun “rencana keamanan yang komprehensif,” kapal tersebut akhirnya diizinkan untuk berlayar keluar.
“Kapal keluar dari Teluk dengan didampingi oleh aset militer AS,” tulis pernyataan Maersk. Perusahaan juga menyampaikan terima kasih atas profesionalisme dan koordinasi efektif yang diberikan oleh pihak militer dalam mensukseskan operasi ini.
Di sisi lain, Komando Pusat AS (Centcom) melaporkan ada dua kapal dagang berbendera AS yang berhasil melintasi Selat Hormuz. Namun, klaim ini dibantah keras oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran yang menyebut pernyataan AS sebagai “kebohongan belaka.”
Ketegangan di Jalur Laut
Situasi di Selat Hormuz kian memanas setelah Centcom mengonfirmasi penggunaan helikopter Sea Hawk dan AH-64 Apache untuk menghancurkan kapal-kapal kecil milik Iran yang dianggap mengancam pelayaran komersial. Langkah ini sejalan dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengisyaratkan AS telah menyerang tujuh kapal kecil Iran guna membuka kembali akses di selat tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Iran belum memberikan tanggapan resmi terkait klaim penghancuran kapal tersebut.
Meskipun operasi penyelamatan berhasil, masih terdapat kebingungan global mengenai detail operasional dari misi yang disebut sebagai “Project Freedom” ini. Mick Mulroy, mantan asisten deputi menteri pertahanan untuk Timur Tengah sekaligus veteran Marinir dan CIA, memberikan pandangannya.
Menurut Mulroy, proyek ini kemungkinan besar berfokus pada pemberian perlindungan udara dan pertahanan dari serangan rudal atau drone, ketimbang melakukan pengawalan fisik secara melekat di samping kapal.
“Membantu memandu kapal-kapal untuk melintas akan sangat membantu dan sepenuhnya sesuai dengan hukum internasional,” ujar Mulroy.
Namun, ia menekankan bahwa keberhasilan proyek ini dalam memulihkan kebebasan navigasi masih menjadi tanda tanya besar.
“Pertanyaannya adalah apakah kapal-kapal akan mempercayai kemampuan mereka untuk melintas tanpa diserang, dan yang lebih penting, bagaimana sikap perusahaan asuransi. Jika tidak ada kepercayaan, upaya ini tidak akan memberikan dampak seperti yang kita harapkan,” pungkasnya. (BBC/Z-2)
