Tuesday, September 22

Menjadi Raja 40 Hari di Tanah Suci


Kisah Nenek Epa, jemaah lansia asal Palembang, tetap kuat beribadah di Tanah Suci(MI/Akmal Fauzi)

LANGKAH kaki Epa masih tampak kokoh saat menyambut tim Bimbingan Ibadah (Bimbad) dan Kesehatan PPIH Daerah Kerja (Daker) Mekah di kamar hotelnya, kawasan Jarwal, Mekah, Arab Saudi, Rabu (6/5). Di balik kerut wajahnya, tersimpan binar kebahagiaan yang sulit disembunyikan.

Nenek Epa sempat mengira kedatangan para petugas kesehatan dan pembimbing ibadah yang melakukan visitasi rutin itu adalah pembawa hadiah. “Seperti mau dapat hadiah,” katanya sembari tertawa lepas, memperlihatkan satu gigi yang tersisa.

Siang itu, tekanan darahnya memang sempat dilaporkan meningkat. Namun, bagi perempuan berusia senja ini, itu bukanlah tanda sakit fisik, melainkan debaran haru yang membuncah. Penantian panjang selama 13 tahun untuk memenuhi panggilan ke Tanah Suci akhirnya lunas. Hebatnya, di usia yang tak lagi muda, ia mampu menuntaskan rangkaian umrah wajib tanpa bantuan kursi roda.

“Semua jalan kaki. Alhamdulillah sampai tahalul selesai,” ujarnya

Di kamar itu, Epa menghabiskan waktu bersama rekan-rekan sesama jemaah dari Embarkasi Palembang (PLM 3) yang ia sebut sebagai ‘bestie’. Salah satunya adalah Rohima, 70, seorang pensiunan guru.

“Makan, tidur, ibadah,” ujar Epa singkat menggambarkan kesehariannya. Namun, kesederhanaan rutinitas dan pelayanan yang diberikan itu justru menjadi kemewahan luar biasa bagi mereka.

“Enak. seperti raja. Raja 40 hari,” sahut Rohima menimpali dengan canda. 40 hari merujuk pada durasi rangkaian perjalanan ibadah haji 2028 jemaah reguler.

Meski semangatnya meluap, tim kesehatan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Mengingat tekanan darahnya yang naik, petugas dengan lembut meminta Epa untuk memprioritaskan istirahat dan tidak memaksakan diri ke Masjidil Haram untuk sementara waktu.

“Jangan dulu ya, istirahat dulu. Belum boleh keluar,” pesan petugas. Tim Bimbad pun turut memberikan edukasi manasik yang menenangkan, bahwa ibadah di musala hotel di wilayah Kota Suci memiliki nilai pahala yang tetap besar bagi jemaah. Keseimbangan antara ibadah dan kondisi fisik menjadi kunci agar jemaah siap menghadapi Puncak Haji pada akhir Mei mendatang.

Epa merupakan anomali di usianya yang melewati delapan dekade. Ingatannya tajam, pendengarannya masih prima, dan yang paling mengagumkan adalah kekuatan fisiknya. “Lutut saya tidak sakit. Di rumah saya tinggal di rumah kayu, naik turun tangga bisa sampai 40 kali sehari,” tuturnya membuka rahasia kebugarannya.

Selain faktor fisik, ia meyakini kekuatan spiritual menjadi motor utamanya. Rutinitas tahajud pukul 02.00 dini hari dan tadarus Al-Quran tak pernah putus. “Di sini (Tanah Suci) ngaji terus. Di Madinah sudah (baca) 4 juz (Al-Quran). Salat tahajud setiap hari jam 02.00,” katanya.

Momen paling sakral baginya adalah saat pertama kali bersimpuh di depan Ka’bah. Air mata syukurnya tumpah seketika. “Ya Allah terima kasih aku dipanggil datang ke sini,” ucapnya lirih.

Layanan Jemput Bola

Kisah Nenek Epa menjadi cermin dari kesiagaan petugas haji dalam mengawal jemaah lansia. Kepala Seksi Bimbingan Ibadah dan KBIHU Daerah Kerja (Daker) Makkah, Erti Herlina, menegaskan bahwa jemaah lansia memang mendapat atensi khusus melalui layanan visitasi langsung ke kamar-kamar.

“Kami jemput bola, menjangkau jemaah lansia untuk memberikan edukasi seputar manasik,” ujar Erti.

Pendekatan door to door  ini menurutnya tidak hanya menyentuh aspek teknis ibadah dan kesehatan, tetapi juga aspek psikis. “Kami berikan pendekatan psikis agar mereka tetap beribadah dengan lancar dan aman tanpa harus merasa takut meski jauh dari keluarga,” tambahnya.

Kini, di sela-sela doanya, Epa menyimpan satu harapan sederhana. Ia ingin kembali lagi ke Baitullah bersama anak dan cucunya kelak. Di usia senjanya, ia telah membuktikan bahwa panggilan ke Tanah Suci akan selalu menemukan jalannya bagi hati yang dipenuhi iman. (Z-10)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *