
Pemerintah Kota (Pemkot) Malang melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) menggencarkan deteksi dini Tuberkulosis (Tb) dengan melakukan skrining massal terhadap masyarakat yang memiliki kontak erat dengan pasien positif. Langkah proaktif ini dilakukan untuk memutus rantai penularan dan mengejar target eliminasi TBC pada tahun 2030.
Skrining Mobile X-Ray Sasar Kelompok Risiko Tinggi
Program skrining ini memanfaatkan teknologi Mobile X-Ray yang berkeliling ke 57 kelurahan secara bertahap. Petugas medis melakukan pemeriksaan foto rontgen dada (thoraks) secara gratis dengan target 200 warga per hari. Fokus utama pemeriksaan adalah warga yang tinggal serumah dengan pasien Tuberkulosis, pengidap diabetes melitus (komorbid), serta anak-anak dengan kondisi gizi kurang.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Malang, Meifta Eti Winindar, menyatakan bahwa pemeriksaan ini bertujuan mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat. “Kami melaksanakan deteksi dini untuk mempercepat proses pelacakan. Jika ditemukan lebih awal, penanganan medis bisa segera dilakukan,” ujarnya di sela kegiatan skrining di Kelurahan Sukun, Rabu (3/6/2026).
Data Kasus Tuberkulsis di Kota Malang Tahun 2026
Hingga akhir Mei 2026, Dinkes Kota Malang mencatat sebanyak 925 warga terkonfirmasi positif Tuberkulosis. Dari jumlah tersebut, terdapat 24 kasus kematian yang dilaporkan. Berikut adalah ringkasan data capaian skrining hingga Juni 2026:
| Kategori Data | Jumlah / Detail |
|---|---|
| Total Kasus Positif (Jan-Mei 2026) | 925 Orang |
| Warga Terduga Tuberkulosis (Skrining TCM) | 1.433 Orang |
| Capaian Skrining Mobile X-Ray | 2.936 Peserta |
| Kasus Positif Baru dari Skrining Mobile | 27 Orang |
Catatan Redaksi: Pemeriksaan lanjutan menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM) dilakukan bagi warga yang hasil rontgennya menunjukkan indikasi Tuberkulosis. Seluruh biaya pengobatan Tuberkulosis di Puskesmas ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah.
Gunakan Teknologi AI untuk Akurasi Cepat
Dalam pelaksanaannya, Dinkes Kota Malang berkolaborasi dengan Stop TB Partnership Indonesia (STPI) dengan menerapkan teknologi Artificial Intelligence (AI). Teknologi ini memungkinkan hasil foto rontgen dibaca secara otomatis dan akurat dalam waktu singkat, sehingga petugas bisa langsung menentukan langkah rujukan ke Puskesmas pada hari yang sama.
Pemkot Malang mengimbau masyarakat untuk tidak takut mengikuti skrining. Gejala umum seperti batuk berdahak lebih dari dua minggu, demam, dan penurunan berat badan secara drastis harus segera diperiksakan guna mencegah penularan kepada anggota keluarga lainnya.
FAQ: Skrining Tuberkulosis Kota Malang
- Siapa yang wajib ikut skrining? Kontak erat (keluarga serumah), pasien diabetes, dan anak gizi buruk.
- Apakah pemeriksaan ini berbayar? Tidak, layanan Mobile X-Ray dan pemeriksaan dahak TCM disediakan secara gratis oleh Pemkot Malang.
- Sampai kapan program ini berjalan? Skrining keliling ini dijadwalkan berlangsung secara intensif hingga September 2026.
