
WACANA bergabungnya Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dinilai berpotensi menjadi salah satu faktor yang dapat mengubah konstelasi politik menjelang Pemilu 2029. Kehadiran Jokowi, terlebih jika menempati posisi strategis sebagai Dewan Pembina PSI, diyakini dapat memperkuat daya tarik elektoral partai tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi PDIP.
Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, menilai sinyal kedekatan Jokowi dengan PSI tidak bisa dipandang sebagai langkah simbolik semata. Menurutnya, setiap simbol yang melekat pada figur Jokowi memiliki makna politik yang kuat.
“Dalam politik, jaket bukan sekadar pakaian. Jaket adalah pernyataan sikap. Ketika Jokowi memakai jaket PSI, publik melihat itu sebagai pesan bahwa kapal politik Jokowi sedang merapat ke dermaga baru dan berpotensi menjadi ancaman serius bagi PDIP,” kata Arifki kepada wartawan, Selasa (16/6).
Ia menilai kedekatan Jokowi dengan PSI berpotensi mendongkrak elektabilitas partai berlambang mawar tersebut. Di sisi lain, kondisi itu dapat menjadi ujian bagi PDIP yang selama ini memiliki basis pemilih yang beririsan dengan pendukung setia Jokowi.
“Masalah terbesar PDIP hari ini bukan kehilangan Jokowi sebagai kader, melainkan potensi kehilangan pemilih yang selama ini memilih PDIP karena Jokowi. Ketika figur dan partai berjalan ke arah yang berbeda, sebagian pemilih biasanya akan mengikuti figur,” ujarnya.
Menurut Arifki, kelompok pemilih muda menjadi segmen yang paling mungkin terpengaruh oleh dinamika tersebut. Sebab, generasi muda dinilai lebih fleksibel dalam menentukan pilihan politik dan cenderung menjadikan figur sebagai pertimbangan utama.
“Jika Jokowi adalah magnet, maka PSI saat ini sedang berusaha menempatkan diri sebagai logam yang paling dekat dengan medan tarik tersebut. Di situlah potensi keuntungan elektoral PSI berada,” katanya.
Arifki menambahkan, semakin kuat asosiasi antara Jokowi dan PSI, semakin besar pula peluang terjadinya perpindahan suara di kalangan pemilih nasionalis yang selama ini menjadi salah satu basis utama PDIP.
“Satu jaket untuk Jokowi memang tidak menentukan hasil Pemilu 2029. Karena PSI juga masih punya tantangan membangun struktur partai agar semapan PDIP. Tetapi jika memang Jokowi bergabung dengan PSI, maka dinamika kedua partai itu bakal makin panas menjelang Pemilu 2029,” tuturnya.
Sebelumnya, PSI memberi sinyal bahwa Jokowi berpotensi mengenakan jaket partai dan menempati posisi Ketua Dewan Pembina.
Sekretaris Dewan Pembina PSI, Grace Natalie, masih enggan memberikan kepastian mengenai kemungkinan Jokowi masuk ke jajaran pimpinan partai.
“Saya katakan Bapak J. Saya tidak sebut Pak Jokowi,” kata Grace, Sabtu (13/6).
Saat diminta memastikan lebih lanjut mengenai posisi Jokowi di PSI, Grace hanya menjawab singkat,
“Ditunggu saja.” (E-4)
