Sunday, September 20

Penggunaan Melatonin Jangka Panjang terkait Risiko Gagal Jantung


Ilustrasi.(Magnific)

PENELITIAN terbaru mengungkapkan temuan mengejutkan mengenai penggunaan suplemen melatonin jangka panjang. Suplemen yang selama ini dianggap sebagai solusi alami dan aman untuk mengatasi gangguan tidur tersebut, kini dikaitkan dengan peningkatan risiko gagal jantung yang signifikan.

Berdasarkan tinjauan catatan medis elektronik terhadap ribuan orang dewasa dengan insomnia kronis, mereka yang mengonsumsi melatonin selama satu tahun atau lebih memiliki peluang 90% lebih tinggi terkena gagal jantung dalam lima tahun ke depan. Temuan ini dibandingkan dengan partisipan yang memiliki faktor kesehatan serupa namun tidak mengonsumsi melatonin.

Data penelitian juga menunjukkan bahwa pengguna melatonin tiga kali lebih mungkin dirawat di rumah sakit karena gagal jantung dan sekitar dua kali lebih mungkin meninggal dunia karena penyebab apa pun. Hasil studi ini dijadwalkan akan dipresentasikan pada pertemuan Scientific Sessions 2025 American Heart Association yang berlangsung 7-10 November mendatang.

Kaitan Melatonin dan Kesehatan Jantung

Dr. Ekenedilichukwu Nnadi, penulis utama penelitian dari SUNY Downstate/Kings County Primary Care di Brooklyn, menyatakan bahwa hasil ini cukup mencolok mengingat melatonin secara luas dianggap aman. Namun, ia menekankan bahwa studi ini belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung.

“Meskipun asosiasi yang kami temukan menimbulkan kekhawatiran keamanan tentang suplemen yang digunakan secara luas ini, studi kami tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat langsung,” ujar Nnadi. Ia menambahkan bahwa penelitian lebih lanjut sangat diperlukan untuk menguji keamanan melatonin bagi jantung.

Catatan Penting: Penelitian ini belum melalui proses peer-review atau diterbitkan dalam jurnal ilmiah resmi, sehingga hasilnya masih bersifat awal.

Batasan Penelitian dan Kontradiksi

Para ahli menyarankan agar masyarakat tidak langsung panik. Penelitian ini memiliki beberapa batasan signifikan, di antaranya:

  • Kurangnya Data Dosis: Peneliti tidak memiliki informasi detail mengenai dosis yang dikonsumsi partisipan.
  • Status Resep: Di beberapa negara seperti Inggris, melatonin memerlukan resep, sementara di Amerika Serikat dijual bebas. Hal ini memungkinkan ada kelompok kontrol yang sebenarnya mengonsumsi melatonin tanpa tercatat di resep medis.
  • Faktor Insomnia: Insomnia telah lama dikaitkan dengan risiko serangan jantung dan stroke. Gangguan ritme sirkadian dan kurang tidur merupakan faktor risiko masalah kardiovaskular.

Selain itu, temuan ini bertentangan dengan beberapa studi sebelumnya yang justru menunjukkan melatonin sebagai antioksidan dapat memberikan dampak positif bagi fungsi jantung pada pasien gagal jantung.

Melatonin adalah hormon yang diproduksi secara alami oleh kelenjar pineal di otak sebagai respons terhadap kegelapan. Namun, suplemen melatonin yang dijual di pasaran sering kali tidak melalui pengawasan ketat seperti obat-obatan medis, sehingga kandungan aktifnya bisa jauh lebih tinggi dari yang tertera di label.

Dr. Marie-Pierre St-Onge dari Columbia University Irving Medical Center menyarankan agar masyarakat berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan melatonin secara kronis. “Masyarakat harus sadar bahwa melatonin tidak boleh dikonsumsi secara kronis tanpa indikasi yang tepat,” tegasnya.

Sebagai alternatif, para ahli menyarankan perbaikan sleep hygiene atau kebersihan tidur, seperti:

  • Membatasi paparan cahaya dan penggunaan layar (gadget) sebelum tidur.
  • Menghindari konsumsi makanan berat dan alkohol beberapa jam sebelum tidur.
  • Memastikan kamar tidur dalam kondisi gelap, sejuk, dan tenang.

Jika Anda tetap memilih untuk menggunakan suplemen, para ahli merekomendasikan untuk mencari produk dengan label verifikasi dari lembaga independen guna memastikan kualitas dan keamanan bahan yang terkandung di dalamnya. (CNN/I-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *