
INDUSTRI otomotif Amerika Serikat (AS) kini tengah menghadapi realitas ekonomi yang pahit. Sekitar satu juta calon pembeli dilaporkan meninggalkan pasar mobil baru sejak awal dekade ini. Mereka diprediksi tidak akan kembali dalam waktu dekat. Fenomena ini menandai berakhirnya harapan para eksekutif otomotif akan pemulihan volume penjualan ke level sebelum pandemi.
Raksasa otomotif seperti General Motors (GM), Ford Motor, dan Toyota mulai menyesuaikan rencana bisnis mereka. Mereka memproyeksikan penjualan mobil baru akan menyusut atau stagnan tahun ini. Penyebab utamanya adalah konsumen yang mulai jengah dengan inflasi yang persisten, kenaikan harga bahan bakar akibat konflik di Iran, serta suku bunga tinggi yang melambungkan harga rata-rata mobil baru hingga menyentuh angka US$50.000 (sekitar Rp812,5 juta).
Fakta Kunci: Sebelum tahun 2020, warga Amerika membeli sekitar 17 juta kendaraan per tahun. Analis kini memperkirakan angka tersebut tidak akan tercapai lagi hingga akhir dekade ini, dengan proyeksi tahun ini hanya di bawah 16 juta unit.
Anomali Keuntungan di Tengah Penurunan Penjualan
Menariknya, meski volume penjualan stagnan, perusahaan seperti GM dan Ford tetap mencatatkan keuntungan yang solid. Hal ini terjadi karena produsen lebih memilih fokus menjual truk besar dan SUV mewah yang memiliki margin keuntungan jauh lebih tinggi dibandingkan mobil murah atau sedan.
“Saya tidak ingin mengatakan produsen mobil merasa baik-baik saja dengan level penjualan ini, tetapi kenyataannya memang demikian,” ujar Ivan Drury, analis otomotif dari Edmunds. Berbeda dengan masa lalu ketika produsen akan memangkas harga untuk mengejar pangsa pasar, saat ini mereka jauh lebih disiplin dalam menjaga harga tetap tinggi demi profitabilitas.
Dampak pada Konsumen: Mobil Tua Jadi Pilihan
Kondisi ini meninggalkan sedikit pilihan bagi konsumen kelas menengah. Harga mobil bekas pun ikut merangkak naik, memaksa banyak orang untuk mempertahankan kendaraan lama mereka lebih lama. Data dari S&P Global menunjukkan bahwa rata-rata usia mobil di jalanan AS kini mencapai 13 tahun, rekor tertinggi dalam sejarah.
Erik Severinson, Chief Commercial Officer Volvo, menyebut situasi ini sebagai ancaman nyata bagi seluruh industri. “Ini bukti ada sesuatu yang fundamental yang salah dalam ekonomi umum bahwa orang-orang tidak lagi mampu membeli mobil baru,” tegasnya.
Tantangan Biaya dan Kebijakan
Selain faktor pasar, produsen mobil juga harus menanggung beban biaya tambahan miliaran dolar akibat kebijakan tarif era Presiden Trump. Ford, misalnya, harus merogoh kocek tambahan hingga US$2 miliar untuk biaya tarif tahun lalu. Di sisi lain, investasi besar-besaran pada kendaraan listrik (EV) yang mulai dievaluasi ulang juga menambah beban neraca perusahaan.
| Produsen | Strategi Menghadapi Krisis |
|---|---|
| General Motors (GM) | Fokus pada truk/SUV mewah; investasi US$600 juta di unit Korea Selatan untuk model murah terbatas. |
| Ford | Menghapus lini sedan; menjanjikan pikap listrik murah seharga US$30.000 di masa depan. |
| Stellantis | Berencana meluncurkan tujuh model baru di bawah US$40.000 dalam beberapa tahun ke depan. |
Bagi konsumen seperti Sal Arevalo, seorang pegawai pemerintah di Los Angeles, realitas ini sangat memukul. Setelah melihat angka-angka di diler, ia memutuskan untuk membatalkan niat mengganti mobilnya.
“Kenyataan pahit telah tiba. Saya mungkin harus melakukan apa yang dilakukan orang lain: mempertahankan kendaraan saya selama mungkin,” pungkasnya. (WSJ/I-2)
