
Ketua Umum Indonesian Cancer Information and Support Center Association (CISC), Aryanthi Baramuli Putri, menyoroti tantangan baru yang dihadapi para penyintas kanker di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Di era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), masyarakat diminta untuk lebih selektif karena informasi yang beredar belum tentu akurat secara medis.
Dalam momentum ulang tahun CISC yang ke-23, Aryanthi menjelaskan bahwa transformasi digital membawa masalah baru bagi dunia kesehatan, khususnya kanker. Jika dahulu tantangan utama adalah mitos, kini bergeser berupa misinformasi, hoaks, atau berita bohong.
“Tapi yang kami lihat di era digital sekarang ternyata masalah mitos dan stigma itu masih ada. Kemudian disambung di era AI (Artificial Intelligence). Padahal AI belum tentu benar semuanya,” kata Aryanthi saat ditemui di Jakarta, Jumat (2/5).
Menurut Aryanthi, kanker adalah penyakit kompleks yang penanganannya sangat bergantung pada ketepatan informasi. Munculnya berbagai klaim kesehatan di internet seringkali membuat pasien bingung dalam membedakan antara informasi yang benar, salah, atau yang sudah teruji secara klinis.
“Ini adalah masalah ke depan. Sehingga diharapkan penyintas kanker bisa memilah informasi yang baik dan benar, karena kanker itu perlu sekali informasi yang tepat dan benar, serta berbasis bukti (evidence-based),” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa edukasi harus diperkuat untuk membentengi pasien dari informasi menyesatkan. Dahulu, edukasi difokuskan melawan mitos-mitos sosial, namun sekarang gelombang informasi dari AI menjadi tantangan baru yang harus dihadapi.
Berdasarkan data dari Globocan 2022 ada sekitar 408 ribu kasus baru per tahun dengan 242 ribu angka kematian menjadikan kanker daripada jumlah penyakit yang menyebabkan kematian dan juga terhadap beban pembiayaan di Indonesia.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Andi Saguni memaparkan penanganan kanker yakni mulai dari preventif, promotif, kuratif, rehabilitatif, hingga paliatif untuk kasus yang sudah mau terminal. Untuk kuratif atau pengobatan terkait dengan alat-alat diagnosis termasuk terapinya sudah disiapkan mencakup 514 kabupaten/kota.
“Kalau rumah sakit-rumah sakit di tingkat provinsi kita akan melengkapi dengan radioterapi LINAC (Linear Accelerator). Kemudian juga kedokteran nuklir untuk diagnosa dan terapi,” jelasnya kepada Media Indonesia.
Di samping itu juga alat-alat yang sampai di rumah sakit kabupaten/kota seperti imunohistokimia, kemudian alat-alat laboratorium terkait dengan diagnosis kanker juga sudah dipenuhi di banyak rumah sakit.
“Dengan demikian, sedini mungkin mengetahui penyakitnya dan juga memberikan terapi yang lebih cepat,” pungkasnya. (Iam)
