
KORBAN meninggal dunia dalam kecelakaan minibus dengan kereta api (KA) Argo Bromo Anggrek di antara Stasiun Panunggalan-Stasiun Kradenan, di Dusun Sugihan, Desa Tuko, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan bertambah hingga menjadi 5 orang.
Pemantauan Media Indonesia Sabtu (2/5) suasana duka menyelimuti warga Dusun Sidorejo, Desa Sidorejo, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan, karena salah satu warganya Indah Setiyawati (27), merupakan salah satu korban kecelakaan minibus dengan KA Argo Bromo Anggrek menyusul meninggal saat menjalani perawatan di rumah sakit.
Menyusul meninggalnya Indah Setiyawati (27), ibu rumah tangga yang merupakan salah seorang pengantar jemaah haji tersebut, berarti hingga saat ini jumlah korban kecelakaan minibus berplat nomor polisi K 1060 ZP dengan KU A Argo Bromo Anggrek tersebutbmenjadi 5 orang karena sebelumnya ada 4 meninggal dan 5 luka-luka.
“Benar tadi malam, satu korban kecelakaan tersebut bernama Indah Setyawati menyusul meninggal saat menjalani perawatan di rumah sakit,” kata Kepala Satuan Lalulintas Polres Grobogan AKP Kumala Enggar Anjarani Sabtu (2/5).
Korban Indah Setyawati, lanjut Kumala Enggar Anjarani, merupakan ibu dari balita SB (2) korban meninggal dalam kecelakaan yang sama, diketahui mengalami luka serius yakni luka tulang hidung patah, tulang clafikula kanan dan kiri patah, tulang rusuk ketiga sebelah kiri patah, punggung belakang robek, kepala hematum dan cedera kepala ringan.
Sebelum menyusul meninggal dunia, ungkap Kumala Enggar Anjarani, korban sempat dilarikan dan dirawat di RSUD Purwodadi, Kabupaten Grobogan, namun akibat luka serius yang dialami dan ketersediaan peralatan medis yang memadai, kemudian dirujuk ke sebuah rumah sakit swasta di Kota Semarang agar mendapatkan perawatan lebih intensif.
Namun baru beberapa jam dalam perawatan di rumah sakit swasta tersebut, demikian Kumala Enggar Anjarani, korban meninggal dunia hingga secara keseluruhan korban meninggal dalam kecelakaan minibus membawa rombongan pengantar jemaah haji dengan KA Argo Bromo Anggrek menjadi 5 orang dan luka-luka 4 orang
Tertutup Kabut
Sementara itu pengakuan Kardi (50), sopir minibus naas yang mengalami luka akibat tertabrak KA Argo Bromo Anggrek di perlintasan sebidang di Dusun Sugihan, Desa Tuko, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan tersebut mengatakan bahwa saat ini masih berduka karena salah seorang korban meninggal dunia pada kecelakaan tersebut adalah anaknya.
Meskipun dengan nada lirih, berdasarkan pengakuan kepada petugas kepolisian bahwa kecelakaan tersebut, terjadi karena jarak pandang yang terbatasvganta 10 meter akibat tertutup kabut saat melintas di perlintasan kereta api tersebut, sehingga tidak melihatcada kereta api yang akan melintas pada saat yang bersamaan.
“Saat itu kabut cukup tebal, mesin kendaraan yang mengangkut 9 orang tersebut juga dalam kondisi hidup dan tidak mati saat lintasi rel kereta api,” ujar Kardi.
Sopir minibus berplat nomor polisi K 1060 ZP, lanjut Kardi, melakukan perjalanan mengantar jemaah haji menuju ke Pendopo Kabupaten, Grobogan di Purwodadi bersama rombongan lain yakni dalam rangkaian 3 minibus dan 2 unit bus, namun kendaraan yang dikemudikan berada di urutan kedua melintasi rel tiba-tiba ada kereta api yang melintas.
Dalam kondisi berkabut dan pandangan hanya berjarak sekitar 10 meter, menurut Kardi, tetap melintasi rel kereta api, karena kendaraan di depannya yang berisi calon jemaah haji juga melintas dengan aman. “Dalam peristiwa itu agak saya juga ikut meninggal dunia dan saya sendiri selamat meskipun terluka,” imbuhnya. (AS)
