
DAMPAK perang di Timur Tengah kini mulai merambah ke rak-rak supermarket. Calbee, produsen camilan terbesar di Jepang, memberikan peringatan mengejutkan bahwa produk-produknya akan segera berganti kemasan dari warna-warni ikonik menjadi label hitam-putih pada akhir bulan ini.
Langkah drastis itu terpaksa diambil akibat kelangkaan bahan baku tinta yang dipicu oleh perang Iran. Krisis ini merupakan gangguan terbaru dalam rantai pasok global sejak penutupan jalur pelayaran Selat Hormuz pascaserangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari lalu.
Kelangkaan Nafta dan Dampak Industri
Perubahan kemasan Calbee disebabkan oleh sulitnya mendapatkan nafta, bahan baku tinta yang berasal dari minyak bumi. Jepang mengimpor sekitar 40% konsumsi nafta dari Timur Tengah melalui Selat Hormuz yang kini terblokade.
Menurut laporan New York Times, krisis nafta tidak hanya memukul industri makanan, tetapi juga merembet ke sektor lain seperti:
- Manufaktur otomotif.
- Industri cat dan perlengkapan kamar mandi.
- Produksi keripik kentang lain, seperti Yamayoshi Seika yang terpaksa menghentikan produksi varian Wasabeef karena kekurangan minyak berat untuk mesin pabrik.
Krisis Global: Di India, kelangkaan aluminium menyebabkan stok Diet Coke menipis, memicu fenomena Diet Coke parties yaitu minuman tersebut dijual dengan harga jauh di atas normal sebagai barang langka.
Ancaman terhadap Teknologi dan Pangan
Blokade Selat Hormuz juga menghentikan produksi helium di Qatar yang menyumbang sepertiga pasokan dunia. Hal ini mengancam operasional mesin MRI di rumah sakit serta manufaktur cip kecerdasan buatan (AI), smartphone, dan kendaraan listrik.
Selain itu, sektor pangan dunia terancam oleh terganggunya pengiriman nitrogen dan fosfat sebesar sepertiga dari total pasokan global. Para ahli memprediksi harga pangan akan melonjak tajam tahun depan akibat krisis pupuk global ini.
Situasi Ekonomi dan Sikap Politik
Di Amerika Serikat, harga rata-rata bahan bakar nasional telah mencapai US$4,50 per galon, naik signifikan dari US$3,14 pada tahun lalu. Inflasi yang melonjak membuat Presiden Donald Trump mengusulkan penangguhan pajak gas federal.
Namun, dalam pernyataan kontroversial, Trump menegaskan bahwa situasi finansial warga Amerika bukan menjadi motivasi utamanya dalam mencapai kesepakatan damai di Iran. “Saya tidak memikirkan situasi keuangan warga Amerika. Saya tidak memikirkan siapa pun,” ujarnya saat ditanya mengenai motivasi negosiasi.
Saat ini, dunia tengah memantau langkah AS selanjutnya, mengingat Trump menyebut gencatan senjata saat ini berada dalam kondisi kritis (massive life support) yang memicu kekhawatiran akan dimulai kembali operasi militer besar-besaran di Iran. (Forbes/I-2)
