
SELAMA ini, penelitian mengenai mikroplastik lebih banyak berfokus pada dampak kesehatan dan lingkungan. Namun, sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada Senin mengungkap fakta mengejutkan: partikel plastik yang melayang di udara ternyata berkontribusi langsung terhadap pemanasan global.
Efek “Kaos Hitam” di Langit
Para ilmuwan dari Tiongkok dan Amerika Serikat menemukan tumpukan sampah plastik di lautan, seperti Great Pacific Garbage Patch, melepaskan partikel mikro dan nano ke atmosfer akibat gesekan antar-sampah. Selain dari laut, partikel ini juga berasal dari tempat pembuangan sampah, debu jalanan, hingga ban kendaraan.
Penelitian ini menyoroti bahwa warna plastik memainkan peran krusial dalam menyerap panas. Plastik berwarna merah, kuning, biru, dan hitam ditemukan menyerap cahaya hingga 75 kali lebih banyak dibandingkan plastik bening.
“Plastik berwarna bertindak seperti kaos hitam; mereka menyerap panas,” ujar Hongbo Fu, penulis studi sekaligus ilmuwan atmosfer dari Universitas Fudan, Shanghai.
Kecil Namun Berbahaya
Ukuran partikel juga menjadi faktor penentu. Nanoplastik, yang ukurannya jauh lebih kecil dari helai rambut manusia, memiliki daya serap matahari yang lebih kuat dan mampu bertahan lebih lama di udara dibandingkan mikroplastik yang lebih besar.
“Nanoplastik itu kecil namun kuat. Mereka menetap di udara lebih lama dan, untuk massa yang sama, mereka menyerap jauh lebih banyak sinar matahari dibandingkan mikroplastik,” tambah Fu.
Studi ini mengestimasi dampak pemanasan dari mikroplastik dan nanoplastik mencapai sekitar 16% dari dampak karbon hitam atau jelaga, polutan udara yang sangat kuat. Di wilayah dengan konsentrasi sampah plastik tinggi seperti Pasifik, dampaknya bahkan bisa melampaui karbon hitam.
Tantangan Data Masa Depan
Meski hasil penelitian ini signifikan, beberapa ahli menekankan perlunya data yang lebih akurat mengenai jumlah pasti plastik di atmosfer. Drew Shindell, profesor ilmu bumi dari Duke University, menyatakan kemajuan besar dari laporan ini adalah kepastian hampir semua partikel tersebut memberikan efek pemanasan daripada pendinginan.
Zamin Kanji dari ETH Zürich menambahkan gambaran lengkap mengenai dampak iklim baru akan terlihat setelah ada data yang lebih kuat mengenai volume plastik di udara. Namun, para penulis studi menegaskan model iklim dunia saat ini perlu segera diperbarui untuk memasukkan faktor polusi plastik di atmosfer. (CNN/Z-2)
